
"Bismillah...kak. Boleh izin bertanya ?" tergetar hati ini sesaat setelah aku hendak melontarkan pertanyaan ini. Seketika ruangan seminar ricuh lagi dengan berbagai suwitan suwitan yang entah apalah itu tak tau.
"Boleh, dik. Silahkan." Kak Ahmad groginya setengah mati. Padahal lo sebelum seminar kita tertawa bersama. Kenapa mesti grogi. Aku saja bisa menguasai keadaan lo, kak. pikirku.
"Kak Ahmad, kenapa harus pakai dik. Keceplosan ya..."seru gerombolan Koma. Yaa Allah tuh kakak kelas maunya apa sih. Gini salah gitu salah melulu di matanya.
"Kak, judul skripsi kakak setelah kakak lakukan penanaman dan hasilnya seperti yang tertera dalam pembahasan. Judulnya Pengaruh Pupuk Organik Cair Kascing dan Interval Pemberian terhadap Tanaman Bawang Merah varietas A, B, C, D dan E. Betul ya kak judulnya seperti yang saya sampaikan ?" ku pertegas judul skripsi mas Ahmad.
"Iya betul." Nhah pada bagian ini aku tak berani menatap nanti yang ada aku tertangkap kamera netijen sedang grogi mania.
"Kalau boleh tau kak. Varietas A, B, C, D dan E itu varietas dari mana saja, ya ?"
"Baik saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari Falya. Varietas sample yang saya gunakan disini dari berbagai daerah. Varietas A Bima Brebes, B Pancasona, C Maja Cipanas, D Mentes dan E Trisula."
"Kira-kira ini berapa lama kak pengumpulan sample dari lima varietas bawang merah yang ada di Indonesia ini ?"
"Sample masing-masing varietas bawang merah yang saya jadikan bahan ini pengumpulan paling lama dua bulan."
"Adakah perbedaan untuk masing-masing varietas mulai dari sifat dominan yang mendasari lima varietas ini, kak. Kenapa bisa dipilih dan dijadikan sample yang tepat untuk menerima perlakuan di judul kakak ?"
"Pertanyaan yang diberikan ini yang saya tangkap mengacu pada kelebihan dari masing-masing varietas kenapa saya jadikan sample di skripsi saya, ya ?"
"Iya, kak. Betul." Sambil saya mengangguk dan disaksikan para dosen. Mereka berbisik, pertanyaannya simple tapi penuh dengan jebakan. Mas Ahmad yang dengan terampil membahas setiap pertanyaanku, tak menyiratkan segala kesusahan sama sekali.
"Jebakan apa lagi Pak Lis yang dilontarkan Falya?"
"Ini anak kritis sekali, Pak. Kalau di kelas memang dia lain dari yang lain. Kelihatannya saja dia tidak memperhatikan tapi otaknya yang berbicara dan menyimak setiap materi yang saya sampaikan."
"Dari kelima varietas ini menurut pembahasan kakak varietas... yang sangat responsif terhadap perlakuan skripsi kakak. Hal ini mengacu kepada apa, kak ?" Tampak Kak Ahmad terlihat sama sekali tak ada kesulitan yang berarti dengan pertanyaanku selanjutnya. Ia menjelaskan begitu runtut sesuai yang telah ia praktekkan di lahan.
"Jika interval yang mengacu pada perlakuan kakak seperti dalam pembahasan ini kak, sebab akibat jika diberikan interval tersebut terhadap varietas sample apa kak."
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Hingga jebakan Batman yang aku lontarkan bisa dengan mudah ia kalahkan dengan strategi Superhero pujaanku. Hihihi.... Alhamdulillah semangat selalu ya kak. Doa terbaik untukmu. Semoga Mas Ahmad bisa menyelesaikan tugas akhir sampai wisuda nanti.
"Falya....mana jebakan Batmanmu. Kok berhasil dikalahkan nih sama Superhero Ahmad."teriak netijen geram dengan pertanyaanku yang bisa dilahap habis oleh Mas Ahmad.
"Iya kan mereka sudah temenan. Jadi ndak mau musuhi satu sama lain. Orang sama-sama superhero."tangkisku ke netijen yang tak suka dengan Mas Ahmad menangkis setiap pertanyaanku. Memang sebenarnya aku buat mudah sih. Hanya bahasa dan kalimatnya yang kritis saja.
"Alhamdulillah, seminar akhir hari ini sudah terlaksana. Terima kasih yang sudah berkenan datang ke seminar saya. Untuk Bapak Dosen Alhamdulillah Terima kasih atas kehadiran dan bimbingan Bapak dosen sekalian. Kita akhiri dengan bacaan Hamdalah bersama-sama."
"Alhamdulillahi Robbil'alamin..." rasa syukur yang mereka ucapkan menyeruak secara bersama-sama di ruang seminar itu.
Para dosen memberikan ucapan selamat dengan menjabat tangan mas Ahmad dan mengingatkan untuk segera menyiapkan diri untuk ujian akhir pendaftaran Minggu depan. Kak Ahmad mengangguk dan mengiyakan pesan Bapak Ibu dosen tersebut.
Setelah Para Dosen berlalu, teman-teman pesertanya berduyun-duyun memberikan ucapan selamat dan berjabat tangan secara bergantian. Untuk aku dan teman-teman angkatanku segera meninggalkan ruangan itu tanpa berjabat tangan.
Karena kakak kelas dari lima puluh mahasiswa tampak mengerumuni keberadaan mas Ahmad. Mas Ahmad yang melirik pandang jauh ke tempat dudukku tadi sudah tidak bermanusia dan Mas Ahmad kehilangan jejakku. Lunglai dalam batinnya.
Mau mengejarku gimana caranya ia harus menerobos lima puluh orang yang melingkari tempatnya ia berdiri di sekitar podium seminar.
"Nanti sajalah aku akan menemuinya. Selepas teman-teman buyar." ucapnya dalam hati.
"Aku janji pada hatiku aku akan segera mengungkapkan isi hatiku dan melamarmu dengan keluargaku saat wisudaku nanti. Aku sudah tidak sabar menanti hari itu, Fal. Tapi jika kamu ingin menyelesaikan kuliah dulu tidak mengapa aku akan setia menunggumu." suara hati Ahmad berbicara dari hatinya.