
Di perjalanan Gajahan Klaten ia menggoda aku terus. Kadang juga memarahi dikit karena Deket Ivan Deket Andri. Yaa Allah pingin turun dari boncengannya aja aku ini.
Alhamdulillah sudah sampai rumah. Aku buru-buru masuk rumah langsung menuju kamar mandi buat mandi lalu mau tidur. Pusing kepalaku. Aku kunci pintu kamar, dia gak ku bolehin dia masuk. Saking jengkelnya aku.
Aku punya niatan pingin pulang aja. Daripada hidup sama dia dicemburuin aja. Atau kos lah lagi. Aku kemasi pakaian dan buku-buku kuliahku. Nanti aku minta tolong Gendut buat jemput. Kira-kira mau enggak ya dia. Semoga mau.
"Sayang kamu kenapa sih. Ayo buka pintu kamarnya. Mas juga capek, Lo. Mau istirahat juga." Aku yang tidak menyahut. Aku rebahan. Pura-pura tidur.
"Dik,,,tolong dong bukain pintunya." Iya memelas. Kemudian datang Ibunya menanyakan perihal marahku.
Ibunya hanya tersenyum dan tertawa. Menertawai Ahmad yang tipe pencemburu buta.
"Nak, dia istrimu jangan sampai marahnya kelamaan. Jangan sampai dia berpikir untuk pulang ke rumahnya atau nge kos lagi. Kamu juga jangan kelewat cemburu, itu sama halnya kamu Ndak bisa njaga hatinya. Berilah dia kepercayaanmu, pasti dia akan menjaga amanahmu. Kamu itu kayak anak kecil saja. Siapa suruh dulu cepet-cepet niqah. Pacaran dulu aja. Sambil menyelami sifat masing-masing. Toh kamu kan langsung ngajakin niqah. Niqah itu menyatukan dua hati yang berbeda, le. Dah baikan sama menantuku yang rajin yang suka masak ini. Nanti kalau masih seperti ini. Istrimu pasti minta kamu pulangin. Pasti minta cerai. Gara-gara kamu terlalu over protective. Dan temannya laki-laki yang naksir dia pasti senang banget. Ayok... Segera dibujuk. Dah ibu tinggal dulu. Biasanya yang masak istri kamu. Sekarang repot kan. Karena cemburu kamu. Mana Bapakmu sebentar lagi pulang dari kantor. Ibuk belum masak. Bapakmu pingin opor ayam. Yang rasanya enak cuma buatan si Falya istrimu. Sekarang terus gimana...hayooo ?" Ibuknya muring-muring sambil menggerutu di dapur.
Sudah jam 14.30, belum juga dibuka pintunya. Sedang ibunya bolak balik ke dapur meja makan buat nyiapin makan Bapak. Alhasil cuma sayur asem, sambel tomat dan goreng tempe.
"Assalamualaikum, Bapak pulang." Teriak Bapak.
Sambil mengabsen putra putrinya sambil salaman dan segera bertanya aku tidak ada disitu.
"Ahmad, mana istrimu kok Ndak ada ?" Yang ditanya bingung dan beralasan
"Dibangunin dulu diajak makan, kasihan. Pasti nunggu Bapak baru mau makan."
"Tadi sudah makan mie ayam Gajahan, pak. Palingan ini tidak mau makan."
"Terus kamu makan sendiri....gitu ! Bangunin aja kasihan anak orang gak kamu perhatikan !" Mas Ahmad cuma diam sambil ngemilin tempe gorengnya ibuk.
"Buk, mana opor ayamnya anak mantu ?" Bapak teriak manggil Ibuk. Semangat-semangatnya pulang yaaa yang dituju gak ada di meja makan. Bikin moodnya bapak juga bete. Tapi Ndak papa masih terobati sayur asemnya ibuk segerrr bisa nyegerin hati Bapak.
"Anu, pak. Si Falya Ndak keluar dari kamar, lagi marahan sama anak Bapak. Gara-gara Ahmad kelewat cemburu dan over protective sama anak mantu, Bapak. Sudah dari pagi ibuk lihat menantu kesayangan Bapak marah-marah melulu."
"Betul mad... Apa yang dikatakan Ibumu ?"
"Enggih, Pak. Betul. Lha wong namanya sayang Lo, pak."
"Masih nge-les kamu, le ? Ayo bangunin istrimu. Dirayu, masak kalah sama Bapak yang pinter ngrayu Ibumu."
"Sudah, pak. Ndak ngefek. Mungkin ketiduran."
"Dibuka dari luar, itu kunci cadangan kamarmu." Bapak sambil menunjuk kunci cadangan rumah yang banyak itu di sudut pojok atas. Mas Ahmad langsung semangat 45. Kok Ndak dari tadi terpikir itu.