
Pendadaran ohh pendadaran aku nervous jika kamu tau. Terbayang menghadapi empat dosen yang membantingku tanpa ampun dengan pertanyaan demi pertanyaan. Ku hela panjang napasku. Ku buang kembali napasku dengan kasar.
Huffttt....Yaa Allah aku nervous banget. Yaqin deh.... Ini gak seperti biasanya. Biasanya menghadapi kolega yang istimewa pun bisa. Ini yang luar biasa. Entahlah menghadapi suhu dari para suhu, sang master dosennya para dosen senior.
Keringat dingin mengucur di pelipisku. Seragam hem putih panjang, bawahan rok model A Clock, sepatu pantofel untuk cewek hitam klimis, berdasi panjang dan berkerudung hitam.
Pikiranku jadi tak tenang entah kenapa. Mondar mandir di depan ruangan pendadaran. Sengaja diajak berangkat sebelum waktunya oleh suami, agar bisa adaptasi dengan ruangan pendadaran pikirnya.
Dan benar aku nervous dan gusar banget. Yaa Allah..... Ayolah jiwaku kamu harus bersahabat dengan keadaan. Suami yang mengurus semuanya di ruang administrasi dan mempersiapkan semuanya, tau betul kalau aku entahlah kebawa suasana kayak begini.
Ada yang aneh dengan diriku. Masak, (maaf) seorang marketing handal bisa menyerah tanpa sebab kayak gini. Kelihatannya ini bukan diriku. Kenapa dengan aku ini. Bismillah Yaa Allah tolonglah aku, mudahkanlah urusanku hari ini, lancarkan lah ujian pendadaran yang sudah ku nanti.
Keringat dingin ini muncul tidak kayaknya keringat orang normal yang nervous. Yaa Allah apa aku sedang sakit. Aku pegang keningku sendiri, tidak aku tidak sedang sakit. Temperatur tubuhku normal. Ahh entahlah. Nanti aku bilang ke suami malah dibully, digrecokin di ketawain. Hah minum Aqua dulu ajalah siapa tau bisa berangsur membaik.
"Persiapannya sudah semua sayang. Nanti pendadarannya In Syaa Allah dimulai jam 08.00. Mas sudah mengurus semua administrasinya, alat peraga dan tempat ujian pendadaran yang dipakai. Ini masih jam nol tujuh lebih empat puluh lima menit. " Mas Ahmad sambil menggenggam tangan kananku yang ketika itu aku duduk di kursi depan ruang sidang.
"Hei...ada apa dengan istri mas ? Kamu sakit, dik. Terlihat agak pucat ?"
"Enggak mas. Kelihatan gimana ya aku, mas ?"
"Tanganmu berkeringat dingin, dik. Kamu gemetar ya ?"
"Sttttt......" Segera ku bungkam mulutnya dengan mulutku.
"Terima kasih ciumannya yang mendarat tepat di bandara hatiku. Tapi mas sedang tidak bergurau sedang tidak ngledekin kamu, sayang. Apa kamu sakit ?"
"Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Nervous akut. Hihihi..."
"Hah ....jiwa marketing kemana?"
"Nhah kan....jadi ngetawain aku."
"Seorang marketing handal baru mau masuk ujian pendadaran aja kedernya bukan main."
"Aishhhh....entahlah."
"Keringat dingin kamu banyak banget. Nih kayak e ada yang tidak beres dengan kamu."
"Aku Ndak papa mas, sedikit grogi itu biasa menurutku."
"Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran untuk sidang akhir pendadaran kamu, sayang. Aku kok khawatir ya dengan kamu."
"Aamiin aku Ndak kenapa-kenapa mas, nyante aja. Kebawa perasaan aja. Do'ain aku ya mas."
"Iya pasti, sayang. Tapi mas Ndak bisa menemani kamu masuk, mas tidak boleh masuk. Mas tunggu diluar di depan pintu ini, ya."
"Iya, siyap....!" Sembari menepuk pipi dan mencubit hidungku. Alhamdulillah setelah diajakin ngobrol sama mas Ahmad jauh lebih baik suasana hatiku. Bismillah semoga bisa mengikuti dan melampaui ujian pendadaran ini.