
"Assalamu'alaikum bidan Nayya. Mau memeriksakan istri."
" Wa'alaikumussalam warrohmatullah, mas. Mari masuk."
"Ini istri saya, Bu !"
"Oh mari silahkan menuju dipan periksa ya. Nanti saya akan periksa. Saya isi biodata ibu hamil dulu." Mas Ahmad membantu aku berbaring di dipan periksa itu, kemudian dia duduk di bangku depan bidan tadi dengan sejumlah pertanyaan.
" Tarik nafas dibawa santai, rileks dan jangan tegang...saya akan memeriksa perut bagian bawah mbak Falya. Namanya bagus banget." Sembari bidan tadi menutup korden dipan tempat periksa itu. Sabar, tenang dan sopan sekali bidan ini. Pikirku.
Agak nervous sih tapi Yaqin Allah SWT tidak salah memberikan kepercayaan pada kita. Aku mulai mengikuti wejangan dosen pembimbingku, sudah meniqah, suami ada bertanggungjawab penuh.
Walimahannya mau dikemanain. Sudah waktunya ubah persepsi dan pandangan. Tinggal beberapa langkah lagi menjadi seorang Ibu. Harus menerima kehadirannya, karena itu titipan dan Allah SWT tidak salah memberikan amanah ke kita.
Bidan itu menekan agak dalam perut bagian bawah pusar. Memang belum bisa di USG, karena usia kehamilan belum ada empat Minggu.
"Alhamdulillah sudah diberikan kepercayaan Allah SWT, mbak Falya sudah hamil, ini usia janin menginjak usia kehamilan tiga Minggu. Untuk memastikan kehamilan, besok pagi setelah bangun tidur bisa dilakukan check urine pertama yang keluar."
"Alhamdulillah iya, Bu. Terima kasih sebelumnya."
" Saya tunggu di sana ya, nanti kita lanjutkan pembicaraannya."
Aku tersenyum dan membenahi pakaianku. Mas Ahmad membantu aku turun. Dan duduk di tempat semula tadi. Benar-benar suami siaga. Siyap Antar Jaga. Kalimat yang baru aku hafal setelah memasuki ruangan bidan ini.
"Besok sore kesini lagi, mas. Bawa hasil test packnya, kemudian akan saya berikan vitamin untuk ibu hamil. Selanjutnya setiap bulan bisa check up-check up kontrol kehamilan.
Senang sih tapi esmosinya masih kadang naik drastis dan turun stabil masih sulit. Karena belum berani menerima kenyataan dan harapan.
Alhamdulillah sudah sampai rumah. Kabar bahagia sudah tersampaikan ke ibuk Bapak. Mereka sangat bahagia dan senang. Penantian untuk segera menimang cucu pertama dari anak pertama dikabulkan Allah SWT.
Ibuk Bapak langsung sujud syukur sebagai wujud syukur beliau berdua. Masyaa Allah pandanganku tertuju pada keluarga ini.
Setelah menyampaikan berita bahagia itu, kamu melenggang ke kamar.
"Alhamdulillah sayang ..."
"Hemmm.... " tersenyum tipis.
"Alhamdulillah dah dikasih kepercayaan sama Allah, harus lebih sabar, jangan dikit-dikit marah, nanti mempengaruhi tumbuh kembang dedek bayi di dalam sana. Jadinya entar dia punya sifat temperamental, Kalau ada apa-apa bilang ya. Jangan dipendam sendiri. Tahan emosi dan banyakin istighfar."
"Antara bahagia dan tidak. Egoku berkecamuk disini." Sambil ku raih tangan kanannya menuju jantungku.
"Aku paham apa yang kamu pikirkan. Jangan pernah beranggapan aku melarangmu bekerja. Silahkan. Aku akan selalu setiap saat berada disampingmu."
"Maksudku caraku bekerja gimana ? Perutku akan dunggg membesar !"
"Kalau boleh mas saranin. Tetap diposisi ini. Marketing dibalik layar. Tanpa tampil di depan layar sudah bisa kan. Kalau nanti sudah lahir si baby aku akan mengajukan pindah ke daerah sana. Kamu bisa bekerja, mengasuh anak dan ibu kita bawa kesana. Gimana ?"
"Alhamdulillah iya mas. Terima kasih banyak atas solusinya." Aku memeluknya hingga menuju kesana. Terbangun ketika alarm tahajud berbunyi.