
Alhamdulillah gladi pertama sudah terlewati dan hari ini gladi kedua. Mas Ahmad yang mengikuti prosesi gladi bersih. Aku duduk di tempat duduk penonton. Apa boleh buat Ndak bisa ngapa-ngapain si bumil kalau sindromnya menyerang. Mual muntah mendera. Alhamdulillah tadi dibawakan jus sari delima dari produknya P*enagen kala itu.
Menikmati dengan mengelus nih perut yang dalamnya sudah menginjak umur tiga belas Minggu. Katanya saat ini adalah saat berteler-telernya ria. Ya sudah ini memang anugrah harus disyukuri.
Sesekali aku melihat dan memperhatikan dengan seksama prosesi gladi biar enggak canggung kalau besok wisuda beneran. Tapi akankah kuat berdiri dan mampu menahan aura yang bercampur baur di dalam gedung aula ini dan di roomnya hotel.
Bau keringat Abi nya saja dia tidak mau, apalagi bau parfumnya orang. Bisa-bisa perut ini kayak diublek dengan memasukkan bumbu-bumbu dapur yang di mix dengan daging bakso sapi. Whuahhh....aromanya bikin mabuk darat tak ketulungan.
Whuk...segera ku ambil plastik kresek hitam untuk mengeluarkan muntahan dedek bayi. Dengan menunduk persis seperti orang yang mabuk kendaraan. Mana toilet kampus juga jauh lagi.
Mas Ahmad yang melihat gerakanku, panik dari atas panggung sana. Dia terbayang muntah yang hebat saat berada di rumah setiap harinya.
Suasana gedung aula bertabur suara deru sound system dan membaur dengan suara mikropon panitia, membuat aku pusing. Yaa Allah seakan ingin aku melarikan diri. Pening kepalaku. Ramai banget suasananya. Hingga sesekali aku terima telfon dari kolega saja endak bisa.
Aku putuskan keluar ruangan saking gak kuatnya dentuman suara sound di gedung ini. Aku memilih duduk di tangga depan aula. Disini walaupun mau rebahan di kursi kuliah mahasiswa tetap bisa santai enggak seperti di dalam gedung wisuda yang carut marut.
"Mas, aku di depan gedung aula. Maaf ya aku pusing dengar musik dan sound di dalam." Ku tulis pesan di WhatsAppnya dia.
"Iya, semoga cepat selesai gladinya."
"Okay."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara wisuda yang ku nanti sudah di depan mata. Itu akhirnya cerita ANS ini hampir selesai.
Pagi itu Falya selepas sholat shubuh sudah dimake up tetangga Ahmad yang seorang MUA. Aku hanya meminta pada MUA itu memberi kesan minimalis naturalis dan enggak terlalu menor dalam make up riasan wajahku. Namanya ibu hamil punya segudang keringat dalam baskom wajahnya. Sedikit dipoles keringatnya ambrol banyak sekali.
Sama saja enggak dibedakin juga keringat banyak keluar dari pori-pori kulit ini. Lipstik juga gitu yang penting kelihatan cantik dan bersinar tidak perlu kelihatan mencolok.
Alhamdulillah selesai rias wajahnya. Tepat pukul 06.00.
Wuehhh....kayak pengantin aja batinku. Aku puas dengan dandanan MUA itu aksen sederhana namun terlihat cantik menggambarkan aku sesungguhnya. Aku yang mandiri dan kharismatik.
"Masyaa Allah istriku cantik sekali jadi pangling lihatnya."
"Alhamdulillah iya dong. Siapa dulu anak Ngawi di lawan."
"Boleh nyium dikit gak ini."
"Jangan, bahaya bisa mual aku nanti."
"Oh iya, lupa. Syndrom bumilnya naik turun. Maklum Bu...agak sulit ini kalau mau nyium posisi pagi." Kelakar mas Ahmad pada Ibu MUA itu.
"Sabar mas, bawaan bayi. Semoga ibu dan debay nya selalu sehat ya mas. Kelihatan ibuknya ceria gini. Seger bawaannya." Kata Ibu MUA itu.
"Iya dong, Bu. Istri saya ini paling bisa nyenengin orang disekitarnya. Apalagi kalau orang disekitarnya pasti jatuh hati sama istri." Sambil melirik ke arahku.
"Jangan didengerin, Bu. Nih orang suka ngibul. Sejak hamil ini saya jadi aneh. Suka banyak gerah, Bu."
"Ya memang seperti itu mbak. Nikmati prosesnya ya. Sabar. Ini nanti juga berlalu setelah kandungan melewati trimester ketiga."
"Iya, Bu. In Syaa Allah."
"Dah ya mbak, mas Ahmad Ibu sudah selesai merias. Ibu pamit pulang dulu. "
"Oiya Bu, terima kasih sebelumnya." Sambil mas Ahmad mengeluarkan amplop berisi tips untuk Bu MUA itu.
"Sama-sama mas. Mari semuanya. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam warrohmatullah..." Kami menjawab seraya bersamaan.