A. N. S

A. N. S
Konsultasi Bab I sampai III



" Tilulit..tilulit..kringg... Assalamu'alaikum Bu. Mau konsultasi skripsi bagian satu. Ibu nanti datang ke kampus ?" sapa hangatku dari telepon rumah.


"Wa'alaikumussalam warrohmatullah. Ini Falya, ya ?" jawab Ibu dosen pembimbingku. Yang hapal sangat dengan suaraku.


" Iya, Bu. Ini saya. He"


"Iya, nanti jam 08.00 saya sudah di kampus. Tapi saya ngajar les pemuliaan tanaman semester lima dulu. Ndak papa ya, Fal. In Syaa Allah kamu bisa menemui saya di jam 10.00. Nanti kesini sama Ahmad kan ya ?"


"Iya, Bu. Diantar suami."


"Iya, Alhamdulillah. Rukun selalu ya nak... Nanti Ahmad suruh menghadap sekalian. Saya pingin ngobrol."


"Iya, Bu. Nanti saya sampaikan ke mas Ahmad. Terima kasih banyak, Bu. "


"Iya, sama-sama... Hati-hati di jalan."


"Iya, Bu. Terima kasih atas perhatian dari Ibu untuk kami."


...----------------...


" Bu Yeti datang ke kampus, mas. Mas, kerja dulu aja ndak papa. Kan hari ini ada kunjungan ke sawah petani. Bu Yeti tadi pesan kalau beliau juga ingin bertemu mas."


"Iya sudah kalau gitu. Mas ke lahan dulu. Nanti konsultasi jam berapa ? Biar aku bisa mengira-ngira berangkat dari sini jam berapa."


"Jam 10.00 kita ketemu dosen, Mas."


"Baiklah, mas ke lahan dulu ya. Bantuin Bapak nyiapin ground buat nebar pupuk petani." Aku mengangguk dan mas Ahmad sembari mencium kening dan pipiku.


Memang tadi pagi Bapak mertua bicara sudah mengumpulkan petani untuk diajak memperagakan pesawat ground penebar pestisida. Petani sangat antusias dan sampai rela dapat nomor antrian berapapun.


Mas Ahmad baru cerita panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua dikalikan phi dengan hasilnya luas per lahan untuk ditanami calon cabai buat skripsiku nanti. Jenius sekali nih punya suami seperti ini.


Pantesan aja dulu berani melamarku saat aku masih duduk di semester enam. Dengan gagah berani ia maju ke Bapak, Ibu dan keluargaku. Ternyata dia sudah punya modal pekerjaan dan gaji dari tempat ia kerja. Aku melongo sambil memperhatikan dia ngomong dari tadi.


"Oiya benih yang ditanam sudah dikirim kan kemarin dik ?"


"Oiya sudah, mas. Lupa belum saya buka." aku ambil amplop coklat dari atas lemari aku serahkan ke dia.


"Ini mas." ia kemudian membuka amplop coklat itu dan mengambil 1 amplop benih.


"Itu benih cabai jantan mas. Nanti penyemaian nya tolong dikasih tanda ya mas. Jangan sama. Nanti kita mainnya di treatment itu."


"Iya, siyap. Nanti aku kasih ke ibu-ibu petani biar diawasi Ibuk selama kita ke kampus."


"Iya mas, terima kasih banyak ya mas. Dah mbantuin aku. Maaf mas jadi skripsi kedua kali deh..."


"Hehhhm.... Enggak apa-apa sayang. Demi istri tercinta yang selalu membuat aku cemburu. Dan hanya ini yang bisa mas lakuin ke kamu. Istri kesayanganku. Biar nanti kita bisa cepet punya anak."


"Lhah...apa hubungannya???"


"PR kamu itu !!!" sambil tersenyum-senyum melihat aku yang sedang bingung.


"Ahhh entahlah aku gak tau jawabnya. Aku masih kecil, tangan kananku belum sampai ke telinga kiri nih !" sambil aku menunjukkan ekspresiku. Ia semakin tertawa lebar.


"Mas, pergi dulu, dik. Masih jam 06.30. Kamu pelajari dulu bahan konsultasinya." Mas Ahmad segera berlalu dari hadapanku dan menghampiri kantor ibu kerja alias di dapur membereskan piring yang dipakai Bapak makan pagi.


Mas Ahmad bicara sama Ibuk dan menyerahkan amplop benih. Ibu menerima amplop dan penjelasan yang aku utarakan ke mas Ahmad tadi.


Masyaa Allah keluarga ini sangat meringankan bebanku. Mereka tak membiarkan aku sendiri menangani lahan dan menyemai benih. Entah aku harus membalas mereka dengan apa, Yaa Allah...


Aku segera meraih tiap lembar hasil print out bab demi bab yang sudah tertata rapih di meja kamar. Aku baca dan resapi setiap materi, subhanallah tidak ada yang kurang satupun literatur dan cara penulisan bahan skripsinya.


Kamu memang cerdas, mas. Tak salah kamu dipuji dan disayangi semua dosen. Dikenal sebagai mahasiswa terpandai hingga didaulat mahasiswa terpandai saat wisuda kemarin.


Beruntung punya suami seperti kamu, hatiku bergumam tidak salah aku menjatuhkan pilihan hatiku ke kamu. Masyaa Allah...


Bab satu, dua kemudian tiga. Masyaa Allah sudah sampai bab tiga ??? Aku berdecak kagum. Padahal tadi malam aku tertidur di samping tangan kirinya yang sedang memegang literatur. Aku tak sadar mataku sudah mengorok dan kamu sesekali membelai rambutku dan mengecup keningku. Aku ingat bagian itu, tapi aku tak ingat mengerjakan skripsiku sendiri.


Huft....betapa bodohnya aku. Tuh lihat, suami jadi tau aku bego. Baru sedikit baca buku sudah tewas ditelan rasa kantuk yang tak tertahankan. Salahnya siapa.. Ya salahnya kamu. Siapa suruh kamu ngajakin... Akhirnya aku kau buat capek kepalang tanggung. Hmmm....


Walaupun gitu gak baik juga Ding nolak maunya suami. Takut dosa. Beruntung dia pengertian dan mau bantu ngerjain skripsiku. Alhamdulillah berarti aku bisa ambil skripsi cepat. Habis konsultasi bisa lanjut seminar awal, kemudian penanaman benih di lahan. Alhamdulillah terima kasih Yaa Allah.


Semoga Engkau memudahkan rencananya Yaa Robb. Tapi aku masih bingung dengan perkataan PR buatku barusan.


Emang ada hubungan skripsi dan cepat punya anak ? Ahhh benar benar aku dibuat bingung. Nanti siang saja pas perjalanan ke Kampus aku perjelas lagi. Semoga kamu mau ku tanyain.