A. N. S

A. N. S
Bukan Ahmad Nur Said



Mas Ahmad segera menuju  koridor depan aula yang mau buat wisuda itu. Saat ia datang, napasku kembang kempis seolah pundakku ini naik turun memompa aliran oksigen yang masuk dalam tubuh. Hei ada dua nadi dalam tubuhku ini. Napasku semakin memburu. Seperti dikejar hantu. Tapi tidak menakutkan. Bagian dada mengembang mengkerut Yaa Allah begini ya rasanya Ibu Hamil pakai jarit batik dan berkebaya, terasa panas menganga. 


Mengucur deras aliran air bau kecut berasa asin ini. Katanya keringat itu asin. Tapi aku belum pernah mencecapnya. Teman-teman seangkatanku ada yang mengipasiku dengan kipas mereka, yang laki-laki mencarikan Aqua dan tempat duduk untuk aku istirahat sebelum akhirnya mas Ahmad datang.


Jam wisuda perlahan mendekati angka yang disuguhkan dalam undangan tersebut. Kemana nih Mas Ahmad belum datang juga, pikirku. Sedang teman-teman seangkatanku sudah mulai berbaris ke barisan mereka kembali. Saat ini anak Fakultas Tehnik sudah memasuki ruangan dalam gedung wisuda di lantai atas kampus ini. 


Barisan anak Tehnik selanjutnya yang memasuki gedung wisuda anak Pertanian. Ini kemana yang ditunggu tak kunjung datang. Aku hampir pingsan. Karena tak kuat menahan engap, sesak baju kebaya ini. 


"Assalamu'alaikum, sayang kamu baik-baik saja, kan ? Ini dik Nissa aku bawa kesini untuk nemenin kamu. Maaf gedung penuh tamu undangan, kita mesti berjejalan tadi.'


"Wa'alaikumussalam warrohmatullah. Alhamdulillah akhirnya datang juga. Aku gak kuat, mas. Tolong bantuin aku ya buat gantiin posisi aku. " 


" Iya, sayang. Dilepas dulu toganya. Alhamdulillah mas tadi sudah bawa sepatu tinggal pasang toga aja ya ini."


"iya, mas. Sipp...sudah seperti calon sarjana aja padahal udah sarjana dua tahun yang lalu. Hehhehe.... Tapi masih cocok kok mas. Masih seperti Mas Ahmad yang dulu nembak aku buat dijadiin istrinya. Hihihi..." ledekku sambil cengingisan.


"Masih ingat betul ya kamu, dik. Mas aja sudah lupa. Nanti aku tembak lagi deh kamu."


"Buat ditembak mati dong mas...." sahur dik Nissa sambil meringis juga nih anak.


"Btw, ditembak buat jadi apanya mas, nih ?" tanyaku mencari jawabnya.


"Buat ibu dari anak-anakku." jawab mas Ahmad seraya memegang perutku yang sudah kelihatan buncit.


"Masyaa Allah....kakakku ini sedang bucin rupanya..!!"timpal dik Nissa.


"Pake jarit batik ini juga boleh mas,,,,!"


"Emang mas, perempuan."


"Lha kan gantiin aku."


"Hmmm...kamu nih.... Kamu duduk sama dik Nissa di kursi undangan sana tuh. Tungguin mas, dan lihat mas wisuda kedua. "


"S2 dong...." Aku langsung terpingkal-pingkal dik Nissa menertawai kakaknya. Seraya mas Ahmad menyentil telinga dik Nissa yang tak terlihat itu.


"Aduh, sakit mas."


"Ini mah, kamu sukanya ngeledekin mas. Sama persis kayak kakak iparmu."


"Oiya, mas, jangan lupa nanti Nama mas Ahmad bukan Ahmad Nur Said ya yang dipanggil. Sampai gunung Semeru batuk nama mas Ahmad enggak ada." Seloroh dik Nissa.


"Iya iya,,,mas juga tau. "


Aku hanya tertawa terkekeh-kekeh. Sambil merapikan baju toga yang mas Ahmad kenakan, kemudian Salim tangan kanannya hendak pamit menuju tempat duduk hadirin yang terhormat. Mas Ahmad meraih tanganku dan mencium pipiku. Masyaa Allah lembut sekali hatinya. 


Dik Nissa menggandeng tanganku. Mempersilahkan duduk di kursi undangan bernamakan nama Ahmad Nur Said. Ibu mertua memeriksa keningku, Bapak mempersilahkan duduk dan ibuku menciumiku. Wah dapat dua ciuman ini. Alhamdulillah akhirnya bisa duduk di tengah dua ibu dan dua bapak yang sangat menyayangi aku.


Makasih ya mas,,,, kamu telah menggantikan posisi wisudaku. Sambil ku amati prosesi wisuda sarjana S1 ku. Dengan gelar Sarjana Pertanian bukan Insinyur Pertanian.