A. N. S

A. N. S
Teler di Gladi Bersih I



Hari kamis setelah dluhur, aku mempersiapkan diri dan menunggu mas Ahmad selesai, hendak berangkat menuju gladi bersih wisuda. Alhamdulillah sudah makan siang di jam sebelum dluhur, aku berharap baik-baik saja dengan syndrom Ibu hamil.


Masih kuat beraktivitas berdiri lama, akan tetapi selalu muncul keringat berlebih di mukaku dan napas seperti tersengal-sengal seperti dikejar kucing tetangga.


Tepat jam 12.30 aku berangkat dengan dibonceng mas Ahmad. Ada perasaan senang, bangga, suka cita. Lulus dengan nilai yang baik bukan terbaik, karena ada catatan kecil, sering bolos kuliah. Hehehe Ndak usah dibicarakan mengundang aib. Bisa-bisa aku dimarahinya.


"Alhamdulillah sudah sampai kampus. Gimana sayang, kamu capek ? Harusnya waktunya istirahat siang si dedek dan Umminya." Sambil terlihat mengelus perutku yang belum terlihat kentara.


"Pinggangku Ndak bersahabat mas, gendong ya sampai aula !"


"Haaa....mana kuat, mas. Bisa kurus nih badan."


"Ayolah, bumil marah Lo ntar."


"Kayak anak kecil aja. Ndak malu dilihatin teman-teman seletting kamu tuh !" Sambil menunjuk ke arah patung kebangsaan Mbah Gajah di depan kampus Pertanian.


"Hai, Falya. Tumben Ndak pake celana jeans dan tidak seperti khasnya Falya dulu yang tomboy." Sapa hangat AW yang juga barengan wisuda besok.


"Sudah hamil, W. Ndak boleh berpakaian kasual. Dilarang sama mas Ahmad. Iya kan, Fal ?" Terang Dew ke AW.


"Pinter juga kamu, Dew."


"Sudah berapa bulan, Falyanthuk hamilmu ?" Masih saja kamu panggil aku dengan nama jahilku Tin Sartinthek.


"Alhamdulillah jalan tiga bulan."


"Wah lagi ngidam-ngidamnya nih, Ibu hamil. Ayo kita rujakan Fal setelah acara. Hayukkk teman-teman diajak sekalian."gerak cepat suara Piterzon mengajak teman-teman satu letting yang tidak semuanya bebarengan wisudanya.


Ada yang cuma jadi panitia wisuda, ada yang ikut serta gladi bersih wisuda dan ada yang hanya menemani kebahagiaan kita saja.


"Teman-teman ayo kita masuk ke aula atas ya. Semua sudah berkumpul disana." Teriak Gendut si gembul masih juga gembul dia ku lihat dari bawah. Sok-sokan gak mau nyapa bumil. Awas looo ya...


Lantas teman-teman baik yang seangkatan atau beda angkatan yang mau ikut gladi segera mengikuti arahan suara itu.


"Hemmm.....berkedip dong dik. Lihatin cowok cakep sampai segitunya. Lupa ya suaminya juga Gendut ?" Sembari telapak tangan mas Ahmad meraupkan ke face aku.


"Astaghfirullahhal'adzim, mas. Masih cemburunya minta ampun. Sudah hamil kayak gini masih dicemburuin !!"


"Ya kali aja masih punya feeling ke Gendut itu?"


"Hmmm,,,mulai lagi deh. Cemburunya.."


"Gendong...." Dua tanganku seakan menggapai tangannya minta gendong seperti anak kecil yang minta digendong Bapaknya.


"Marketing kok kayak anak kecil ! Hhhhh....!"


"Hemmmm....Ndak mau ya sudah."


Tangan kiriku segera digandeng mas Ahmad. Takut aku jatuh. Terlihat lesu pucat wajahku meski sudah pakai bedak. Namanya Ibu hamil tidak bisa dipungkiri, mau dipoles mau enggak ya tetap aja wajah Ibu Hamil yang dominan pucat.


Sesampainya di Aula, baru saja waktu menunjukkan pukul dua tepat. Mengikuti prosesi yang kadang berdiri kadang duduk dan kadang lebih lama di posisi berdiri siyap gerak. Terkadang harus jalan ke depan naik turun panggung kembali ke tempat duduknya. Memusingkan menurutku. Dan ini membuat sang suami tidak tega melihatnya.


Mas Ahmad dengan perasaan was was sedang berdiri di depan ruang Aula tampak berbicara dengan dosen Siswadi yang sedang memantau jalannya gladi.


Mereka bercakap-cakap sesekali mas Ahmad melayangkan pandangan netranya menuju ke arahku. Kemudian dia pamit, ketika melihat aku duduk di bangku yang terkulai lemas. Untung saja dia tanggap.


Dia minta waktu untuk aku istirahat sejenak. Kemudian dia meminta izin ke panitia gladi. Alhamdulillah diperbolehkan memang sudah dikasih dispensasi.


"Kamu Ndak papa, sayang ?"


"Mau muntah. Mual rasanya. Pusing juga."


"Yaa Allah keringat kamu mengucur deras. Napasmu juga seperti orang yang nafasnya hari Senin sama Kamis aja."


"Mas, orang istrinya kayak gini masih diledekin."


"Ya, biar kamu enggak terbawa suasana. Ini diminum dulu air putihnya !"


"Jazakumullah Khoir, mas."


"Iya, sayang." Ia mengelus kepalaku dengan lembut. Membuat peserta gladi pada lihatin dan ngiri.


"Astaghfirullah mas, semua peserta lihatin kita. Malu aku jadinya kan....!!!"


"Biar saja. Aku pamer istri cantik yang sudah tidak bisa di taksir cowok ganteng sekampus !"


"Hahhaha ....awas ya mas. Lihat aja besok ketika wisuda, auraku masih keluar terpancar. Dan kamu akan bingung kewalahan. Para cowok akan simpati ke aku lagi."


"Awas ya kalau begitu beneran !"