
"Cantik banget, nih istri mas. Mau kemana ?" puji mas Ahmad yang pertama kali aku make up an yang lain dari biasanya.
"Anterin mau ke kampus." rengekku. Hehehe ketauan dah sekarang manjanya kelihatan banget.
"Kok malah ngrengek, ditanyain suami kok."
"Ayo anterin mas, sudah jam 07.00. Aku ada janji sama dosen Lis. Please ya...tolong anterin."
"Kalau mau dikasih apa kalau Ndak mau dikasih apa ?" main tebak-tebakan aja nih sukanya. Tanda-tanda ada maunya.
"Ya udah, Ndak mau ya Ndak papa." sambil merapikan buku kuliah, literatur dan bahan yang mau dipresentasikan. Tampilan tomboy nya masih melekat tapi tak begitu kentara, lipstik minimalis khas dulu waktu masih gadis.
Sambil pasang muka cemberut aku ambil hp berniat telpon Gendut temen lawas yang pasti masih setia sama aku.
Nih suami PHP. Aku kan belum begitu paham daerah sini. Lagian Ndak bisa naek sepeda, bisanya nebeng. Ya udahlah ku tinggalin mas Ahmad yang sedang terkekeh melihat tingkah kekanakanku.
Ia mengejar dan memelukku dari belakang. Ia yang sudah rapi duluan meraih pinggangku dan melingkarkan tangannya di perut. Sambil mencium lembut tengkukku, aku dibuat berdiri bulu kudukku. Seperti merasakan hantu....hihihi.
"Iya, iya. Gitu aja marah. Nih sudah jadi istri kok masih kayak anak mahasiswa aja. Sudah dibikinin makalah Ndak ada terima kasihnya sama asistennya." Mas Ahmad sambil menggodaku.
"Lho emang aku masih mahasiswa, siapa suruh nikahin aku duluan."
"Ish marah betulan. Dosa Lo ya meninggikan suara dari suara suami."
Mas Ahmad semakin mengencangkan pelukannya. Ia terlihat, merasa bersalah. Lalu ia mengecup keningku. Dan minta maaf.
"Iya iya, maaf. Jangan bilang itu lagi. Ayo berangkat. Keburu telpon Gendut, dan posisiku terancam." hahhh....tau aja nih suami isi hatiku. Kenapa Ndak dari tadi gitu. Maunya ngledekin terus. Udah tau istrinya masih kecil kekanak-kanakan, manjanya masih selangit di tingkat dewa Bathara. Yang sabar kenapa. Bikin illfill aja. Sambil manyun aku dibuatnya.
Ia pakaikan jaket untukku dan helm. "Boleh nyium bibirnya dikit enggak, sebagai tanda terima kasih sudah dibuatin makalah tadi pagi ?"
"Enggak boleh. Enggak mau. Bisa-bisa enggak jadi berangkat ke kampus ini. Ayolah mas.... Ya udah aku telpon Gendut aja !"
"Eh...eh...yang santuy dong sayang. Dikit-dikit marah...kenapa sih... Apa lagi ada tamu ya ?"
"Enggak. Mas Ahmad kan yang mulai duluan. Besok-besok kalau ndak mau nganter bilang aja terus terang. Aku tak kos lagi aja."
"Iya, iya, sayang. Galak amat. Jangan kos, aku nanti tidur sama siapa. Ndak enak tidur sendiri." dari tadi ribut melulu kedengaran sama ibuk bapak mertua. Sambil mereka ketawa lihatin tingkah anak dan menantunya.
"Ya makanya anterin ayolah mas, sudah setengah delapan ini Lo. Yaa Allah....apa Ndak bisa lebih cepet gitu ya...? Aku Ndak suka jam ngaret."
"Iya, istriku cantik. Entar malam kasih tanda terima kasih ya buat gantiin bayar makalahnya ! Awas kalau lupa." sambil mas Ahmad menaiki motornya dan aku hanya membonceng di belakangnya saja.
"Lohh kok pakai ngasih tips sih. Katanya dulu mau bantuin ngerjain tugas dengan ikhlas.. Wah gak sesuai realita ini !" sambil berlalu kendaraan Shogun hijau melaju menuju Kota Solo.