A. N. S

A. N. S
Seminar Hasil Tak Kalah Mematikan



"Sayang bangun. Sudah pukul enam pagi. Kamu terlelap tidurnya. Maaf mas tidak berani mbangunkan kamu. Kata ibuk, Ndak usah dibangunin Ndak papa. Mungkin kamu terlalu capek. Bangun segera mandi. Hari ini konsultasi dosen Sulistyo, kan ?"


"Iya, mas." Tanpa berpikir apapun aku turun dari tempat tidur tanpa menggubris ciuman yang sudah mendarat di keningku. Aku segera mandi dan bersiap ke kampus. Aku pakai Hem biru telur bebek dan celana jeans biru Dongker persis seperti warna seragam di perusahaan. Yaa Allah aku masih ingin kerja. Tapi Ndak tau takdirmu nanti berkata apa. Aku akan mencoba menerima dengan ikhlas.


"Masyaa Allah cantik banget istri mas. Kelihatan auranya bersinar. Mas sampai kagum melihatmu. Persis seperti pertama aku nembak kamu."


" Hemmmm...."


" Ayo makan dulu, Fal. Bapak sudah menunggu dari tadi." Ajak Ibu menggandengku.


"Kamu kemarin Ndak makan Lo, nak. Ayo makan yang banyak. Biar punya tenaga untuk menghadap dosen."


"Iya, Bapak. Terima kasih semangatnya." Mas Ahmad yang duduk di sampingku juga memberikan semangat.


Setelah selesai sarapan, aku gosok gigi kembali ambil air wudlu untuk sholat dluha. Kemudian menata bahan skripsi. Bersiap berangkat tak lupa ber-make up minimalis dan berkerudung ala jaman tomboyku dulu.


"Kerudungnya turunkan menutupi dada. Aku Ndak suka cara berkerudung seperti itu." Perintah mas Ahmad sembari mengernyitkan keningnya.


"Iyaaaaaa." Jawaban singkat padat nurut aja perintah imam memang ada benarnya. Iya memang aku agak pegel sama nih suami. Kebawa yang kemarin.


"Ayo berangkat. Sudah dibawa semua, sayang ?"


"Sudahhhhh."


"Jawabannya jelas singkat panjang banget h nya.. Masih marah sama mas ?"


"Enggak tapi masih pegel."


"Pegelnya dimana, nanti aku pijitin."


"Sudah terlanjur."


"Terlanjur jadi bibit siap tumbuh jadi janin. Siap dilakukan pengamatan tiap bulan."


"Mulai lagi....kesitu."


Perjalanan ke Solo tak terlalu lama karena kita berangkat pagi menghindari macet orang mau kerja atau anak-anak sekolah mulai masuk. Begitu sampai di kampus sudah pukul delapan. Dosen Sulistyo mengajak kita masuk. Jarang-jarang dosen Sulistyo mengajak masuk pengantarku saat konsultasi. Mereka banyak tertawa tanpa mempedulikan sosokku. Sesekali Pak Lis menanyakan pembahasanku.


Alhamdulillah pengajuan seminar hasil lolos. Senin Minggu ini sudah bisa seminar hasil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa banyak yang berduyun-duyun mencari nilai seminar dan lagi ada Snack ringan ketika seminar hasil ini, beda dengan seminar proposal. Tanpa perlu banyak tenaga mencari peserta, pesertanya sudah datang sendiri.


Aku yang berpakaian atasan putih panjang, rok hitam berpola A memakai dasi hitam panjang. Mas Ahmad juga ku minta mendampingiku. Dia tak henti bergumam dan tersenyum dari tempatnya ia duduk di deret ketiga dibelakang dosen Yeti dan dosen Sulisty.


"Masyaa Allah istriku parasnya cantik banget memakai kerudung hitam. Sama seperti dulu aku putuskan melamatmu. Kelihatan teges banget, pemberani, berwibawa dan cerdas. Tak salah aku menjatuhkan pilihanku padamu."


"Mad, istrimu kelihatannya sudah siyap banget dan menguasai materi seminar hasil skripsinya ya." Tanya dosen Yeti.


"Iya, Bu. In Syaa Allah sudah lebih dari siap."


"Kelihatan sekali Bu Yeti dari cara dia menangkap pertanyaan lawan. Ia cermati ia jatuhkan seketika. Dahsyat sekali nih anak."


"Beruntung kita memiliki mahasiswa seperti mereka, Pak."


"Iya betul, Bu."


"Ahmad, kamu memang mencetaknya dia seperti ini, ya ?" Tanya dosen Sulistyo.


"Bukan, Pak. Kalau yang seperti ini, istri sendiri memang pembawaannya seperti ini. Tegas, cerdas dan percaya diri menghadapi lawan bicara."


"Lebih cenderung ke manja dan suka marah gak karuan sampai berhari-hari, Bu."


"Masalah apa, Mad ? Nanti biar Ibu yang bantu melunakkan hatinya."


"Anu, Buk. Mohon maaf sebelumnya. Dia belum mau punya baby."


"Masih berat di karir ya ?"


"Iya, Bu."


"Besok kalau selesai pendadaran. Biar Ibu nasehati. Biasanya dia paling nurut sama Ibuk."


"Iya, Bu. Terima kasih banyak atas bantuan Ibu."


Seminar hasil ini aku tak menemui kesulitan sama sekali. Pertanyaan demi pertanyaan sudah ku habiskan dengan lahap. Seperti orang sedang kelaparan tak makan beberapa hari saja.


Bahkan aku sampai menantang mereka yang belum mengajukan pertanyaan. Tidak sombong Lo ya ini. Memang kenyataannya demikian.


Hingga saat ending seminar hasil para dosen memberikan applause meriah dengan nilai TERBAIK A plus plus. Masyaa Allah, Alhamdulillah Yaa Allah. Jazakumullah Khoiron untuk suamiku, Mas Ahmad yang selalu mendukung langkahku.


"Minggu depan hari kamis bisa langsung pendadaran ya, Falya. Persiapkan dirimu, materi dan pembahasan seperti ini. Kami tunggu pendadaran ilmiah kamu bersama tambahan dua dosen penguji. Harus jauh lebih siap. Pertanyaan beliau juga sama mematikan dengan kamu. Tetap semangat, jangan lupa bersyukur, belajar dan nurut sama suami." Dosen Sulistyo memberikan wejangan di akhir seminar hasilku. Aku mengangguk dan meringis di akhir kata beliau. Emangnya aku Ndak patuh sama dia ??


Beliau beserta dosen Yeti segera meninggalkan ruangan seminar dengan didampingi Mas Ahmad.


Aku yang masih terduduk di ruangan seminar bersama teman-teman teamku. Mereka tertarik banget dengan seminarku. Tanya resep kenapa bisa sedahsyat dan mematikan itu resepnya apa.


"Ya penguasaan materi lah,,,Kris." Jawabku.


"Yang setengahnya, yang bicara di depan kamu tadi bukan Falya, Kris." Jelas Aw.


"Lalu siapa?" Sambil melirikku.


"Marketingnya perusahaan benih ternama."


" Ceplas-ceplos mematikan." Ujar Sartini yang tak mau kalah.


"Hahhh kalian... ada-ada saja."


"Kalian tak tau ya. Yang setengahnya kenapa Falya menggebu-gebu, mungkin dia lagi bete sama Mas Ahmad. Betul enggak, Fal. Dugaanku ini ?" Tanya Gendut.


"Hahhh ... Pintar sekali dugaanmu, Ndut." Dewik mengerutkan keningnya ke arahku.


"Hehehehe sok tau kalian .....!!!!!"


Astaghfirullahhal'adzim mereka tepuk jidat masing-masing. Gendut jadi penyebar kegaduhan. Ia segera keluar ruangan dan berlari keluar. Takut kalau aku memukulnya.


Teman-teman juga ikut mengejar sosok gemuk itu, berhamburan keluar melihat sang suami memasuki ruangan seminar yang sudah sepi karena hanya tinggal kita berdua.


"Terima kasih, mas. Lagi-lagi aku berhutang Budi padamu." Mas Ahmad yang datang langsung memelukku. Ia membalas ucapanku, tepat ia selipkan di telingaku.


"Sama-sama istri mas. Yang selalu membuat aku terhanyut dengan pesona kecantikanmu yang seperti ini."


"Haish mas Ahmad gombal."


"Lho iya benar. Aku jatuh hati sama istriku sendiri. Aku takut jika suatu saat nanti kamu meninggalkan aku."


"Memangnya aku kemana, mas ?"


"Ya sudah yukkk pulang..." Mas Ahmad membawakan ransel yang berisi skripsi dan bahan seminar hasil tadi. Terasa berat ranselnya. Aku terkekeh-kekeh melihat dia.