
"Mas, ibu dan Bapak Ngawi nanti datang enggak ? Sudah dihubungi belum ? Gak enak kalau aku wisuda Bapak dan ibu aku gak datang. "
"Uluh..uluh....istri mas ngalem banget inih. Kan ada mas yang jagain kamu dua puluh empat jam penuh." Aku sambil merapikan kemeja yang dipakai mas Ahmad penuh dengan cemberut panjang.
" Ada enggak ?"
"Lohhh merengek istriku. Sudah sayang. Kemarin Ibu sudah aku telepon. Katanya mau datang sama Bapak dan mas Mario. Sudah ku pesankan undangan wisuda VIP."
"Alhamdulillah terima kasih, mas. Mas Ahmad memang suami yang ngertiin aku banget."
"Iya lah.... Buat istri tersayang apapun akan mas lakuin untuk kamu."
"Habis berapa mas untuk undangan VIP nya ? Nanti aku ganti."
"Ndak usah diganti. Aku mau nya diganti dengan yang lain."
"Mau diganti dengan apa ?"
"Besok saja kalau sudah selesai wisudanya. "
"Siyap suamiku tukang gombal."
"Gombal gimana sayang ?"
"Hahhh...iya gombal. kemarin aku minta mangga madu tua di pohon aja Ndak dibeliin."
"Lha ya belum ketemu Lo....dik. Nanti mas cariin, janji pokoknya...."
"Awas kalau bohong. "
"Iya....sayangku, cintaku. Jangan ngelirik kesana kemari ya nanti. Mentang-mentang cantik aja....ntar tebar pesona lagi."
"Astaghfirullahhal'adzim mas, Yaa Allah. Segitunya kamu sama aku. Ya kalau masih ada yang mau why not ?"
"Ndak tak gantiin Lo nanti posisimu..."
"In Syaa Allah kuat mas, kan ada Gendut. Jadi tenang aja deh. Oh iya kayaknya ada Andri dan Agus juga, yang anak sipil itu masih ingat enggak mas ?"
"Wah... jangan maksain diri deh, yang. Nanti kalau endak kuat segera bilang. Mas pokoknya siaga penuh."
"Wah...menahan cemburu nih kayaknya."
"Aku menyayangimu, mas. "
"Cuma sayang,,,?"
"Kalau cinta itu terlalu berlebihan, mas. Cintaku hanya sama Allah SWT. "
"O iya bener. Jadi pingin segera sore ...terus pulang...minta yang buat ganti undangan VIP itu !"
"Terus mau ngapain...."
"Mau nyium adik bayi. "
"Ahhh....jangan bikin moodku hilang dan sindrom bumil keluar."
"Sudah siyap semua, mas. Berangkat jam berapa kita mas ?" Tanya dik Nissa tiba-tiba mengalihkan perhatian mas Ahmad.
"Iya, sebentar lagi nunggu dik Fauzan menyiapkan mobil. Apa Ibu dan Bapak sudah siyap, dik ?"
"Sudah dari tadi mas. Awas toganya kak Falya jangan lupa. Kak Falya jangan pakai sepatu sendal hak tinggi ya. Pakai yang biasa aja. Gak baik buat ibu hamil."
"Tenang, mas...sudah siyapkan sepatunya, dik. Jadi bumilnya Ndak bisa ngeyel."
"Main keroyokan nih ceritanya. Pakai sepatu kets aja apa Ndak bisa ya ?" Gerutuku.
Tiba-tiba entah dari mana bibir itu langsung menyambar bibirku. Uppsss....dia kena lipstik aku. Spontan semua tertawa terbahak-bahak oleh ulah Mas Ahmad. Melihat bibir mas Ahmad merah seperti bibirku. Langsung ku lap bibirnya dengan tisu.
"Makanya jangan kelewat berani ngeroyok bumil segala. Tau kan akibatnya."
"Hhhhhh...iya. Habisnya mulutnya bumil agak bawel sih."
"Dah, ayo berangkat, Mad. Nanti keduluan besan Ndak enak lah Bapak." Seru Bapak sambil menutup pintu dan jendela rumah.
Semua sudah siyap dengan perlengkapan masing-masing. Tak luput toga dan tas ranselku yang isinya ponsel pribadi dan ponsel pabrik juga sudah terbawa.
Bapak yang berada di depan menemani Mas Ahmad berkendara. Ibu dan Nisa duduk disampingku. Sedang Fauzan duduk di belakang seorang diri.
Gass Solo Semoga Wisudanya lancar sampai selesai.