
"Falya....ada telepon dari temanmu." teriak Kak Evi pemilik kos ini yang memanggil kalau ada telepon. Di jaman itu baru masuk telepon rumah saja belum ada Handphone. Kalau ada handphone bagi anak-anak yang dibilang tajir melintir aja. Karena Saat itu harga Handphone terbilang mahal.
"Iya kak. Segera aku turun dari kamar kos ku yang berada di lantai dua kos itu.
"Halo, Fal.."
"Iya, kak." Lamat-lamat ku dengar ini suara kak Agus di seberang sana.
"Fal, nanti aku jemput kamu habis sholat Isya' ya. Aku tunggu di ruang tamu bawah. Kamu makan dulu gih..."
"Sudah, tadi sore sama Yeyen. Ini habis tilawah menunggu adzan Isya' kak."
"Okay, Fal. Makasih ya..."
"Sama-sama." sambil aku menutup gagang telpon itu pelan-pelan dan berlalu menuju kamar.
...****************...
" Falya ada telpon ?" baru saja turun tangga ada bunyi nyaring kak Evi memanggilku.
"Iya, kak Evi. Bentar ya Kak Agus." sembari aku izin kak Agus yang sudah menungguku sementara waktu. Lalu Kak Agus mengobrol dengan Kak Evi. Kak Evi ini semester lettingnya Kak Ahmad di fakultas Ekonomi. Jadi nama dia begitu familiar di kalangan mahasiswa Kampus kita.
"Halo, Assalamu'alaikum ?"
"Dik kamu mau kemana ? Firasat kakak ndak enak. Kakak ke kos kamu ya. Sekarang." sejurus ternyata Mas Mario yang telepon.
"Ehm...boleh jujur apa bohong nih ?"
"Ya jujur dong. Sejak kapan adik berani mbohongin Mas ?"
"Anuu..." belum sempat memberi jawaban sudah diserobot aja nih Mas. Apa mungkin Mas tau ya kalau aku mau diajak keluar sama cowok. Batin Mas Mario begitu kuat banget sih. Sampai hal sekecil gini dia tumus.
"Iya sabar dong mas. Anu, adik mau diajak pergi ke kampus sama cowok teknik sipil namanya Agus, tapi hanya untuk nggambar aja, Mas."
"ENDAK BOLEH...!!!! MAS NDAK NGIJININ !!!" tanpa basa-basi mas tidak mengiyakan ajakan Agus kepadaku.
"Oh iya, Mas. "
"Iya, mas. Nanti saya cancel. "
"Iya. inget pesen mas, ya. Jaga diri baik-baik."
"Iya, mas. Baik, komandan." Baru aja ku tutup telponnya sudah ada panggilan berdering dari telponnya mbak Evi.
Kringgggggg.....
" Halo, Assalamu'alaikum, iya iya mas, saya ndak pergi sama Agus. Saya balik ke kamar. Belajar. Mas jadi kesini ?" hehhh....uppss....aku ini kenapa menjawab telpon yang tak ku kenal ya..Aku mengira itu masku yang telpon. Dan ternyata bukan.... hihihi ingin ku berlari memanggil kak Evi.
"Wa'alaikumussalam warrohmatullah. Evi, bisa bicara dengan Falya ?" hah siapa nihhhhh....daun telingaku, ku dekatkan di gagang telepon itu erat-erat.
"Iya, kak. Saya sendiri. Maaf ini siapa ya ?"
"Saya Ahmad."
"Hah, Kak Ahmad. Maaf kak....aku kira ini kakak saya yang telepon barusan. Soalnya tadi saya matiin, saya pikir ia telpon lagi. Duhhh jadi malu..... Duhh jadi ketahuan...." Merasa malu dan tak bisa ku sembunyikan perasaan ini.
"Ehm saya tutup teleponnya ya kak."
"Kenapa, malu ???? Dah nyante aja lah, Falya. Mau pergi sama Agus ke studio ?"
"Enggak jadi. Dimarahi sama Mas."
"Iya, memang benernya demikian !" begitu terharu kak Ahmad dengan kakaknya saya. Seneng karena pujaan hatinya tidak pergi dengan sembarang cowok.
"Iya, kok seolah-olah sama-sama menghakimiku ya ? Iya....iya...aku tidak jadi pergi. Kalian berdua sama-sama cowok nyebelin sukanya menghakimin anak gadis. Dua lawan satu....gak adil....!!!" gerutuku.
"Endak menghakimi, Fal. Kakak kamu benar melindungi adiknya walaupun kakak kamu Ndak berada dekat sama kamu. Kakak kamu pasti lah punya sedikit kekhawatiran pada adik ceweknya. Jangan-jangan nanti diterkam Harimau di luar sana. hahahhaha..." sambil ia tertawa lepas.
Aku juga ikut tertawa. Dan begitu pun kak Ahmad. Tertawa kami yang renyah menambah kedekatan kita. Dan kak Ahmad jadi tambah Yaqin dengan pilihannya padaku.
Selepas aku telfon. Aku segera meminta maaf pada kak Agus, karena tak bisa menemaninya di studio.