
"Kenapa kamu cemberut, dik ? Nggak suka dijemput mas." ujar kata kakakku yang sering ku panggil mas Mario.
"Enggak tuh, mas." sambil bibirku termanyun tak sengaja hingga muncul di spion sepeda jetcooled kakakku, tempo doeloe paling bagus di kelasnya. Ketika masih jaman sebelum jaman semangka. Kalau sekarang sih motor jadul bin langka paling banyak digemari orang.
"Itu bibirnya main nyelonong aja di spion, mas. Gak kerasa ya bibirnya ndak bagus kayak gitu."
"Aih...apaan sih mas. Orang aku bilang ndak papa kok. Suka banget mojokin adiknya. Kalau ketemu berantem, kalau Ndak ketemu langsung saja nyerocos tuh bibir. Di depan umum, lagi. Aku malu mas, dilihatin orang dikirain orang pacaran ?" sebelum mencuat begitu saja. Tak ayal mulutku ngomel melulu di sepanjang jalan. Ngomelin nih kakak laki-lakiku.
"Lhah...sama adik sendiri. Adik kandung mas Mario ya ngapain diributin sih. Biar aja orang mau bilang apa."
"Ya ndak gitu, mas. Aku malu. Dikiranya mas pacarku kan."
"Siapa yang ngatain ? Biar ku tendang sama tendangan taekwondoku."
"Ya maksudku...kalau ada yang Ndak suka sama aku, aku jadi bully-bullyan di kampus gimana. Malu kan... Lihat aja tak adukan sama Bue. Biar kena marah mas Mario." ingat jaman dulu sewaktu mendiang Ibuku masih hidup, masih bisa ku bercerita, bermanja, mengadukan kejahilan kakakku itu. Dan Bue (Ibuk) selalu menjenggung (memukul halus) kepala kakakku.
...****************...
Hari Senin pagi tiba, Bue sudah menyiapkan bekal untukku dan kakakku untuk dibawa ke kos masing-masing. Bekalnya sama dibawain dua tempat. Soalnya tempat kosnya beda. Aku yang kos di belakang UNS kakakku berada jauh di ujung kulon.
Kalau kangen tinggal telpon ke bengkelnya nanti disampaikan dari Bapak yang punya bengkel. Maklum saat itu belum ada handphone yang bisa setiap saat bisa WhatsApp an.
Setengah enam pagi kita berangkat. Kakakku yang sudah manasin sepeda dan aku tinggal nangkring di atas sepedanya. Sebelumnya ku cium pipi Ibuku, ku jabat tangan setengah sepuh itu dan ku ucap salam.
Selalu 'ku ingat, dari kejauhan beliau selalu terisak tangisnya ketika kami tinggal. Kenangan yang akan terukir sepanjang sejarah hidupku. Ada Ibu disetiap suka dukaku.
Alhamdulillah sampai Solo jam setengah tujuh pagi. Kok bisa ... Kakakku paling jago ngebut. Di jaman semangka dulu, suka bersalipan sama bus Sumber Kencono terkenalnya waktu itu. Jam kampus baru mulai masuk jam tujuh, karena pagi ini ada kuliah pagi dengan dosen Pemuliaan Tanaman yang amat sangat disiplin. Jadwal jam tujuh masuk lengkapnya juga harus jam tujuh.
Aku bergegas turun dari sepeda kakakku, dan tak lupa mengucapkan salam dan mencium tangan kanannya. Begitu pula kakakku membalas salam dan tak lupa mencium keningku. Seraya pamit hendak lanjut perjalanannya.
"Jaga diri baik-baik, kuliah yang pinter, jangan suka melamun di kelas, jangan merasa takut dengan kakak kelas. Senyumin aja kalau kamu dibully. Percaya diri, tidak mudah menyerah, pemberani. Itu baru adiknya Mas." sambil tersenyum dan membelai halus kepalaku yang tertutup kerudung.
"Iya mas, Baik. Perintah kakak adalah perintah Raja Mario. Hhhh....." jawabku sambil menyeringai.
" Kakak pamit dulu, ya. Jangan lupa sholat dan puasa sunnahnya ya, dik."
"Siyap, Kak Imam. In Syaa Allah." jawabku sambil kakak berhambur meninggalkanku sambil menenteng bekal dari Ibuku.
Hampa ditinggal kakak, kemudian aku masuk kamar kos. Tak lupa mengucap salam dan mengetuk pintu di kos itu. Segera 'ku simpan bekal Ibu untuk ku makan nanti pas buka puasa. Setelah itu aku bergegas menata buku kuliah dan bersiap-siap hendak menuju kampus. Takut telat bisa-bisa aku Ndak boleh masuk kelas nanti, karena keduluan Ibu dosen dan kakak asisten yang cantik jelita.