
Undangan wisuda sudah terkirim ke rumah dengan dibawa adiknya Mas Ahmad. Yaa Allah disini sudah tertulis jadwal gladi bersih. Apa aku kuat Yaa Allah ?
"Assalamu'alaikum, Bu Yeti. Ini saya mau konsultasi. "
"Wa'alaikumussalam warrohmatullah, Ahmad. Gimana mau konsultasi apa ?"
"Bu, ini posisi istri teler berat. Makan baru beberapa kali suapan sudah keluar balik, bawaannya tidur, kalau lihat bantal nalurinya untuk tidur besar sekali. Adakah saran dari Ibu, karena mengingat Minggu depan sudah gladi bersih wisudanya."
"Alhamdulillah ikut seneng Ibu mendengarnya. "
"Alhamdulillah iya, Bu."
"Kemarin sudah diprediksi sama dosen Soelistyo, si Falya tidak bisa mengikuti wisuda karena kondisi badan ibu hamil yang tidak bersahabat."
"Iya, Bu. Mohon solusi dan kebijaksanaannya. Di satu sisi istri juga ingin mengikuti wisuda disatu sisi ia tidak yakin kuat menjalani prosesi."
"Ini istrimu dimana, Mad ?"
"Sedang tidur, Bu. Karena tadi habis muntah hebat. "
"Oh, Alhamdulillah. Semoga bayi dan mamanya selalu sehat ya, Ahmad."
"Aamiin yaa Robbal'alamin. Terus ini kira-kira bagaimana, Bu ?"
"Nanti pada saat rapat wisuda universitas, saya akan sampaikan ke rektorat. Semoga Bapak rektorat mempunyai kebijakan terbaik untuk si Falya. Kalau sekarang Ibu belum bisa memberikan solusi. Tunggu keputusan sidang wisuda universitas dulu, ya."
"Iya, Bu. Terima kasih atas bantuan Ibu."
"Sama-sama Ahmad, salam untuk Falya ya. Jadi kangen lihat nih anak ceria seperti dulu saat di kampus."
"Sekarang cerianya hilang Bu, teler berat."
"In Syaa Allah sabar, Bu."
"Alhamdulillah... Harus semangat, jangan lupa bersyukur dan berdoa untuk mereka ya."
"Iya, Bu. Saya akhiri dulu, telepon saya."
"Iya, Ahmad. Kalau sudah ada keputusan sidang wisuda rektorat Ibu akan informasikan ke kamu secepatnya."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak."
Mas Ahmad yang baru mengetahui kondisi istrinya hari ini gusar dan bimbang antara mengikuti wisuda atau membuat perwakilan untuk istrinya. Sebelumnya, ia hanya tau kondisi istrinya si Falya dari cerita Ibunya saja. Teler berat istrinya dimulai ketika bangun tidur pagi, saat makan nasi dan tidur panjang pada jam sembilan pagi menjelang sholat dluhur. Setelah makan siang, istrinya sudah terpejam kembali untuk tidur hingga menjelang Ashar. Tepat ketika Ahmad hendak pulang kantor.
Bahagia sih mas Ahmad, mendapati istrinya sedang hamil muda. Yang bikin repot kalau tiba-tiba minta sesuatu tidak ada dan harus bergerilya mencari yang dimaui istrinya tersebut. Kadang istrinya sampai nangis dan mudah sekali cemberut terus marah.
"Bumil...Ibu hamil. Perangaimu berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu kamu Falya yang tidak suka marah, jarang cemberut dan ceria. Sekarang, sedikit saja tidak terpenuhi keinginanmu sudah cemberutnya sampai langit ke tujuh." Kata Ahmad di ruang makan sedang bercakap dengan Bapak dan Ibu mertua.
"Ya begitulah, nak. Bawaan Ibu Hamil. Dulu hamil Kamu, Ibumu juga seperti itu."
"Ahh enggak juga, Pak. Paling banter ngidam mangga muda aja. Enggak sampai kayak kulakan buah, harus ready seperti si Falya."
"Kalau suka buah itu memang bawaan dari si Falya, Buk. "
"Kalau sedikit-sedikit sensi, cemberut dan cemburu, itu bawaan kamu. Iya kan mas Ahmad !" Sambung adik perempuan mas Ahmad yang pakai cadar, tiba-tiba ikut makan di ruang makan itu.
"Iya betul, Mas Ahmad. Kan suka cemburu sama istrinya. Kalau istrinya dekat sama teman cowok." Adik laki-lakinya yang jurusan ekonomi pun juga ikut menimpali.
"Wah kalian bersekongkol mau menjatuhkan, mas !"