A. N. S

A. N. S
Keturunan Hibrida



Dari luar ruang sidang pendadaran, teman-teman setingkatku saling berkumpul menanti aku keluar dari pintu sidang itu. Mereka bersitegang bahkan tak ada yang berani bergurau. Sudah hampir tiga jam, kenapa belum keluar juga. Apakah sesulit itu ujian pendadarannya. Wajah mereka yang sangat solid mengikuti pendengaran mereka yang sayup-sayup mereka dengar.


Kadang suara keras, kadang suara perlahan. kadang pertanyaan-pertanyaan para penguji bersambut dari penguji satu dengan lainnya. Kadang penguji ketiga memaparkan pertanyaan yang membius suasana. Kadang penguji yang lain membantu. Benar-benar ruang sidang yang hidup. Dan mereka juga sangat bersemangat mendengar jawaban-jawaban yang tepat dari jawaban tegasku.


Mas Ahmad juga bersitegang, teringat saat ia sedang disidang dalam persidangan pendadaran itu. Dia berdoa semoga istrinya yang cerdas bisa melalui ujian pendadaran dengan mudah. Seperti yang sudah ia dengar, istrinya sungguh bijaksana menyikapi setiap pertanyaan yang terlontar.


"Mad, sedang menunggu apa kamu disini ?" Terkaget Mas Ahmad dengan munculnya mas Wagih angkatannya dia, sedang mencari dosen Sabdo. Mas Wagih sama-sama peraih gelar Cumlaude dan dia adalah mahasiswa terpandai, terajin, terkritis dan terdisiplin.


"Hei, Wagih. Kamu disini juga ?"


"Iya, sedang mencari dosen Sabdo. Eh katanya ada adik kelas pendadaran. Yuk kita ngobrolnya di tangga sana !" Mas Wagih sembari menunjuk arah yang dituju dan kak Ahmad hanya menuruti temannya mengajaknya.


"Hei, kamu sedang apa disini, Mad ? Wah apa jangan-jangan belum ada jodoh terus pedekate sama adik kelas ya ?"


"Hahahaha...kamu ini, ada-ada saja, Gih."


"Terus ngapain disini ?"


"Kamu sendiri ada proyek sama dosen Sabdo ?"


"Iya, lha kamu sedang nunggu siapa ?"


" Nunggu Istri, Gih."


"Oh duh duh Duhhh.....ternyata sudah punya istri. Nih jangan-jangan istrinya adik kelas nih."


Mas Ahmad hanya tersenyum tanpa membalas. Karena memang dia bawaannya tipe tenang, dan tidak suka menyombongkan kelebihan dia atau istrinya. Masyaa Allah kan....


"Eh, Ahmad. Aku denger dari dosen Sabdo. Dosen Sulistyo dan dosen Yeti sedang berbangga dengan mahasiswinya. Yang sedang ujian pendadaran ini."


"Kenapa memangnya ?" Mas Ahmad kaget, pasalnya yang di dalam itu istriku.


"Adik kelas kita ini, ternyata dia sudah magang di perusahaan benih besar ternama. Dia menghandle marketing perwakilan Solo dan Jateng. Dan hebatnya lagi, mahasiswa ini skripsinya bagian dari proyek dengan perusahaan tempat ia bekerja. Dan info yang ku dengar, Mad. Ini cewek lo. Nanti selepas ia lulus dari sini dia sudah auto mendapatkan jabatan asisten Breeder. Hebat ya ...adik kelas kita, Mad."


"Alhamdulillah iya, Gih !" Ohhh dikirain apa gitu. Ternyata Masyaa Allah berita tentang istriku sudah menjadi konsumsi publik. Senang, terharu dan bangga.


"Hahahaha...bisa aja kamu, Gih. Mana mau dia sama aku. Aku tidak seganteng teman-teman sekelasnya. Tuh lihat teman-temannya yang nunggu di depan ruang sidang. Yang cowok cakep-cakep kan" Mas Ahmad hanya mengulum senyumnya. Dalam hati, itu pacarku juga istriku. Hahhaha...


" Bisa lah.... memperbaiki keturunan F1, Mad."


"Biar sekalian hibrida ya..."


"Oh iya, hebatnya lagi adik kelas yang pendadaran ini sudah bisa melakukan persilangan, Mad. Apa enggak hebat ? Secara apa bisa to mahasiswa bawah kita secerdas itu. Pemuliaan tanaman lagi. Dosennya Bu Yeti kan..."


"Buktinya dia bisa, Gih. Berarti kemampuannya sudah membuktikan kepada dunia bahwa dia mampu. Mengharumkan dunia kampus kita yang bisa nglahirin seorang Pemulia Tanaman. Masyaa Allah..."


"Masyaa Allah, Alhamdulillah ya...!!" Ujar mas Wagih.


Kadang mereka tertawa lepas dan kadang mereka mengobrol berdua. Sambil reuni karena sudah lama tidak pernah bertemu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ahmad....!!!" Panggil suara merdu dosen Sulistyo dari arah pintu ruang persidangan yang Alhamdulillah sudah selesai. Karena penguji ketiga dan penguji yang lain sudah keluar ruangan. Mas Ahmad seketika merespon dengan cepat.


"Iya, Pak Lis. Sebentar ya Wagih, aku sowan (menghadap) Dosen Lis dulu."


"Mad, selamat ya. Ujian pendadaran Falya sudah selesai dan Alhamdulillah dia sangat menguasai materi dan tanpa ada kendala yang berarti, ia bisa melampauinya dengan sangat mudah. Alhamdulillah selesai wisuda jadi asisten Breeder beneran ini. Kita sebagai dosennya sangat terharu dan salut pada istrimu. Selamat ya...!!!" Dosen Lis kemudian menyalami mas Ahmad, kemudian bergantian para dosen yang lain.


"Lhoh.... mahasiswi itu istrimu, Mad ?" Tanya Wagih yang mengikuti Ahmad menghadap Dosen Lis. Karena dosen Sabdo ada disitu sedang berbincang denganku.


"Hehehe ...iya, Gih."


"Wah diyasarrrrr kamu sialan ngibulin orang aja.... Malu aku jadinya sama kamu....!!! Huft...!!!!!"


Akhirnya para dosen meninggalkan aku, teman-temanku memberikan ucapan Selamat dan menyalami aku bergantian.


Dan sekarang hanya tinggal aku dan Mas Ahmad. Alhamdulillah lega rasanya. Alhamdulillah Yaa Robb. Tapi lemassss......nya luarrrr biyasahhh...