
Hari ini adalah Minggu ketiga mendekati gladi bersih wisuda sarjanaku. Ini badan kenapa setelah dinyatakan garis dua merah, lemas pingin merem melulu. Tiap ketemu bantal tanpa pikir panjang langsung tepar tidur pulas.
Dah Ndak boleh ngapa-ngapain sih. Tinggal bobok dan tunggu suami pulang. Mulai berasa mual dan muntah-muntah. Tiap bau parfum dia udah bawaannya hough. Jarak radius dua meter sudah kebayang mas Ahmad mau pulang, wah ini nih pasti yang di dalam perut sudah menolak dia datang.
Terkadang karena ulahnya aku dibuat tidur saat terima telpon dari klien. Akhirnya aku rekam saja, pas ada telpon masuk. Pas lagi asyik-asyiknya ngobrol eh menguap tiada Tara. Seperti sebuah dongeng. Dia yang bercerita aku yang bobok. Hahaha....
Kadang kalau anak marketer telpon, tau di diemin pasti suaranya dikencengin biar aku Ndak ngantuk. Kayak bicara ngebentak.
"Bicaranya jangan ngegass dong telingaku masih normal denger kok..."
"Kalau Ndak digituin kamu tertidur kakak !"
"Astaghfirullah nggak segitu juga kali. Berisik tau...bikin gendang telinga pecah."
Seperti itulah mereka. Kadang yang telepon belum dapat solusi aku sudah terkantuk duluan. Kalau aku rekam kan enak. Nanti pas aku bangun aku telepon balik mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiap hari pinginnya maem seger melulu. Kadang makan buah mangga muda, mas Ahmad bilang asem kecut rasanya aku bilang manis seperti gula. Tapi tiap makan nasi belum ada tiga suapan langsung keluar lagi. Seolah dia menolak makan.
Maunya dia cuma makan buah segar seperti layaknya Ibu hamil muda. Yang gak boleh absen nih ya. Fardlu 'ain harus ada mangga muda, anggur import yang besar itu, belimbing, jeruk, pear, pisang dan alpukat.
Kalau sudah maunya mangga muda sedang tidak Musim sampai nangis darah harus ada. Kadang mas Ahmad sampai dibuat bingung akan permintaan yang diperut.
"Salah sendiri dibilangin jangan hamil duluan, aku belum siyap masih maksa. Baru satu kali, kita kesana sudah dungg...!!!"
"Hush...bilang apa itu amanah dari Allah SWT. Berarti kita sudah mampu jadi orang tua. Aku seneng kok nyariin mangga muda, walaupun harus menaiki pohon tetangga." Karena Bapak mertua enggak punya pohonnya. Jadi mas Ahmad harus nyari sampai dapat meski sampai ujung kulon kota Klaten ini.
"Aku mau degan biar dedek bayinya bersih saat lahir nanti dan kulitnya putih seperti aku. Bukan seperti pembalap kayak Abinya !"
"Hei...aku kan bukan pembalap. Kenapa aku kamu bilang aku pembalap, sayang ?"
"Iya, Pembalap itu Pemuda Berbadan Gelap !"
"Astaghfirullah bumil jaman Now pandai berkelakar....!" Sambil mengupas mangga muda sesekali ia tertawa cekikan.
Dia pikir nih lucunya bawaan bayi dari sifatku yang humoris. Ibunya menurunkan sifat tegas tanpa ampun. Hahhaha....
"Iya...."
"Jangan lupa susu ibu hamil diminum sehari dua kali."
"Sudah, mas. Kayaknya tambah cerewet dan suka ngatur nih sekarang !"
"Kalau Ndak digituin bumil suka sensi, katanya Ndak diperhatiin."
"Aihhh...sejak kapan memperhatikan sikap bumil ?"
"Sejak awal kehamilan. Ku catat nih, hal yang buat bumil sensi !"
"Astaghfirullah sampai segitunya.....! Aku aja enggak kebayang sampai situ."
"Sebelum makan buah, makan nasi dan sayur dulu, sayang. Lihat berat badanmu agak turun gini. Dipaksa untuk makan !"
"Enggak mau banyak-banyak. Tiga sendok sudah cukup keluar banyak."
"Mas suapi ya. Biar lahap makannya."
"Boleh. Tapi jangan kaget kalau nanti makanannya keluar lagi."
"Buat kesehatan badanmu juga pertumbuhan dan perkembangan debay, Kamu harus memaksa makan banyak. Untuk kekuatanmu juga, saat wisuda nanti."
"Apa aku akan kuat, mas. Mengikuti prosesi gladi bersih dan wisuda nanti ? Aku Ndak Yakin aku kuat !"
"Bismillah semoga Allah SWT memberikan kamu kekuatan untuk mengikuti wisuda nanti ya sayang. Mas akan jagain kamu."
"Iya, In Syaa Allah, mas." Belum lima sendok sudah tidak bisa dipaksa. Aku keburu lari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutku yang tadi aku makan. Mas Ahmad, membantu aku memijat leher bagian belakang. Lalu mengoleskan minyak kayu putih ke leher dan punggung atasku.
Masyaa Allah kamu sabar, peduli dan sayang banget sama aku mas. Seribu satu Lo, suami yang tidak jijik dengan muntahannya istri. Ia memapahku untuk duduk kembali di meja makan. Dan memberikan vitamin ibu hamil untuk aku minum.
Terima kasih atas semua perhatian dan kepedulianmu, mas.