
Seminar Mas Ahmad begitu lancar. Banyak yang melontarkan pertanyaan tapi nyaris tak ada yang tak bisa dijawab oleh si pembawa seminar. Alhamdulillah batinku. Mas Ahmad tersenyum lega juga ketir-ketir jikalau satu pertanyaanku muncul tiba-tiba.
Biasanya aku memberikan pertanyaan itu sebagai pembius seminar. Pertanyaan yang simple tapi butuh penjabaran yang runtut. Keruntutan yang penuh jebakan-jebakan Batman itu yang menjadi momok mereka yang punya seminar. Tidak dengan aku. Hihihi...
Sebelnya kalau tiap aku berujar dengan pertanyaan mereka kebawa sampai dunia nyata. Ujung-ujungnya pasti kena sindiran pedas. Ahhh ndak papalah. Lha gimana, katanya seminar tanpa pertanyaan itu dikatakan gak berjalan.
Seminar dengan pertanyaan yang banyak itu baru berjalan lancar selancar jalan tol. Tapi kalau yang ditanya belum siyap dengan pertanyaan itu namanya dia memang belum menguasai materi dan jebakan-jebakan Batman yang kita buat.
"Falya, kamu ndak bertanya ? Tumben-tumbenan kamu gitu ? Memalukan dunia persilatan !" ejek Gendut.
"Stttt...apaan sih. Awas lo ya...!" sambil ku pasang muka sebal dan ku balas dengan kepalan tangan mengarah kepadanya.
"Falyanthuk, kenapa kamu diam. Mati kutu. Kamu ndak mau ngasih pertanyaan ? hemmm...iya kita tau kamu deket sama Kak Ahmad. Sampai kamu gak adil menurutku. Sama yang lain aja kamu ngasih pertanyaan mematikan, giliran dengan Kak Ahmad kamu diam Seribu Bahasa. Malu apa karena Kamu Cinta sama dia ?" celetuk Tintin. Astaghfirullah gitu amat sih kalian ya menilai aku.
"Bukan gitu, memang aku Ndak ada pertanyaan." kilahku. Padahal aku ingin banget ngasih pertanyaan, tapi mulut ini terasa kelu. Dan kalaupun mulut ini sudah terbuka. Susah berhentinya. Gimana dong...
"Falya... gimana nih....kok diam. Biasanya hidupnya seminar itu dari pertanyaan yang kamu lontarkan, lo. Kenapa kamu hari ini kurang antusias ?" Panggil Dosen Sulistyo memanggil namaku. Aku yang merasa terpanggil segera menggaruk kepala walau tak gatal sambil melirik beliau dan tersenyum kebingungan.
"Yeay.....whuhuuuuu....suwittt ...suwittt.... seketika ruangan seminar itu riuh dengan sorakan peserta seminar yang mempermalukan aku. Segenap mata tertuju padaku. Huft...bikin malu aja. Baiklah tunggu saja. Lihat saja pembalasanku jika kalian seminar nanti. Ku catat mulut siapa saja tadi yang berkicau mempermalukanku.
Ku lihat mereka begitu sinis sekali padaku. Apa boleh buat....aku akan memberikan pertanyaan yang sangat mudah untuk Mas Ahmad. Dan Mas Ahmad pun tersenyum malu mendengar pengakuan yang belum resmi itu. Jadian dari Hongkong...pikirku.
"Falya, ayo. Dengan kamu bertanya, itu jadi perwakilan pertanyaan kami, lo, Fal. " Semangat Bapak Dosen Ongko sambil menarik kaca matanya hingga di pertengahan hidung beliau dan menatap kepadaku. Ahhh...Pak Fosen ini ada-ada saja. Nanti kalau saya pas keluar seminar dijenggung (dipukul ringan kepalaku) gimana sama yang punya seminar.
Seminar masih berjalan dengan pertanyaan yang silih berganti. Semangat Mas...batinku. Daripada malu ku siapkan pertanyaan yang sedikit menjebak. Tapi mudah kok tenang saja.
Jawabannya jangan grogi ya mas, menatap aku. Nanti kalau kamu grogi ndak bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Ujung-ujungnya kamu akan tersepona eh terpesona melihat aku. Hihihihi...
Aku sembari tertawa sendiri sambil melihat makalah mas Ahmad yang disodorkan AW tadi. AW pun juga tak mau kalah dengan pertanyaan barusan yang ia sodorkan. Dan Mas Ahmad, mencuri pandang ke arahku.
Matanya yang bahagia tak bisa ia tutupi saat kami beradu pandang satu sama lain. Masyaa Allah...apa yang kita lihat barusan. Panah Cinta Cupid sedang mengarah ke kami. Busur cintanya melesat tajam bak senapan pemanah asmara. Cie...cie....ciyeee....