
Di Perpustakaan.
Ternyata ia mengunjungi perpustakaan tempat ia bertapa dulu dan sekarang. Alias ngobrol santuy dengan penunggu perpustakaan terlama. Pak Surono, Bu Menik, Pak Narto dan dan Pak Darno.
Terlihat senyum dan tawa seperti orang sedang bereuni saja. Ia melihat arlojinya. Membaca keadaan, dia bisa menebak istrinya sudah selesai kuliah.
Sembari ngobrol, pikirannya melangkah berjalan-jalan ke arah labirin ruangan administrasi. Pasti istriku lagi ngumpul sama teman-temannya. Berkumpul dengan teman laki-laki dan perempuan jadi satu seperti kebiasaannya.
Cemburu ini terlalu menguat di hati Mas Ahmad. Tapi ia harus bersabar menerima keadaan istrinya yang memang cantik. Pantesan saja cowok-cowok seisi kampus senang ngobrol dengan istriku, karena dari dulu yang ku tau dia Easy Going. Jadi salah tingkah kalau sudah istri mendekat ngobrol sama mereka.
Aku terbakar cemburu, Yaa Allah sampai istriku marah-marah pikirnya. Iya mungkin aku terlalu Protektif. Aku sayang sama istriku, Yaa Robb. Aku Ndak mau kehilangan dia untuk yang kedua kali.
Tapi aku Ndak bisa membatasi dia. Dia terlalu sempurna. Akhir-akhir ini ia menguji kesabaranku dan menguji kesetiaannya. Ia aku tau kamu capek, harus kuliah, ngurusin rumah, ngurusin aku. Masih harus perjalanan Solo Klaten hampir tiap hari. Dan aku selalu menemani kamu. Belum lagi kalau aku candain kamu, kamu marahnya sampai menyayat hati. Pasti permasalahannya aku cemburu.
Itu berat bagi cewek seperti kamu. Kamu tidak bisa naik sepeda sendiri. Bisanya ku bonceng. Atau dulu dibonceng Gendut. Itu yang membuat aku cemburu buta. Kamu bisa sedekat erat sama temanmu itu. Seperti pacaran. Iya memang aku dengar sahabatmu itu suka sama kamu. Ia lebih rela melepasmu, untuk kamu bahagia bersamaku.
Maafin aku,ya Falya. Aku terlalu sayang sama kamu. Maafin sikapku yang kurang sempurna untukmu. Sampai kamu bilang kamu mau kos, itu sulit sangat sulit untuk aku terima. Diluar nalar pokoknya.
Aku Ndak bisa tidur tanpa senyummu. Aku bakal tahajud sendiri lagi. Bakal sholat munfarid. Enggak enggak bisa. Aku nggak bisa membiarkan kamu marah seperti ini.
Ini dah hampir dluhur kamu belum mencari aku. Ini tandanya kamu benar-benar marah sama aku. Kamu dimana. Aku rindu kamu, walaupun baru beberapa jam saja tidak bertegur sapa.
Pasti sama teman-teman kamu. Iya, sedikit cemburu. Jangan sampai cemburuku menjadi awal marahnya kamu. Iya benar aku terlalu Over Protective. Keringat tadi kamu duduk sama Andri. Panas rasanya hatiku. Sejujurnya aku marah. Tapi kalau aku marahin kamu yang justru marahnya ndak karuan.
Aku akan mencari kamu. Nanti kalau benar-benar kamu marah, kamu pulang ke arah timur. Memaksakan kehendakmu sendiri. Padahal aku belum ngijinin kamu pulang ke rumah orang tuamu. Wah...bisa-bisa aku dinilai suami gak bertanggung jawab membiarkan istri pulang sendiri.
"Bu Menik, Pak Surono saya nyari istri dulu. Sudah hampir dluhur dia ndak nyari. Palingan sama teman-temannya di ruang administrasi menunggu pengumuman pengajuan skripsi."
"Wehhh...masih suka cemburu ini sama Falya. Dia mah biasa kali, Mad. Sama temannya ngobrol bahkan sama temen cowok. Banyak yang suka istrimu Lo, hati-hati !" sumber informasi Bu Menik bicara.
"Mad, kamu belum tau ya kalau Falya biasanya sama Koko yang Gendut itu ke Gramedia kemana pasti sama anak itu. Dulu...Lo. Sebelum kamu niqahin dia." tambah Pak Surono.
Hahhhh.....begitu terkenalnya aku. Netijen aja sampai merekam memori itu. Padahal aku juga Ndak ngapa-ngapain cuma sekedar mbonceng ke Gramedia nyari buku, maen kesana kemari dan paling banyak acara nongkrong makan mie di mie Gajahan.
"Iya, pak. Ndak papa itu masa lalunya istri. Mari Pak, Bu saya ke bawah dulu mencari istri mau saya ajakin sholat dluhur dulu."
" Iya, Mad. Jangan dimarahin ya Erlinanya. Dia anaknya gampang berkecil hati."
"Hehehe....iya Bu. Terima kasih dah perhatian sama istri."
Sambil berlalu dan salaman Mas Ahmad meluncur ke lantai bawah. Ia benar. Hatinya terasa ada yang tersayat.
Saat ia lihat belahan hatinya, sedang membawa secarik kertas pengumuman pengajuan skripsi dengan senyum lebar. Dan teman-temannya membalas. Ada teman cowok dan cewek jadi satu. Terbakar api cemburu yang tidak bisa terpadam walau dengan api petugas pemadam kebakaran.
"Ehem...sudah ada pengumuman dik pengajuan skripsinya ?" aku menoleh ke belakang samping kanan ternyata ada mas Ahmad. Yaa Allah sejak kapan dia disini. Mengagetkan saja. Pasti dia lihat aku sama temanku.
"Iya, sudah, mas." sambil senyum tipis.
"Gimana hasilnya ?" Ahmad berusaha menutupi kecemburuannya. Ia bisa membaca istrinya masih marah padanya. Senyum tipisnya yang teramat dingin untuk dia.
"Alhamdulillah boleh mengajukan, mas. Ini hasilnya." Ku sodorkan secarik kertas itu yang didalamnya berisi IP yang ku raih semester kemarin dan berita pengajuan skripsi. Mas Ahmad kemudian mengambil dan membaca isinya. Meskipun ia sudah hafal kata-katanya.
"Alhamdulillah. Ayo dik, kita sholat dluhur dulu sudah terdengar Adzan tuh." sambil menyerahkan kertas informasi itu.
Aku segera pamit ke teman-teman dan mengikuti Mas Ahmad ke masjid. Ia menggandengku. Walaupun tanpa kata-kata. Ia takut membuka pembicaraannya. Ia tau aku masih marah. Nanti saja habis dluhur aku ajak dia makan di mie Ayam Gajahan. Biar tidak Gendut saja yang bisa mengajaknya.