A. N. S

A. N. S
Ahmad Nur Said (A.N.S)



Lanjut yuk kak kisah cintanya Kak Hartana dan Kak ANS. Author sampai lupa update status. hehhehee...


Minggu depan telah datang, dan hari kamis ini menanti sebuah perjalanan sidang akhir pendadaran Kak Ahmad. Nervous kelihatannya dianya. Tas ransel yang penuh dengan laporan praktikum, skripsi yang belum finish dan literatur-literatur pengamatan yang ia dapatkan.


Keringat dingin mengucur dari dahi kulit hitam manisnya. Entah mengapa saat ini ia tak bisa menyembunyikan kegusarannya. Gugup dengan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh empat dosen penguji.


Pandangan tajam yang ku tangkap dari kejauhan tatapan dingin di ruang sidang pendadaran itu oleh Kak Ahmad. Masih sepi, sedang menunggu dosen dengan formasi lengkap.


Sebait doa telah ia kumpulkan dan lantunkan dalam benaknya, Ia bergumam sambil melafadzkan doa tersebut seraya menarik napas agar dipermudah jalannya sidang skripsinya.


"Kak Ahmad, semangat ya. Rileks kak. Bismillah semoga ujian akhirnya diberikan kelancaran dan kemudahan. Selama kakak sudah menguasai materi In Syaa Allah mudah." Ku beranikan diri mendekat di jajaran teman-temannya yang mengelilingi dia. Ada kak Hartana tentunya pasti disamping Kak Ahmad. Menyebalkan batinku berkata.


"Iya, terima kasih banyak dik, atas supportnya. Makasih ya doanya." Alhamdulillah berkat azimat kata penyemangatku tadi, kelihatan banget Kak Ahmad jadi lebih rileks dan mengikuti jalannya waktu sambil menunggu para dosen.


"Falya,,"teriak Kak Hartana.


"Kamu mau tau ANS yang selama ini menyukai kamu itu siapa ?" lanjut Kak Hartana. Kak Ahmad mencoba mencegah mengatakan hal itu dengan meraih pundak Kak Hartana.


"Siapa Kak A.N.S itu ?" tanyaku lantang. Karena aku merasa sebel banget tuh sama kakak kelas satu ini, yang juga akan seminar pendadaran Minggu depan.


"Sudah Har,,,,Ndak usah. Biar saja berlalunya waktu, yang akan menjawabnya." cegah Kak Ahmad.


"Maksudnya apa ya.....???" tanyaku.


Memang dosen Lis banyak yang takut karena beliau dosen pengampu yang paling tegas. Aku saja kagum sama beliau. Beliau baik banget apalagi dengan mahasiswa mahasiswi yang aktif.


"Tidak pak, hanya lewat depan ruangan ini saja. Dan Kak Hartana memanggil saya." Tak mungkin aku bilang memberi semangat, entar pasti dikirain pacaran lagi..... huuuuffff sungguh tak enak ya kalau satu kampus ceweknya cuma dikit. Bisa jadi bully-bullyan cowok.


"Atau mau kasih semangat untuk Ahmad Nur Said, Er ?"


"Maksud Pak Lis,...?" ternganga aku dibuat pernyataan yang disampaikan Pak Lis.


"Lhoh kamu belum tau, Er. Ahmad ini mahasiswa terpandai di kelas saya. Dia asisten dosen untuk mata kuliah saya. Sini Pak Lis kenalin sama kamu, soalnya kemarin Pak Lis dan dosen lainnya lihat waktu Ahmad Seminar akhir kamu banyak membantu." Lohhh....bentar...bentar....kak Ahmad itu si Ahmad Nur Said. saya kok jadi bingung.....


Jadi selama ini......


Hahhhhh ..... makin bingung aja nih kepala..... kenapa kok Ndak bilang kamu itu Ahmad Nur Said alias Kak Ahmad. Ahhh entahlah...... males aku bahasnya.


"Berhubung tiga dosen sudah lengkap formasinya kita mulai saja Ahmad ujian pendadaran kamu. Falya mau masuk buat bantuin Ahmad Nur Said lagi ?"


yang dibicarakan cuma tersenyum sambil berlalu dari hadapan kita.


"Endak Pak Lis, bisa-bisa saya yang ndak bisa keluar dari ruangan ini karena disibukkan dengan pertanyaan para dosen." senyum Dosen Lis mengembang dan segera memasuki ruangan sidang akhir Kak Ahmad Nur Said itu.