
" Dik, kamu sudah menyusun skripsi kamu ? Mau mas bantuin ? In Syaa Allah kalau itu hubungannya sama Pemuliaan Tanaman mas bisa bantu !"
"Sudah mas, Bab satu. Alhamdulillah kalau dibantu jadi gak ngerasa skripsi sendiri. Tapi nanti ndak minta tanda terima kasih kan ?" aku sudah bergidik ngebayangin. Bisa-bisa mandi besar melulu Lhah...
"Minta apa ?"
"Itu Lo.. Yang sering mas minta kalau sudah selesai mbantuin aku !"
"Oh itu. Terserah kamu mau ngasih enggak. Mas ikhlas kok mbantuin kamu. Nih yang pikirannya aneh kamu nihhh..." sambil mas Ahmad membelai kepalaku yang sejak tadi aku mengetik Bab I.
"Apa literaturnya sudah ada ?"
"Sudah mas, kemarin dulu kala sudah nyari di perpus. Hehehe .."
"Sini mas aja yang ngerjain, kamu tinggal nemanin sambil ngarahin bagian mana yang harus ditulis." Mas Ahmad menggeser duduknya berpindah ke kursi tempat aku duduk tadi dengan menghadap ke komputer. Aku pindah di tempat duduknya.
"Kok kursi tempat kamu duduki, panas ya ? Nih tanda-tanda..."
"Tanda-tanda apa ? Ya kan dudukku sudah satu jam an disitu, mas ?"
"Tanda-tanda banyak anak."
"Astaghfirullah hemmm...."sambil aku melambaikan tanganku ke pipinya untuk mencubit. Dan dia menciumku seketika.
"Hoppp...stop...jangan kebablasan nanti itu Ndak selesai..." aku merengek. Yang punya bibir langsung melengos ke layar komputer.
" Kalau kamu capek, istirahat aja. Biar mas kerjakan. Kamu kan capek...hihihi ..!" sambil menggoda.
"Enggak. Aku disini saja, ntar mas ikut ngantuk malah Ndak jadi. Aku pingin cepat selesai mas skripsinya. Seminar awal tanam terus pembahasan kemudian pendadaran, wisuda."
"Enggak bakal sakit. Tenang saja. Ada perawat handal yang siap siaga dua puluh empat jam." sambil ku rangkul pundaknya dan ku rebahkan kepalaku.
Habis isya' sampai pukul sebelas malam, Alhamdulillah Bab satu sampai tiga sudah selesai. Gak sengaja aku tertidur di meja dengan model menelungkup di atas dua tanganku.
Sesekali mas Ahmad membelai rambutku dan mengelus punggungku, menambah nyenyak tidurku. Ia hanya membiarkan aku tertidur.
Setelah selesai, ia menyimpan data, mengeprint pekerjaannya tadi, agar besok ketika aku ke kampus konsultasi dosen tidak kesulitan. Sungguh suami yang bertanggung jawab, dan ku tau dia sayang banget sama aku, tapi ya itulah cemburunya kelewat batas finish.
Setelah mematikan komputer dan printer, serta lampu besar ia membopongku, mengangkat tubuhku ke ranjang. Ringanlah pastinya, aku sama dia lebih gendutan sana. Jadi kayak ngangkat karung beras dengan bobot setengah sak beras. Mak nyingggg....
Dibobokkan aku di ranjang dibelai rambutku kembali, cium pipi dan kening. Ia tarik selimut dan menyelimutkan padaku, kemudian mematikan lampu kamar dan ikut menyusul tidur disampingku.
Sebelum tahajud tiba, tangan kami sudah bergandengan. Ia sudah mencium keningku.
"Ayo mas, bangun. Sholat tahajud."
"Iya, sayang. Tapi ada yang mau ikut tahajud tuh. Gimana boleh enggak?"
"Iya boleh. "
"Makasih, sayang !" Akhirnya finish dan ia berbaring lelah sebentar. Kemudian dia menyalakan lampu kamar mandi untuk aku mandi dulu setelah itu baru dia.
Kami tahajud jama'ah hingga menunggu waktu sholat shubuh. Ia mengajak aku ke masjid sebelah rumahnya.
Selesai jama'ah kita tilawah bersama sesuai bacaan surat Al Qur'an masing-masing.
#bahagianya kalau mempunyai imam like ANS.