A. N. S

A. N. S
Asyiknya Punya Suami Tanggung Jawab



Keesokan paginya kita berangkat ke Solo. Seperti biasa pakai Hem kotak-kotak hitam, celana jeans hitam, sepatu kets, kerudung hitam, masih khas tomboy. Walaupun tidak lepas dari cincin emas sebagai tanda istrinya Ahmad Nur Said.


Yang empunya istri, nglihatin istrinya hanya tersenyum-senyum sendiri. Posisi istrinya berdiri ataupun duduk di kursi bulat kayu yang divernis, kadang menempel padanya kadang berdiri menjauh saat menerima telpon dari koleganya. Membuat sangat tidak nyaman ketika istrinya sedang berbicara meski hanya di telepon dengan kolega pasti laki-laki, membuatnya sedikit cemburu. Harus bersikap dewasa, istriku hanya sebatas kerja.


Masih di tempat fotocopy depan kampus, hendak mengambil jilid an enam skripsi untuk dimintakan dan diserahkan ke dosen penguji dan pembimbing serta perpustakaan.


Kringgggg....nada ponsel istrinya bergetar.


"Sayang, terima telponnya disini saja kenapa ? Ndak perlu menjauh dari mas ?"


"Oh, boleh ya. Maaf."


"Ya bolehlah, biar suaminya tau istrinya ngomong apa dengan lelaki lain."


"Astaghfirullah hmmm....hanya sebatas kerja mas. Kayak Ndak kenal istrinya aja."


"Ya pingin tau aja, istrinya ngomong nawarin benih kayak gimana. Jadi kepo...."


"Yang jelas Ndak ada ngomong sayang-sayangan seperti mas ngomong sama aku."


"Yaaa kalau ada......!" Belum selesai dia bicara aku sudah mengangkat telepon dari kolega toko distributor pembeli benih dari Kendal.


"Halo, Assalamualaikum..."


"Wa'alaikummusalam warohmatullah. Mbak, gimana nih stok benih melon Alamanda sudah siyap beredar belum dari pabrik ? Ini permintaan klien bertambah dari hari ke hari. "


"Alhamdulillah iya, pak. Permintaan naik. Alhamdulillah dari pabrik sudah siyap beredar. Rencana Toko Bapak mau mengambil berapa kotak ya ?"


"Harga net berapa, mbak ?"


"Untuk pembelian berapa kotak, pak ? Kalau harga ECER kita lepas dua ratus dua puluh ribu, pak."


"Berapa ya, memang net segitu mbak ? Tidak bisa kurang ?"


"Bisa sedikit pak, Bapaknya mau ambil berapa kotak. Nanti saya hitungkan ulang dulu."


"Baik, mbak. Satu kotak itu isi sepuluh pack ya mbak. Sementara saya mau ambil sepuluh kotak. Atau mbaknya hitung dulu jatuhnya berapa nanti saya tambah ordernya tinggal nambah berapa kotak gitu !"


"Baik, pak. Saya tutup dulu telponnya."


"Okay, terima kasih sebelumnya."


...----------------...


Kringgg.....


"Halo, Assalamualaikum."


"Wa'alaikummusalam warohmatullah, Pak Deni marketing area Solo. Gimana pak, kabarnya?"


"Siyap, Pak Deni. Saya minta nomor WhatsApp yang bisa dihubungi dari toko itu. Nanti saya tindak lanjuti. "


"Okay, sudah saya kirim mbak."


"Rencana pengambilan berapa kotak ini, pak. Tokonya. "


"Seratus tiga puluh kotak, mbak. Banyak kan sebenarnya. Tapi net nya perusahaan segitu."


"Baik, Pak Deni. Nanti saya akan bernego dengan pemiliknya. Sementara Pak Deni bisa membuka pintu lain ke toko selanjutnya."


"Terima kasih, mbak. Saya tunggu kabar baiknya."


"Terima kasih kembali, pak."


...****************...


"Skripsinya sudah selesai dijilid, sayang."


"Alhamdulillah iya, mas. "


"Berapa mas habisnya ?"


"Sudah mas, kasih ke mas fotocopynya."


"Lhoh,,,itu kan skripsiku mas. Harusnya aku kan yang bayarin mas. Nanti uangnya mas habis looo ....."


"Kamu dan skripsimu kan tanggunganku, sayang. Tanggung jawab suami."


"Lhoh....Ndak bisa begitu. Jadi tidak enak."


"Uang gajimu ditabung buat jajan kamu. Biaya skripsi dan menghidupi kamu itu tugas kewajiban mas, sayang."


"Iya udah, nurut aja deh aku. Daripada kena marah, Pak Imam Rumah Tangga."


"Begitu lebih baik lebih berpahala ngikutin apa kata suami."


Setelah memasukkan semua jilidan skripsi segera memasukkan ransel dan bergegas ke kampus dengan menaiki sepeda kembali.


Jam delapan tepat, para dosen yang dicari belum sampai kampus. Dicari satu persatu dosennya oleh mas Ahmad dan aku disuruh menunggu di bangku depan tangga samping gerbang masuk, pas depan ruang dosen.


Sembari menunggu, aku menelepon kolega-kolegaku tadi untuk membuat penawaran kesepakatan harga beli. Alhamdulillah masalah penawaran kesepakatan sudah teratasi. Dari masing-masing kolega sepakat dengan penawaran yang aku berikan dan sedikit mengurangi harga net. Rata-rata mereka mengambil seratus lima puluh kotak dan masuk kolega baru dengan pengambilan dua ratus kotak.


Alhamdulillah selesai sudah tugas dari marketing-marketing wilayah yang mengalami kesulitan tadi. Bukan hanya pak Deni saja, namun ada pak Harta, pak Adma, pak Tama, Pak Abna, Pak Ibnu dan Pak Didin.


Segera mereka transfer ke perusahaan dan selanjutnya tugas marketing area itu mengantarkan produknya ke masing-masing toko.


Alhamdulillah, lega rasanya bisa membantu mereka. Aku hanya berdiri di balik layar, terkadang para kolega juga ingin bertemu dengan aku. Nanti suatu saat ya pak. Kalau sudah saatnya saya akan tampil.