
"Kak Ahmad, sudah sampai bab berapa kak. Skripsinya?"
"Sudah selesai dik. Bab akhir. Bab pembahasan.Memangnya kenapa tumben betul peduli dengan skripsi aku."
"Wehhh...gitu ya. Karena memang dulu aku terlalu asyik..."
" Dengan cowok. Sekarang cowoknya pada kemana..." goda kak Ahmad yang sedari tadi kita bercakap lama di tangga sambil menunggu dosen pembimbing seminar akhir kak Ahmad datang. Kak Ahmad yang berpakaian putih bawahan hitam dengan sepatu kulit warna hitam dan berdasi hitam panjang itu. Terlihat ganteng-ganteng manis kalau dari dekat.
"Enggak gitu kak Ahmad. Orang jalan sama cowok aja enggak boleh kak. Gimana saya asyik kenal sama cowok ?" jawabku agak tinggi.
"Oiya lupa ada penjaganya lupa."
"Hmm...itu tau." jawabku sambil terkekeh-kekeh.
"Jujur nih, aku lebih suka sama kamu seperti ini dijaga terus sama mas Mario. Jadi aku tinggal pedekate nih sama Mas Mario."
"Kok serasa akrab banget dengan kakak saya kenal dimana kak ?" tanda tanya aku.
"Lhoh... kebetulan rumahku Klaten, Falya. Kamu lupa ya. Bengkel tempat kursus mas Mario dekat dengan Armed kan. Rumahku searah dari situ."
"Hah...masak mas, Eh kak Ahmad ?"
"Iya, betul. Coba nanti pas telepon Mas Mario ditanyain. Kenal sama Ahmad enggak ? Oiya, kamu manggil aku mas Ahmad aja lebih nyaman aku mendengarnya." seketika aku hanya mengangguk mengikuti izinnya.
"Enggak ahhh. Ntar malah ujungnya aku Ndak boleh kenal cowok, dibilangin ke Bapak dan Ibuk. Ndak boleh kuliah, harus di rumah njalani hukuman."
"Kok bisa." tanya Mas Ahmad kepadaku.
"Iya, bisa. Seperti kejadian yang lalu saat SMA. Kejadiannya aku ditaksir cowok. Ditaksir aja Lo mas, saya Ndak membalas sukanya dia. Malah sy yang kena hukuman diskor di kamar Ndak boleh keluar kamar. Alhamdulillahnya kejadian itu pas libur sekolah."
"O, gitu. makanya kamu jadi introvert tapi periang berhati selalu ceria."
"Iya mas." makanya aku dingin sama cowok.
"In Syaa Allah mas Mario begitu kamu nanyain aku, Ndak sedemikian heboh. In Syaa Allah semua sudah tau. "
"Maksudnya, mas ?"
"Ya, tunggu saja, nanti."
"Hhhmmmm........ Mas boleh saya cerita, saya lagi gundah nih..."
...****************...
"Dengan saudara Ahmad ya. Seminar ini." Tanya dosen Sulis yang ternyata dosen pembimbing Mas Ahmad.
"Pesertanya sudah ada untuk mengikuti seminar ?"
"Sudah, pak."
"Baik, dimana ruangannya ?" sambil mas Ahmad membarengi langkah dosen Sulis dan dosen Ongko.
"Mas pamit dulu ya, nanti kamu ikut seminar lo, ya pokoknya. Jangan sampai ndak hadir. Ajak teman-teman kamu, ya. Nanti kita sambung lagi ceritanya. Doakan mas, semoga seminarnya lancar ya."
"Iya, mas. In Syaa Allah."
Hadir enggak hadir enggak ya ke seminar akhir mas Ahmad. Teman-teman pada datang. Masak aku enggak.
"Falya, datang yuk ke seminar Kak Ahmad ? tanda menghargainya kamu ke kak Ahmad." ajak AW.
"Iya."
"Tumben jawabnya singkat, seperti tak bersemangat. Kenapa nih ?" ujar Tintin.
"Ndak papa. Ayo kita ke ruang seminar." ajakku.
"Falya, kamu ndak usah datang aja, deh. Takutnya kak Ahmad lihat kamu, bete. Lihat tuh muka kamu kayak ditekuk gitu." goda si Dew.
"Iya nih anak tumben banget. Mana ceriamu, Fal ?" si Beta ikut-ikutan sebel lihat face aku yang gak semangat sama sekali.
"Fal, kamu jadinya ikut seminar kak Ahmad." timpal Gendut sahabat karib cowok yang juga teman kuliah satu angkatan satu kelas sama teman-teman cewek.
Teman-teman sekelasku ada empat puluh orang kalau terkumpul semua cuma ceweknya cuma kita enam orang aja. Jadi dominan ke cowok.
"Ndak usah datang aja, Fal. Kasihan Kak Ahmad entar kamu kasih pertanyaan di luar batas kemampuannya. Bisa-bisa kamu bantai dengan pertanyaanmu. Seperti seminar kakak-kakak atas yang kamu bantai habis-habisan. Entar musuh kamu banyak lo, Fal." kali ini yang gerecokin gantian si Aslam Tipes dan Nuqul Arwana. Mereka melarang aku ikut seminar Kak Ahmad.
"Falya, yang ada kalau kamu Ndak datang ke seminar kakak angkatan, mereka pada syukuran, R. Kan kamu kritis anaknya. Entah kamu punya dendam kesumat sama kakak kelas seperti Koma dan Kina." tambah Danang anak Sragen.
"Iya, Falya itu anaknya kritis dan penuh pertanyaan tak terduga." imbuh si Kris.
" Gimana teman-teman kita sepakat datang endak ini ?" kata Gendut membuka pertanyaan.
"Yang lain datang aja ndak papa. Aku ndak ikut kalian."
"Hei gak boleh gitu.....!!!!!" Teriak AW. Nih anak juga sama-sama kritisnya sama dengan aku. Tapi masih punya hati dibanding aku. "Penyemangat kak Ahmad itu Falyanthuk." tambah AW.
"Dia harus datang !!!" Tintin berteriak.
"Kalian datang duluan. Aku nanti saja. Aku mau mendinginkan kepalaku rasanya pusing dan panas. Dah kalian silahkan bergabung di ruang seminar. Kasihan Kak Ahmad nanti pesertanya dikit, lo." jawabku. Aku hanya duduk di anak tangga paling bawah. Memikirkan sesuatuh... Mereka ku biarkan pergi meninggalkanku.