A. N. S

A. N. S
Harusnya Dimarahi, Malah Kena Marah



"Iya kan, memang kamu pencemburu, Mad. Kayak Bapakmu...!!!"


"Ee...apaan kok Bapak ditunjuk pakai irus sayur gitu. Mau diciduk nih...!" Kelakar Bapak saat Ibu mertua menunjuk Bapak dengan irus sayur. Dan mereka semua yang berada di meja makan tertawa terkekeh-kekeh.


Kemudian aku terbangun, aku berjalan perlahan. Ohh ternyata mereka sedang berkumpul disana. Ada perasaan cemburu, kok gak diajak makan. Sambil bersungut-sungut, aku kembali meraih ponselku.


Masyaa Allah sudah ada panggilan masuk hingga lima puluh kali dari nama yang berbeda. Netraku terbelalak dan mulai mengembalikan energi marketing dengan minum segelas air putih. Ku baca pesan klien, marketing area dan kolega baru, sambil ku biarkan nyawaku masuk kembali dalam ragaku. Setelah baterai nyawaku penuh, aku telepon mereka satu persatu di meja kerjaku.


Satu persatu hingga nomor ke lima puluh panggilan telepon sudah ku atasi dalam waktu dua jam. Sampai aku tidak sadar ada mas Ahmad yang membiarkan aku telepon. Kadang aku tertawa lepas dengan mereka, kadang serius dan kadang ada perdebatan sedikit.


Sampai-sampai aku membuat cemburu dengan gaya marketingku. Menggunakan trik dan tips jitu untuk mengikat pembeli baru dengan jumlah orderan hingga sepuluh sampai dua puluh kotak. Aku berikan harga net terendah terkadang masih ku berikan bonus satu potong kaos.


Sambil terus mengunyah buah anggur yang sudah tercuci bersih jadi tinggal camul plung makan saja. Hingga tak ku sadar semua telah ku lahap dengan aku berbicara panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua dan masih dikalikan dengan jari-jari lingkaran.


Alhamdulillah sudah selesai semuanya tanpa hambatan dan dedek bayi tanpa berkomentar. Dia tau Umminya sedang bekerja. Dia enjoy kelihatannya.


"Sudah selesai telpon-telponannya dengan mereka. Hampir dua jam looo. Sampai tidak tau suaminya pulang !" Dengan nada kesal dan marah Mas Ahmad aku cuekin.


"Siapa suruh pulang kerja, makan aku gak diajak. Semua tertawa bahagia di ruang makan. Seolah bahagia hanya milik kalian. Dan aku disini cuma numpang tidur !"


Aku tidak menggubris dia mau marah, mau cemberut, mau kesal, mau senewen. Aku tidak perduli.


"Maaf, kok yang marah jadi kamu, sayang ?"


Belum sempat aku melanjutkan pembicaraan dengannya, Kepala Manager Perusahaan sudah telpon.


"Halo, Assalamu'alaikum Pak."


"Alhamdulillah Terima kasih, Pak. Atas kepercayaan yang diberikan untuk saya. Tapi mohon maaf, bisanya bekerja saya diatas jam satu atau dua siang ke atas. Karena kondisi badan yang tidak bersahabat."


"Oh, tidak apa-apa kita maklumi semua itu. Dan Alhamdulillah perusahaan memberikan reward atas prestasi kamu, kenaikan gaji serta jabatan sebagai kepala marketing."


"Alhamdulillah terima kasih banyak, Bapak."


"Saya akhiri dulu ya pembicaraan kita. Semoga sehat selalu dan wassalamu'alaikum warahmatullah."


"Wa'alaikumussalam warrohmatullah....!"


Alhamdulillah notifikasi dari rekening mobile berbunyi, gaji bulanan cair, dengan sejumlah reward dan hadiah dari perusahaan Masyaa Allah. Memang ini rezeqi untuk dedek bayi ini. Aku langsung sujud syukur dan tak henti-hentinya mengucapkan Hamdalah.


"Ada apa ? Coba lihat ponselnya ?" Mas Ahmad kaget ketika aku sujud syukur dan segera menyerobot ponselku ingin tau apa yang terjadi. Bertanya menganga melihat kenaikan gaji bulanan, ditambah reward dan hadiah-yang lain atas prestasi kerjaku melalui m-banking.


"Masyaa Allah dua puluh juta lebih.....!!!! Gajimu ternyata segini banyak. Pantesan saja kamu dulu bisa kuliah dengan biaya sendiri ! Gajiku mana ada segini !"


"Main serobot saja !"


"Maaf....maaf....maafin mas, kelewat cemburu."


"Besok-besok kalau pulang kantor, yang dituju istri dan debay nya !!!! Bukan ruang makan !"


Ohhh istriku dia marah, Yaa Allah. Jadi serba salah. Harusnya aku yang marah, malah aku yang kena marah.