
Setelah hampir menunggu persemaian benih cabai sekitar dua sampai tiga Minggu, akhirnya bibit cabai keriting sudah siap dipindahkan di lahan bedengan. Dengan jarak antar bedengan setengah meter, jarak antar tanaman satu dengan lainnya adalah enam puluh kali tujuh puluh, itu jarak tanam optimal.
Setiap bedeng cabai terdapat dua puluh tanaman dimana ada lima sampel yang dijadikan obyek penelitian. Dan dilahan berluaskan Persegi panjang itu terdapat tiga puluh enam bedeng. Setiap bedeng dengan lima sampel diamati setiap harinya, mulai dari tinggi tanaman, lebar daun, tinggi anak cabang, luas daun, tumbuh bunga pertama, warna ketiak daun, warna daun, warna batang daun dan banyak cabang. Itu pengamatan secara umum.
Terasa menjemukan memang, panas, dahaga bawaan laper melulu. Pertama di lahan memang beda gak kayak piknik di sabana stepa atau Sahara. Walaupun rada-rada nisbi anginnya ya. Tapi ya itulah meskipun cewek ya harus turun ke lahan. Mengamati tiap sampel tanaman. Yang nantinya ini jadi penelitian yang harus diteliti.
Sedangkan dalam treatment aku, aku mengamatinya dari masing-masing sampel bunga jantan dan bunga-bunga betina. Setiap pagi muncul kuncup cabai aku silangkan dengan kuncup bunga jantan yang ku petik kemarin sore. Kemudian aku bungkus dengan kertas selfing. Tak luput pula dengan Pengamatan pertumbuhan dari masing-masing pohon cabai itu.
Tanaman cabai yang sudah bertambah tinggi kira-kira enam puluh sentimeter ke atas, harus diamati setiap hari, dilakukan penyiangan untuk semua parameter di tiga puluh bedeng. Luarrr binasahhhhh banget ya itu. Itu worth it bangetttttttttt gumamku. Ayoooo pasti bisa.
Bismillah.... Meski cewek pertanian tak kenal lelah pantang putus asa dan pantang menangis. Hitam tidak jadi masalah ada lulur. Tapi memunculkan hasil kulit alami yang signifikan yaitu kulit tanganku jadi hitam..... Aoooooooo...
"Hai sayang, capeknya yang dari lahan sampai lupa nih suaminya sudah pulang. Yuhhh gosong deh mukanya jadi gak cantik lagi."
"Lohh ..tadi sebelum ke lahan sudah saya siyapkan sayur dan lauknya, tuh mas. Jadi makannya Ndak perlu nungguin aku segala lah."
"Iya sudah aku makan. Kamu kelihatan tambah item."
"Biarin...."
"Segera mandi dan istirahat. Nanti aku temenin ke lahan. Tuh loohhh bau keringat kecut banget!"
"Iya.... Sadis Ahmad sih..." malah cengengesan. Biasanya kalau disuruh mandi kayak gini ada semi-seminya apa gitu. Firasatku. Semoga tidak. Apa gak bayangin apa begitu capeknya. Ngukur sampel tanaman.
Dari posisi jongkok setengah rukuk berdiri jongkok lagi seperti pemandu sorak gembira merdeka raya. Jinjit kanan jinjit kiri horre horre horreww....
Tiap hari kita ke lahan. Mas Ahmad juga membantu mengamati setiap pagi sebelum berangkat kerja. Membantu mengukur tanaman sampel hingga selepas dia jam 07.00 sudah selesai bagian bantu membantu aku mengukur pertumbuhan tanaman. Sedang aku hanya bagian selfing tanaman dan mengamati yang dibutuhkan dalam treatment itu.
"Sayang,,,"
"Apa, mas ?"
"Kamu selain mengamati pertumbuhan tanaman kamu, jangan lupa mengamati pertumbuhan kamu juga ya."
Sambil melirik....
"Pertumbuhanku, maksudnya mas....apa nihhh.... Hahhh tau....tau...paham betul dah..."
"Heiii pasti arahnya kesitu deh..."sambil nyolek pipi.
"Alah entahlah mas. Males aku. Kamunya nyebelin atau aku yang sebel. Dah tau di lahan berat nih....nggrecokin terus."
"Iya, ya aku bantuin leb ngaliri sawah. "
Jangankan mengairi sawah di setiap bedeng, aku bisa sendiri kok. Tinggal ngalirkan air dan dibantu bumer alias ibu mertua mengairi lahan. Capek juga ya jadi petani. Tapi seneng, disini aku tidak sendiri banyak orang termasuk petaninya bapak yang membantu contoh dalam pemupukan, penyiangan tanaman, pemeliharaan tanaman dari hama dan penyakit tanaman.
Tapi ya itu,,, nyebelin tuh si Ahmad.... Mbokyo gantiin aku gitu deh pekerjaanku semua. Biar aku enjoy. Kayak gini kok suruh jangan lupa mengamati pertumbuhanku. Ihhh amit-amit...
Suka Ndak suka ya terserah mas. Aku capek pingin nangis. Sebentar lagi bunga cabai muncul bermekaran, hasil selfingnya semoga berhasil. Sudah Ndak sabar masuk team asisten Breeder. Hahh melamun...