
Hai....kak. maaf ya lama gak update. Mak author masih asyik di dunia perdagangan dunia Maya. Hihihi.....
Yukkkk kita rampungkan kisah ANS selanjutnya.
"Assalamu'alaikum, Ahmad, gimana kabarnya Falya ?" Telfon dosen Yeti dari seberang kota ini.
"Alhamdulillah mulai teler, Bu ini. Tidak terkondisikan. Aktivitasnya lebih banyak tidur dan mual muntah kalau pagi."
"Alhamdulillah, sabar ya Ahmad. Sebentar jadi Bapak. Memang begitu bawaan Ibu Hamil."
"Iya, Bu. In Syaa Allah sabar."
"Oiya, ini ada info dari rektorat. Kaitannya sama wisuda Falya dua Minggu lagi. Kira-kira kuat enggak ya, si Falya mengikuti prosesi wisuda ?"
"Dia kalau pagi setelah jam sembilan baik-baik saja, Bu. Kalau jam makan siang mulai aksi bumilnya itu."
"Wisuda nanti Falya tetap harus datang, Ahmad. Kalau dia tidak mampu bisa diwakilkan."
"Saya wakili saja, Bu. Nanti kalau si Falya tidak kuat."
"Baiklah kalau begitu, nanti ibu sampaikan ke Bapak rektorat."
"Iya, Bu. Terima kasih sebelumnya."
"Sama-sama, Ahmad."
Klek bunyi gagang telepon dari seberang diputus sebagai tanda akhir pembicaraan. "Alhamdulillah akhirnya dapat penyelesaian." Gumam Ahmad dalam hatinya.
...****************...
"Assalamu'alaikum, wheh istri mas jam segini baru bangun ?"
"Enak aja, orang tidurnya jam sepuluh tadi. Bawaan yang di perut nih. Sampai Ndak bisa ngapa-ngapain. Diajakin kerja cuma ngomong sambil duduk aja nggak mau. Hemmm..." Aku mendengus sambil mengusap wajah karena baru bangun di jam dluhur.
"Hei jangan gitu. Anak itu amanah. Apa yang kamu lakukan nanti dia kebawa sama sifat kamu. Kalau mengeluh marah dia bisa temperamental Lo... Udah ya sayang jangan seperti ini lagi." Mas Ahmad mendekatiku sambil mengelus lembut rambutku dan mencium kening.
"Trus kerjaku gimana dong, mas. Masa tiga bulan penuh aku teler ? Bisa-bisa enggak dapat uang jajan." Ketika mata kami bertautan di atas keningku.
"Tuh kan baru aja dibilangin menggerutu lagi. Sabar sayang. Pokoknya harus banyak senyum."
"Hemmm......"
"Tapi ya Ndak melulu gitu. Marketer is my life. " Aku pilih diam tak ingin membahas lagi. Biarlah kamu yang meneruskan pemikiran ini.
Mas Ahmad bingung memperhatikanku karena tak meneruskan pembicaraan. Akhirnya dia mencoba untuk memulai membuka pembicaraan lagi.
"Sayang, barusan dosen Yeti telepon."
"Iya, mas. Gimana ?" Ketika aku, jam segini belum ada syndrom ibu hamil. Nanti pas jam makan siang. Lihat saja entar aksi yang diperut.
Sampai heran aku dengan aksinya. Dibuat makan enggak mau minum dia balik keluar lagi. Astaghfirullah bumil bisa jadi bulan-bulanan disini. Tapi setelah jam makan siang bumil giras lagi. Pinginnya cuma makan buah saja.
" Kamu tetap mengikuti prosesi wisuda, nanti kalau kamu rasa tidak kuat. Mas yang nggantiin kamu."
"Alhamdulillah. Lhoh berarti nama Falya jadi laki-laki dong. Terus aku ngapain kalau aku tidak kuat terus teler lagi. Itu kan panjang wisudanya ?"
"Kamu duduk manis nanti kan didampingi Ibuk dan dik Nissa juga."
"Nanti pakai gamis aja, jangan pakai celana jeans Ndak baik buat ibu hamil !" Warning mas Ahmad saking sayangnya sama aku dan baby-nya.
Masyaa Allah... Allah Ndak salah menjodohkan kamu untuk aku, mas. (Dan aku yang salah karena dulu aku tak mengiyakan lamaranmu).
"Iya..."
"Sayang, sholat dluhur sana. Mas kan sudah sholat di kantor tadi jamaah."
"Iya..... Sekarang kok jadi bawel ya...?"
"Siapa ?"
"Mas ANS....!" ia menggapai pinggangku dan mencium ibu hamil sesaat aku hendak menuju ke kamar mandi dalam kamar itu.
"Iya,,,kamu kalau Ndak diginiin ngeyel." Ia mencium lembut bibir bumil.
Tok....tokkk......pintu kamar terdengar ada yang mengetuk seperti si adik laki-laki nya mas Ahmad. Anak ekonomi itu Lo...
"Alhamdulillah selamat aku dari syndrom pakmil. Udah ya berakhir dulu bumil mau wudlu...!" Mas Ahmad tersenyum kecewa.
"Mengganggu saja anak itu. Nanti dilanjut ya sayang. Kamu sholat dulu sana." Aku berlalu sambil menggoda dengan kedipan satu mata. Tingggg......hihihihi...