
Alhamdulillah semua paraf dari dosen pembimbing dan penguji sudah terisi semua. Hari ini sudah clear tinggal menyetorkan kembali naskah skripsi yang terjilid lengkap dengan paraf dosen pembimbing dan penguji.
Dua jilid skripsi untuk dua dosen pembimbing, dua dosen penguji dan satu untuk diserahkan ke perpustakaan. Sedang satu lagi sebagai peganganku.
"Alhamdulillah sudah semua sayang, yuk kita mengurus administrasi wisuda kamu."
"Tapi aku lapar, mas." sambil aku membisikkan ke telinganya. Malu kan kalau kedengaran teman disampingnya.
"Hah masak baru jam sepuluh sudah lapar, sayang ?" jawabnya sambil face to face kita matanya mendekati hidungku.
"Ndak tau ini kayaknya perutku lagi bermasalah, mas !"
"Ya sudah kalau sudah selesai nanti kita makan." Mas Ahmad menggandeng erat tanganku.
"Aih...aih...mesranya pasangan suami istri ini. Sudah sukses mengantarkan istrinya wisuda. Apa juga sudah sukses jadi Bapak, ya?"
"Hah...itu lagi pertanyaannya!" Jawabku kesal dan menggerutu.
"Sebentar lagi, doakan ya !" Ujar Mas Ahmad.
"Siyap." Ujar Hendrawan si kalem.
"Wagih, Hendrawan, Eko, ku tinggal dulu ya nganter istri ke bagian administrasi wisuda. Biasa masih suka manja dikit-dikit marah kalau Ndak ditemenin."
"Iya, sippp....!!!" Jawab mereka serempak.
"Apa mas bilang. Enak saja." Sambil ku cubit perutnya yang gendut.
"Nhah ini kebukti kan, marah."
"Ini Ndak marah, tapi sensi bawaan."
"Bawaan siapa ?"
"Bawaan keturunan."
" Bisa aja, kamu dik. Semua pada ngiri sama kamu. Kuliah cepat selesai dan wisuda di depan mata."
"Semuanya berkahnya punya suami seperti kamu, mas."
"Alhamdulillah, aamiin. Terima kasih sudah dikasih kepercayaan."
...****************...
"Bu Kesi, mau membayar administrasi wisuda."
"Lhoh, Ahmad bukannya kamu sudah wisuda ya ?" Hapal betul ibu itu sama face nya suami.
"Bukan saya, Bu. Ini ngurusin wisuda istri."
"Mana istrimu, Mad. Belum kamu kenalin sama kita ...!" Wah padahal aku sensi banget sama pegawai administrasi Faperta ini. Terlalu garang dan judes menurutku.
"Ini istri saya, Bu." Tunjuk mas Ahmad ke arahku, dengan merangkul bahuku.
"Lhoh ...mbak ini, to. Kalau mbak ini nih tampang familiar, Mad. Tapi kita belum tau dia istrimu." Sambil mereka melirik ke arahku.
"Haish....ibu kesi itu membuka sensi aku aja, bikin pamorku turun."
"Kelihatan sensi banget sama orang administrasi !"
"Ahh... sudahlah Ndak usah dibahas. Aku tunggu dibangku depan ruangan ini, ya mas. Bikin bete aja. Nanti tolong aku kasih perincian administrasi wisuda berapa. Aku yang bayar. Nanti uang mas habis." Segera ku lepaskan rangkulannya.
"Lhoh marah beneran. Tumben Sensinya dominan banget nih istriku." Gumamnya.
...****************...
Baru duduk sebentar gayung bersambut, ada komunikasi dari marketing wilayah. Daripada bengong mikirin kesenian dengan orang-orang itu.
"Rencana mau ambil berapa kotak, nih pak. Koleganya ? Sudah ditawari Promo yang sudah kita bicarakan kemarin ?" Tanyaku ketika telfon dengan Pak Heru. Ini cowok cakepnya selangit. Care nya itu Lo bikin goyah. Mesti harus bisa jaga jarak, dia juga udah berkeluarga. Kenapa juga aku harus satu team sama dia.
"Sudah, ini orangnya minta konfirmasi langsung sama kamu. Gimana ?"
"Ya, udah nanti saya tindak lanjuti. Tolong kirim nomor WhatsApp konsumennya."
"Siyap, kakak....!!!!"
"Haish....!"
...****************...
"Sudah selesai, dik. Dilihat dari caranya ngomong telpon sama teman yang gak biasa."
"Lhoh apa sudah selesai administrasinya. Katanya mbayar wisuda." Aku mengalihkan bicaranya.
"Sudah selesai, sayang. Kamu keenakan telponan sama Heru mesti."
"Iya, dia kesulitan menghandle toko distributor gede di Semarang."
"Kamu itu kerjanya seperti wayang, Ndak kelihatan, tapi kelihatan kerjanya nyata ada. Pasti telpon dengan mayoritas laki-laki semua. Bikin suami senewen cemburu buta."
"Cemburu dipiara, Ndak ada hasilnya. Masak iya aku dicemburui. Hahahaha... Penyakit Lama Bersemi Kembali...!"
"PLBK dong....?"
Aku jawab dengan full senyum melebar terkekeh-kekeh.
"Oh iya tadi ada pesan dari dosen Yeti. Aku disarankan untuk check up ke tenaga kesehatan. Tapi aku baik-baik saja. "
"Menurut Ibu Yeti gimana ?"
"Aku sudah garis merah tiga Minggu."
"Alhamdulillah. Masyaa Allah." Terpancar kebahagiaan dan senyuman pada bibir laki-laki ini. Sini menolak Garis dua Merah. Situ yang bahagia. Ahhh...aku jadi pusing.
"Yaa sudah, kita pulang yuk. Administrasi wisuda sudah selesai tinggal menunggu gladi wisuda nanti ditanggal dua puluh Februari. Jadi gak sabar ke rumah bidan nanti sore....hihihi... akhirnya doaku dikabulkan."
"Hemmmmm ....!!"