A. N. S

A. N. S
Perubahan Hormon Yang Signifikan



"Assalamualaikum warohmatullah..."


"Wa'alaikummusalam warohmatullah, eh mantu Bapak sudah pulang."


"Gimana, nak. Ujian pendadarannya ?" Sambut Ibu dan Bapak mertua yang sudah menunggu di depan pintu rumah.


"Alhamdulillah Buk, Bapak semua lancar. Terima kasih doa, semangatnya dan sarapannya. "


"Ada-ada saja kamu. Bukannya kamu tadi sudah makan lagi plus rujak buah yang banyak, dik !" Gurau mas Ahmad.


"Ssttt ....rujaknya jangan dibilangin !" Sambil ku tutupkan jari telunjukku di depan mulutnya.


"Lhoh ...habis makan langsung makan rujak. Apa perutnya muat, nak ?" Sambil ibu menyiapkan makanan untuk Bapak dan kita berdua.


"Kamu kelihatan pucat, nak ? Apa kamu sakit ?" Kata Bapak menimpali sembari makan kerupuk udang di ruang makan. Mas Ahmad yang bawa hasil skripsi dengan ranselnya menyimpannya di kamar. Kemudian ikut bergabung di meja makan, tak lama menyusulku mencuci tangan di wastafel.


"Saya Ndak kenapa-kenapa Buk, Pak. Hanya saja akhir-akhir ini sering merasa capek, suka ngantuk, lemes, berasa lapar padahal sudah makan, pingin maem buah atau rujak terus, suka keringetan dan napas sering tersengal-sengal."


"Mungkin kebawa capek di lahan kemarin pas tanam." Bapak memprediksi seperti itu.


"Bisa jadi." Ibu menimpali perkataan Bapak.


"Suka mual enggak ?" Ibuk balik bertanya kembali.


"Tidak, Buk." Jawabku. Emang kenapa...kalau aku mual. Ahhh nanti telfon Ibuku sendiri saja. Aku sangat kangen banget selama skripsi aku Ndak pernah pulang. Terbersit aku ingin pulang ke rumah Ngawi untuk melepas kangen. Dan saat sekarang kalau aku pingin sesuatu harus terealisasi, daripada marah uring-uringan.


"Mas Ahmad, besok kan ke Solo, setelah selesai minta tanda tangan dan urusan selesai, boleh enggak aku minta izin pulang ke Ngawi. Aku kangen banget sama Ibuku. Misal Mas Ndak bisa nganter, aku pulang sendiri Ndak papa. Kan sudah bolos dua hari jenengan, mas. Boleh yaaaa.....!!!!" Merajuk sambil berkaca-kaca hendak menangis. Hehhh ada apa aku ini cengeng banget.


"Kok mau nangis...!"


"Lhoh....mantu Bapak yang kemarin mana, Ndak kayak gini ?" Aku mendengarnya juga kaget. Perubahan hormonku cukup jelas terlihat. Kadang baik kadang esmosiku tinggi kadang aku suka mellow kayak gini.


"Apa kamu hamil, nak ?" Tanya Ibu. "Coba berdiri, Ibu pingin lihat perubahan badanmu !" Aku menurut saja dengan perintah Ibu. Masak iya aku hamil ? Whahhhh .......???!!!!!!!!! Bingung entahlah....!!!!????


"Alhamdulillah kalau ini benar ! Nanti segera periksa ke bidan Onny ya, nak. Ahmad nanti istrimu diantar periksa, ya !"


"Enggih, buk." (Iya, buk). Masak iya sudah berhasil. Padahal baru sekali kemarin habis ujian seminar hasil. Berarti saat itu istriku pas masa subur, pikirnya. Alhamdulillah ia bergumam dan istrinya pasti Ndak akan meninggalkannya untuk pergi bekerja disana.


"Apa yang Ibuk lihat ?" Tanya Mas Ahmad kepo. Ia juga mengamati perubahan badan istrinya.


"Ndak ada yang aneh menurutku, Buk !" Keponya jadi terus-terusan.


"Itu menurut kacamatamu. Kacamata seorang Ibu beda." Ibu melihat perubahan payudara dan panggulku.


"Saya Ndak kenapa-kenapa, Buk. Nanti saja periksanya. Ayo kita makan saja, ini dibahas nanti."


"Lhoh kamu sudah lapar lagi ?" Kata mas Ahmad sembari menggaruk kepala. Padahal perjalanan Klaten dari tempat makan hanya menempuh waktu dua puluh lima menit saja. Herannn aku...


"Iya, tapi aku hanya menemanimu makan saja. Kalau Ndak boleh makan."


"Heh....kamu ini apaan sih, Mad. Istri maunya makan malah diejek. Ayo nak makan, temenin makan Bapak dan Ibuk." Jawab Bapak.


"Iya, Bapak." Sambil aku melet menggoda mas Ahmad. Merasa diberi hati sama ibuk dan Bapak. Seperti berada di rumah sendiri. Kasih sayang mereka tidak berbeda dan sama persis dengan kasih sayang Bapak ibuku di rumah Ngawi. Terima kasih banyak Ibuk dan Bapak Klaten.


"Nih yang anaknya Ibuk sama Bapak, kamu atau aku sih."