A. N. S

A. N. S
Takut Dua Garis Merah



"Alhamdulillah, Jazakumullah Khoiron istri mas tersayang sudah dibolehin itu."


"Kewajiban istri, mas. Aku sudah menunaikan hakmu, loo." Aku tersenyum dan dibalas olehnya dengan ciuman hangat. Masyaa Allah segitu romantisnya.


"Semoga Allah memudahkan segalanya, skripsi kamu cepat kelar, wisuda, lulus dengan nilai yang baik dan melahirkan baby Sholeh atau Sholehah."


"Aamiin,,,eit tunggu...tunggu yang terakhir aku belum mau, mas."


"Anak itu rezeqi dan amanah sayang, tidak boleh ditolak. Karena kita sudah mampu untuk menjadi orang tua."


"Aku nanti kerjanya gimana ?" Uhuk...uhuk sambil aku menangis....


"Yaa Allah udah gede, udah jadi istri kok masih nangisan."


"Programnya ditunda lagi aja, ya...!!! Please....!!!!"


"Sudah terlanjur.."


"Whahahhahahahha...."tambah kenceng nangisku. Tamatlah aku... masak aku kerja posisi hamil sih.


"Cup...cup...sayang, itu sudah kodrat perempuan Lo jadi Ibu. Bukannya seneng dikasih amanah Allah malah nangis kenceng."


"Looo...enggak gitu. Aku belum siyap jadi Ibu."


"Siyapnya kapan, sayang ?"


"Ndak tau. Sudahlah Ndak usah dibahas."


"Lo...Lo...Lo...kok ngambek gitu jadinya."


Aku segera membuka laptopku dan mencari file bab empat sampai bab enam yang perlu di typo dari Dosen Yeti tadi. Mas Ahmad yang serba salah jadi tak enak hati. Ia membiarkan aku sendiri dengan hati yang berkecamuk. Takut kalau aku bergaris merah dua. Perasaanku jadi tak karuan. Ahhh entahlah...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu tahajud pukul nol tiga lebih tiga puluh menit tiba, aku dibangunkan oleh ciumannya yang mendarat di keningku.


"Maafkan kalau mas ada salah sama kamu, dik ?" Aku posisi duduk setengah sadar membiarkan nyawaku kembali dari alam sana.


" Salah apa ?"


"Maaf kalau mas membuat kamu bersedih kamu menangis kamu menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu tak mau makan sore kemarin."


"Ayo jama'ah tahajud dulu, mas. Nanti keburu habis waktunya." Aku segera turun dari tempat tidur dan beranjak mendekati ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudlu. Perutku tiba-tiba lapar pasti kemarin sore aku aksi mogok makan itu ya. Sampai kamu merayuku untuk makan tapi aku bersikukuh mendiamkan tak mau beranjak ke ruang makan. Masih manja aku ini seperti anak kecil saja.


"Bismillahirrahmanirrahim...


Allohu Akbar...." Mas Ahmad mengimamiku sholat tahajud.


Kami berdzikir, berdoa memohon yang terbaik untuk kami. Hingga waktu menjelang subuh tiba, ia mengajakku untuk jama'ah di masjid.


"Aku sholat di rumah saja. Mas ke masjid sendiri ya. Maaf, aku tidak bisa menemanimu kali ini."


"Yaa Allah sampai segitunya marahnya. Ya sudah mas ke masjid dulu." Sambil ia mencium keningku. Sudah bisa ku lihat ia benar-benar sayang sama aku. Aku marah pun dia tetap sabar.


"Assalamualaikum, sayang. Wehhhh....malah sudah tidur lagi istriku ini." Maaf aku lagi bad mood no diganggu-ganggu. Aku tidur buat mengumpulkan kekuatan untuk konsultasi dosen pagi ini ke kampus. Biar aku bisa berubah jadi Naruto dengan kekuatannya.


Mas Ahmad membuka skripsiku yang kemarin ada kesalahan ia baca satu persatu halaman yang aku revisi. Ia perhatikan dengan detail kesalahan pengerjaannya. Hingga ia cermati, tidak ada yang salah sedikitpun dari tulisan istrinya.


Perlahan aku mendengar suaranya yang merdu sedang melantunkan ayat suci Al-Quran. Dan Alhamdulillah ia mempunyai kebiasaan tak pernah tidur selesai sholat subuh. Sampai menjelang terbit fajar ia In Syaa Allah sudah rutin melaksanakan sholat Sunnah. Masyaa Allah imam yang baik.