A. N. S

A. N. S
Layangan Pinangan Hartana



"Lo kamu jangan mikirin perasaan teman kamu terus, Har. Pikir juga perasaan dan nasib kamu. Toh sebelum janur melengkung kamu masih berhak nembak dia. Siapa tau itu bukan jodohnya Ahmad. Siapa tau dia malah jodohmu."


"Ayo, cepat ke perpustakaan. Mumpung si Ahmad tidak kelihatan ke kampus. Ayo tunggu apalagi ....!!!!" yang disuruh masih bingung. Antara malu dan kikuk nembak cewek. Tapi kali ini tetap dia akan memberanikan diri untuk berterus terang.


Dia berpikir jangan kalah sama Ahmad. Sebelum Ahmad mengatakan isi hatinya kepada tuh Cewek, dia harus lebih dulu mengungkapkannya. Dalam benaknya berkata. Ia lantas menyiapkan mental kalau-kalau aku tolak dan berharap pada keajaiban. Karena setau dia, Ahmad sudah lebih dulu mengenalnya.


"Ayo cepetan. Lelet banget kamu, Har." Ajak Pak Rono pada kak Hartana.


"Iya, iya pak. Pak Surono duluan. Ndak enak kalau saya barengan Pak Rono. Saya tak menyiapkan kata-kata dulu, pak. Jangan tergesa-gesa. Saya gugup ini." memang gugup beneran wajah memerah dan kegugupan di mulutnya terasa hingga getaran suara kak Hartana.


" Sudah bilang aja. Dik, aku cinta padamu, aku ingin kamu menerima pinanganku. Dah selesai langsung bawa terbang ke Kalimantan." cerocos pak Rono ke Kak Hartana.


"Ahhh Pak Rono ada-ada saja. Ndak bisa begitu pak. Itu kan Jaman Pak Surono nembak Bu Surono Tempoe Doeloe."


"Wkwkwkwkcekakacekaka..." tawa Pak Rono meninggalkan kak Hartana yang sedang bersiap menuju Perpustakaan.


...****************...


"Eh, yang dinanti datang. Masuk Har. Tuh ada cewek pujaan kamu." Kak Hartana lantas memberi isyarat jari telunjuk di depan mulut pertanda beliau disuruh diam. Kak Hartana terlihat nervous banget.


"Fal, boleh duduk di bangku ini. Tepatnya depan kamu." Tanya Kak Hartana.


" Mmm...Falya. Aku ... cinta sama kamu. Bolehkah aku mengisi ruang hatimu ?" suara kak Hartana sedikit pelan, jantung hatinya serasa bergemuruh dan suaranya tergagap-gagap.


"A....maksudnya kak ?" aku paham sebenarnya tapi aku berlagak pilon tak percaya dengan yang diutarakan Kak Hartana.


"Apa kamu sudah jadian sama Ahmad ?" tanyanya dengan berani.


"Mm...belum kak. Kita hanya berteman." Alhamdulillah batin Hartana serasa plonggg ternyata sahabatnya itu cuma dianggap teman oleh nih cewek. Jadi dia tidak terlalu risau tentang kedekatan Ahmad dengan cewek pujaannya ini.


"Sama halnya dengan Kak Hartana, Kak Andri, Kak Agus, semua sama kak. Hanya teman biasa. " Makkk dieghhh pyarrr....serasa hati kak Hartana pecah tujuh puluh kali pecahan seperti pecahan kaca yang ditempa batu hingga jatuh berkeping-keping.


" Tapi aku melamarmu dengan sepenuh hatiku, Fal. Izinkan aku menjadi pendampingmu. Ehhh maksudku. Saat sekarang izinkan aku menjadi pacar kamu. Kalau kamu belum siyap dengan keputusan ini."


"Kak ...akan ku pikirkan lagi nanti ya. Maaf belum bisa menjawab sekarang. Karena semua bukan saya yang mutuskan." jawabku sedikit pilu karena ini tak adil untuk Kak Ahmad.


Kak Ahmad yang merasa mempunyai perasaan kepadaku, temannya yang menyatakan cintanya duluan padaku. Selain itu aku juga harus memberanikan diri bilang ke kakakku. Tidak mungkin aku melangkah seorang diri. Karena Pacaran sebenarnya endak boleh dalam agama. Sebab itu lah aku harus berani bilang ke Kakak dan keluargaku dulu.


"Falya, kalau kamu bilang IYA suatu saat nanti, kamu masih boleh melanjutkan kuliahmu. Jangan ada keterpaksaan dari hatimu. Aku tulus padamu. Dan begitupun semoga Engkau tulus kepadaku."


"Iya, kak. Saya mengerti. Berikan waktu untukku ya kak. Agar bisa menjawab pinangan kakak. Ini butuh waktu."