
"Sayang, itu dosen Yeti sudah datang. Segera konsultasi. Mas tunggu disini ya !" Jawil mas Ahmad yang sembari tadi aku memang tidak konsen ke arahnya dia ngomong.
Habisnya kalau dia ngomong dengan angkatan lama suka lupa kalau ada aku disampingnya. Bener-bener nyebelin. Alih-alih aku ya sibuk dengan marketinganku sendiri. Mayan kan buat jajan.
"Eh, iya."
"Diajakin ngomong suami main ponsel melulu."
"Kan sudah aku jawab, Iya."
"Pagi semua...." Sapa hangat dosen Yeti ke mahasiswa yang berkumpul di area pintu masuk.
"Selamat pagi, Ibu..." Balasan sapa hangat kami hampir bersamaan persis seperti paduan suara koor.
"Yang mau Konsul dengan saya, saya tunggu di ruangan saya ya...sebelum saya masuk ke kelas Pemuliaan Tanaman dua."
"Baik, Bu." Jawabku dan si Irfan temen satu lettingku yang sama-sama mengejar wisuda bulan depan.
"Aku duluan. Datangnya duluan aku kok. Main serobot aja.... Sukanya kamu kan gitu !" Sewotku ke Irfan. Yang berdiri disampingku sedang aku duduk di bangku panjang bersama kakak angkat lama.
"Iya iya. Galak amat sekarang. Aku ngikut di belakangmu aja. Biar sama-sama cepat dapat paraf dosen pembimbing."
"Enak aja... Enggak...enggak sendiri-sendiri saja. Ngikut tak sepak kamu." Nih anak kalau ketemu memang ngajakin berantem melulu heran deh aku. Persis sama seperti Gendut emang balanya Gendut.
"Sayang, masuk Gih. Mas tunggu disini. Ndak papa kan bawa enam jilid skripsi sendiri ?"
"Enggak mas. Nyante aja. Masih kuat kok." Jawabku sambil tersenyum. Teman-teman mas Ahmad menyoraki.
"Aku nitip ponselku mas, nanti kalau aku matikan kasihan kalau ada kolega telfon. Kalau ada yang telfon bilang aja tinggalkan pesan WhatsApp, biar nanti aku hubungi."
"Okay, sayang."
"Sayang....sayang sipatokahan....cuwit cuwitttt.... Kalian makin mesra aja dehhh bikin yang lain kayak nyamuk aja. Alias bikin ngiri. Padahal terpaut jauh ya semesternya kok bisa lengket kayak perangko kayak gini. Ahmad, bagi tips dong...!" Gerecokin temannya aku malu jadinya jadi aku pilih meninggalkan mereka menuju ke ruang dosen.
"Sayang.....!!!"
"Apaan sih kamu, Fan. Aku duluan kamu belakangan. Ngikut aku tak jitak kamu entar."
"Hehehhe.....iya iya bawellll...!" Irfan kembali berdiri diposisi semula tadi.
...----------------...
" Assalamu'alaikum, Buk ?"
"Wa'alaikumussalam warrohmatullah. Masuk Fal. Gimana kondisi kamu ?"
"Alhamdulillah baik, buk."
"Mengeluhkan enggak bertenaga, sering lapar, napas tersengal-sengal, pingin makan yang seger-seger ya...!" Tebak Bu Yeti.
"Iya, Ibuk. Akhir-akhir ini demikian. Mudah capek bawaannya lapar melulu padahal sudah habis satu piring." Curhatku ke Ibuku ketiga ini setelah ibu mertua. Beliau sudah seperti Ibuku sendiri.
Kadang memberikan wejangan, kadang kalau aku salah aku diingatkan dan kadang aku dinasehati. Bersyukur banget punya dosen pembimbing seperti beliau terkadang sama dosen Sulistyo juga demikian. Kalian orang-orang hebat yang selalu mensupport aku.
"Fal, kodrat seorang perempuan itu jadi seorang Ibu dan melahirkan anak. Kamu sudah menikah dengan mahasiswa Ibuk. Seorang Ahmad sudah menjadi suami sekaligus imam yang bertanggung jawab akan kamu, kehidupan kamu bahkan sampai skripsi kamu. Kamu coba pikir, lelaki seperti Ahmad bisa menentukan pilihan kepadamu untuk dijadikan istri. Worth it banget kan ? Masyaa Allah pokoknya."
"Iya, buk." Jawabku sambil menunduk. Agak semu-semu malu karena aku menolak hamil dulu sebelum entahlah apa yang ku pikirkan.
"Assalamu'alaikum, Bu Yeti. "
"Terima kasih, Bu. Saya dengar ada Falya, jadi saya beranikan ikut nimbrung kesini."
Kenapa dosen Lis juga ikut antusias berbicara dengan aku. Apa jangan-jangan Mas Ahmad pernah sharing ke beliau berdua ya. Wah jadi aku dikasih wejangan beliau berdua.
" Iya betul, Fal. Maaf ya Fal, pak Lis jadi kasih wejangan juga buat kamu."
"Iya, Pak Lis. "
"Apa yang kamu pikirkan, Fal. Menikah itu menyatukan dua hati dua karakter yang berbeda watak dan tingkah laku. Apabila imam kamu baik maka pembawaan kamu setiap hari juga akan jauh lebih baik. Imam atau suami yang baik, ya seperti Ahmad, Fal. " Terang Pak Lis.
"Lihat Ahmad, Fal. Agama dan dari keluarga baik-baik. Selama ini kita lihat dia membimbing kamu ke arah yang baik pula. Kamu bilang jangan punya anak dulu, dia okay. Kamu bilang kamu mau kerja dulu, okay."
Bu Yeti menambahkan.
"Iya, Buk."
"Seribu satu Fal, lelaki suami imam yang baik seperti itu. Ahmad tidak pernah marah kan sama kamu ? Tapi kamunya yang dikit-dikit suka marah."
"Iya, Pak. " Sambil tersenyum aku kepada beliau berdua. Jadi malu. Dan terlihatnya masih manja dan masih seperti anak mahasiswa semester bawah.
"Saran kami, jangan kecewakan dia Fal. Tunjukkan kamu istri yang baik, istri yang sholehah. Kalau Allah SWT menghendaki kamu diberi kepercayaan kepada kalian untuk punya momongan, ikhlas ya. Diterima."
"Iya, Buk. In Syaa Allah."
"Jangan mentang-mentang kamu sudah bekerja disana kamu harus kerja setelah wisuda. Coba minta pendapat dulu ke suamimu, boleh endak. Terus langkahnya gimana. Sebagai wujud kamu menghormati dia dan dia mengambil langkah seperti apa kamu harus patuh sama dia. Karena Imammu adalah syurgamu, Fal."
"Iya, Pak. In Syaa Allah, saya akan meminta pendapatnya."
"Jadi anak yang baik, jadi istri Ahmad yang Sholehah ya nak. Doa Ibuk dan Bapak selalu menemani kamu !"
"Terima kasih, banyak Ibuk dan Bapak dosen pembimbing terbaik. Wejangan Ibu dan Bapak tidak akan pernah saya lupakan. Terima kasih banyak sudah berkenan menjadikan saya sebagai anak didik."
"Sama-sama, Fal." Jawab beliau berdua hampir bersamaan.
"Mana yang harus kami tanda tangani, Fal ? Skripsi kamu sangat bagus dan memberi jembatan untuk para perusahaan pertanian dan perkebunan untuk membuka kerjasama proyek dengan mahasiswa Universitas kita. Kami berdua salut kepada kamu !"
" Alhamdulillah. Ini Buk, Pak. Ada enam jilid skripsi yang perlu ditandatangani."
"Hari ini kamu meminta tanda tangan empat dosen, Fal. Alhamdulillah semua dosen hadir semua. Jadi besok kamu tidak perlu capek-capek antar jemput ke Solo Klaten lagi. Kasihan ojeknya."
"Iya, Buk."
"Kelihatannya kamu sudah semakin lemah. Semoga bulan depan bisa mengikuti wisuda. Kalau tidak biar diwakili Ahmad saja, Bu. Melihat kondisi Falya seperti ini. Kita Ndak tau nanti dia teler berat atau enggak !"
"Saya baik-baik saja, Pak, Buk. Kenapa mesti diganti ?"
"Itu menurutmu. Kacamata Ibuk, sekarang kamu dalam keadaan hamil In Syaa Allah sekitar tiga Minggu. "
"Hah ...masak, Buk ?"
"Kamu belum periksa ?" Tanya Bu Yeti sambil memberikan tanda tangan ke laporan skripsiku.
"Belum, Buk. Takut kalau garis merahnya dua."
"Hah......" Beliau berdua sambil berbarengan kagetnya.
Akupun segera pamit hendak undur diri untuk mencari dosen penguji guna melengkapi tanda tangan yang belum selesai.