A. N. S

A. N. S
Banjir Keringat



Jam tujuh tepat kita sudah sampai kampus kebesaran. Terasa senang, takjub, terharu memandang hiasan kampus lengkap dengan ornaments khasnya perayaan wisuda. Para resimen mahasiswa berderet-deret di depan kampus menyambut kedatangan tamu dan undangan.


Turun di mobil Dik Nissa segera menyiapkan sandal dengan highel standar tidak tinggi sekali seperti teman-teman biar kelihatan anggun. Bukan Anggun C. Sasmi Lo ya. Mas Ahmad juga sibuk memakaikan baju kebesaran untuk wisuda alias Toga kepadaku.


Seraya aku menundukkan kepalaku, karena memang dia sama aku lebih tinggi aku dalam keadaan normalnya.


"Kamu cantik banget, yang !"


"Hemm... Alhamdulillah mas."


"Sudah siyap mengulang wisudaku dulu, saat kamu aku lamar ya ?"


"In Syaa Allah, doain aku baik-baik saja sampai acara pertama selesai. "


"Iya, semoga. Tapi mas akan dampingin kamu di dekat kamu. Mas gak tega, kalau nanti kamu tiba-tiba pingsan. "


"Iya, mas. " jawabku sambil membalas genggamannya.


"Sayang, itu rombongan ibu baru datang." Mas Ahmad sambil menunjuk mobil Cherry abu masuk di pelataran kampus dengan dikendarai mas Mario. Terlihat Bapakku duduk di depan, sedang ibuku duduk di belakang Bapak bersama Kakak ipar istrinya Mas Mario dan dua putra dua putri mereka.


Setelah memarkir mobil Cherry mas Mario segera menghampiri aku dan mencium keningku,


"Mas Mario, kebiasaan deh nyium-nyium kening gini. Ntar ada yang cemburu Lo..." Aku sambil membenarkan posisi toga yang miring diterjang ciuman kak Mario.


"Dik Ahmad, Ndak mungkin cemburu. Dulu sudah pernah kita tes, dia sudah kebal. Iya kan dik Ahmad ?" Sarkas mas Mario menggoda mas Ahmad.


Ibu dan bapak kemudian saling berjabat tangan Bapak Ibu Mertua. Kemudian aku dan mas Ahmad mencium kedua tangan mereka. Mas Ahmad menggandeng aku dan mempersilahkan Bapak Ibu dan keluarga mas Mario naik ke Aula kampus di lantai empat sana.


Empat undangan sudah diberikan ke Mas Mario. Mas Ahmad menggandengku selalu saat naik tangga ataupun memasuki lorong tempat kuliah. Berjalan menyusuri ruang kuliah saja sampai lantai empat sudah membuat bumil berkeringat basah kuyub dan napas tersengal-sengal.


Bagaimana dengan dandanan Wisuda seperti ini yang sudah engap karena berkebaya bahan tile rok plisket sedang diluar masih pakai toga, kerasa double banget gerah keringetannya.


Setelah sampai di lantai empat meledak keringat dan ngos-ngosanku. Sebelum masuk ke ruangan, aku berkumpul dengan teman-teman yang akan diwisuda. Sembari mengelap tipis keringatku dengan tisu aku disuruh duduk walaupun teman wisuda lain tidak ada yang duduk. Mereka sudah paham karena kondisi bumil seperti ini.


Mas Ahmad meminta izin untuk mencarikan kursi sesuai yang tertulis di undangan tadi. Dia mempersilahkan duduk orang tuaku dan orang tuanya di tempat yang telah ia siapkan. Kemudian ia kembali kepadaku di koridor ruangan tadi.


Mas Ahmad terus memberikan semangat, sesekali ia mengusap peluh ini. Kadang juga menanyakan apakah aku baik-baik saja, kadang mengeluarkan minum untuk aku minum. Sangat perhatian sekali dia kepadaku.


"Kamu baik-baik saja, sayang ?"


"Iya, mas. Tenang saja. Nanti kalau aku tidak kuat beneran akan bilang ke mas."


"Baiklah. Mas tidak akan meninggalkanmu. Meski kamu nanti naik ke panggung aku akan tetap mengamati keadaanmu."


"Terima kasih, mas."


"Iya, sayang." Kemudian mas Ahmad berdiri dari tempat yang sebelumnya ia duduk jongkok di depanku.


"Fal kamu baik-baik saja kan ? Keringatmu seperti banjir, gitu ?" Tanya AW.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Tidak apa-apa, w."


"Nanti acaranya panjang Lo, Fal. Apa Ndak Mas Ahmad aja yang tampil ?" Ujar Tintin.


"Iya nanti kalau aku tidak kuat biar diganti. Tapi ini masih kuat. Terima kasih ya teman-teman sudah menguatkan aku."


"Semangat ya, Falya. Kamu badannya sekarang jadi gemukan. Itu berarti kita sama-sama gendut. Kita harus semangat untuk diri kita."


"Semangat....kataku."


Tiba-tiba ponsel aku berdering,


"Sayang, masih kuat enggak ?"


"Mas, kayaknya aku sudah enggak kuat deh. Banjir keringat nih. Nih teman-teman pada nyaranin aku buat duduk manis. Gimana, mas ?" tanyaku pada sang Ahmad.


"Iya, sayang. Memang bagusnya gitu. Ibu hamil juga endak boleh berlama-lama berdiri, apalagi pakai sepatu sandal higle tinggi. Ya udah mas, kesitu sekarang."