A. N. S

A. N. S
Pagar Makan Tanaman



Pagiku bersemangat menapaki kampus. Iya lah bersemangat punya gebetan baru. Ya enggaklah, orang aku pribadinya bawaannya periang dan ceria.


Sesampai di tangga kampus I, sudah ditunggu oleh Kak Ahmad. Senyumnya terbingkis indah dengan guratan wajahnya yang manis.


"Assalamu'alaikum Falya."


"Wa'alaikumussalam warrohmatullah, kak. Sedang apa disini kak."


"Sedang nungguin kamu, Fal!"


"Ini, aku sudah disini, kak. Ada apa ya ?"


"Mmh...Falya, maafin kak Ahmad ya. Kemarin sempat su'udzon sama kamu. Maaf aku tidak tau kalau cowok itu kakak kandungmu." wajah kak Ahmad semburat malu untuk menatap wajahku, tapi berharap permintaan maafnya diterima olehku.


"Maafin enggak ya...." sambil mengerlingkan mata dan memainkan dua jari telunjuk.


"Semoga dimaafin." Kak Ahmad sangat optimis.


"In Syaa Allah sudah saya maafkan kak. Jauh sebelum kakak bilang, aku sudah maafkan Kak Ahmad." jawabku dengan senyum penuh riang tak menampilkan sifat arogan sekalipun.


"Alhamdulillah, Jazakillah Khoiron anti."


"Aamiin wa iyyakum Jazakumullah khoiron katsiron kak Ahmad." sambil tertawa kecil yang menandakan aku periang banget.


Nih cowok kelihatannya jatuh cintanya mulai tumbuh kembali. Matanya berbinar dan tak ada lagi muram di wajahnya.


"Falya...!!!!"


"Kamu aku cariin di kelas kamu belum ada. Lalu aku samperin kesini. Ini ngganggu enggak ya, maaf sebelumnya." sembari kak Agus melihat kami berdua sedang bicara empat mata tampak sopan ia menyapa kita.


"Oh tidak kak Agus, Ini sudah selesai kok. Ada apa ya mencari saya ?" Jawaban saya mengagetkan kak Ahmad yang sedang terdiam tanpa kata. Inginnya kak Ahmad masih berlama-lama dengan kehadiranku.


Hatinya seketika pilu tercecap pandangan Agus anak Teknik Sipil berhasil mengenal dan mengayuh dambaan hatinya. Ia melambaikan tangan kanannya padaku dengan tersenyum menyungging seraya melihat kepergian kami berdua. Tangan kanannya tak sengaja mengepal sebab sebenarnya ada cinta yang terpendam dihatinya untuk calon pendamping yang belum ia utarakan itu.


Sebenarnya Ahmad sudah menimang-nimang niatnya itu, sambil menimbang-nimbang apakah gadis itu pantas ia jadikan pacar seumur hidupnya. Ia sebegitu sabar menyeleksi gadis yang sudah ia kenal itu.


Meski terkadang ketika gadis itu tidak bersamanya ia merasa terpukul karena si gadis bersama teman cowoknya. Entah gadis itu kharismatiknya bagus sekali diantara kaum Adam, hingga bisa dengan mudah ia mengenal teman cowok ketimbang teman cewek.


In Syaa Allah aku tak salah memilih gadis ini sebagai tambatan terakhir hidupku nanti. Aku akan menyemangati diriku untuk menjadi yang terbaik dengan nilai cumlaude In Syaa Allah saat kelulusan nanti. Apalagi aku juga sudah magang di Balai Pertanian Klaten.


Ia berbicara dengan hatinya meyakinkan akan semangatnya untuk meminang gadis itu kelak. In Syaa Allah. Batinnya berkata lagi, tapi ujiannya sangat berat. Dia dikelilingi para cowok yang menyukai kepribadian dan kecerdasan dia. Hmmmm....dia menggumam sendiri, tak disangka ada temannya Kak Hartana yang tengah duduk menangkap gelagatnya yang sedang murung karena gadis impiannya itu.


"Ahmad, kamu memikirkan gadis itu lagi ? Kamu sudah baikan sama tuh anak ?" gertak Hartana.


"Astaghfirullah kamu mengagetkan aku saja Har. Hmm...."


" Lha kamu sadar enggak aku sudah duduk disini seperempat jam nungguin kamu selesai melamun."


"Seperempat jam. Hahhh.... sebegitu lamanya ya aku melamun....ckckckck...." Kak Ahmad sambil tertawa tersipu-sipu.


"Iya... Udah baikan ?"


" Alhamdulillah sudah." yang mengajak omong terdiam tanda tak suka dengan kabar bahagia temannya. Dan Ahmad merasa ada yang aneh dengan Hartana. Kemudian dia melihat muka masam Hartana. Ahmad kemudian berprasangka buruk seketika pada Hartana...apa jangan-jangan Hartana juga jatuh cinta sama gadisku ???????