
Akhir bulan Agustus masih semangat-semangatnya ngikutin kuliah dosen Lis. Kuliah kultur jaringan tak biasanya aku malas ngikutin. Entah pikiranku bercabang kemana. Tak tahu aku. Yang jelas nyawaku sedang tidak ada di kelas matkulnya Dosen Lis. Maafkan saya Bapak.
Mataku mengikuti berputarnya jam dinding di kelas itu. Enak betul ya melamun seperti ini. Kagak ada yang negur. Netraku berkelayapan hingga keluar jauh nun sana.
"Falya...!!!" panggil dosen Lis seketika dengan nada tinggi.
Gendut yang berada di samping kiriku segera mengalihkan lamunanku dengan menyikut sikunya di keningku.
"Aduh...apaan sih kamu, Ndut !" Si Gendut hanya melirik dan mengedipkan dua matanya dan menggerakkan bibirnya hingga manyun ke depan. Seraya bergumam,
"Panggil Pak Lis, tuh ?" seketika aku menengok ke arah mata dosen Lis.
"Saya lihat dari awal masuk, hingga pertengahan mata kuliah saya, kamu tak kunjung memperhatikan saya, Fal ? Apakah ini kelas untuk menyusun lamunan ya ? Apakah kamu akan melakukan percobaan dengan membelah lamunanmu disini dan disana ya ?" Seketika Pak Lis menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah luar kelas. Serta merta aku dibuat tertunduk malu dan malu semalu-malunya, karena perhatian seisi kelas memperhatikan aku.
"E...ehm... Maaf Pak Lis."
"Ada apa kamu sebenarnya, Falya. Tidak biasanya kamu tidak fokus di jam kuliah saya."
"Ehm,,,tidak ada apa-apa, Pak."
"Baik, Pak Lis." sambil meringis menahan malu menahan kaget. Astaghfirullahul adzim tugas makalahnya berat sekali. Itu mah pelajaran yang belum aku pahami. Mana disuruh buat makalah habis itu dipresentasikan di depan kelas Minggu depan. Tuh literatur aku nyarinya pasti banyak sekali dan dari berbagai sumber. Yaa Allah lemes saya,,,,mana itu Lo harusnya presentasi kelompok. Nasib...nasib... Kamu tadi kemana sih Lin. Mikirin apa kamu tuh. Besok-besok jangan melamun lagi deh.... Kapok wis...
" Modyar pora Kowe,,,Fal. Salahmu dhewe kowe melamun dari ujung kulon ke ujung timur gak bar-bar ough." seloroh Gendut (salahmu sendiri, Er. Kamu melamun dari ujung barat sampai ujung timur gak selesai-selesai).
"Alah entahlah. Pikir karo mlaku. Awas ra mbok ewangi tak hajar Kowe." logat Solo nya keluar medhok banget gaes. Yang maksudnya, alah entahlah. Pikir sambil jalan. Awas ya kalau kamu tidak mau bantu, aku hajar kamu.
"Tak bantu doa aja, ya Fal. Kultur jaringan kuy ongel. Aku Mbah e Ra ISO mata kuliah bab Iki mau. E lha kok kamu menyalahi Dosen Lis. Kon gawe makalah Pisan. Bejomu Fal...!" terjemahannya kayak gini gaes kira-kira, Tak bantu doa ya, Fal Aku saja ndak bisa kultur jaringan itu sulit sekali. E lak kok kamu gak ngikutin kuliah dosen Lis. Disuruh buat makalah. Wah nasibmu, Fal.
"Kowe Ki ngenyek aku PO piye, Tin. Wis Yo digarap ngono ae lah. Timbangan e mumet Ra karuan. " (kamu itu menghinaku ya, Tin. Sudah dikerjakan sajalah. Daripada aku pusing).
"Semangat ya, Fal. Yen butuh literatur tak golekne Fal. Tapi tak golekane mas Ahmad, Sik Yo..." cengenges AW. (Semangat ya, Fal. Kalau butuh literatur nanti tak carikan. Tapi aku cari mas Ahmad dulu ya...).
Sambil aku menyeringai,
"Kuwi meneh, aku wis berusaha melupakan. Kok Yo mbok elikne eneh to W, AW. Sajak e Kowe seneng aku tersiksa tekanan hati ngene kieh." (Itu lagi, aku sudah berusaha melupakan. Kok kamu ingatkan lagi to W, AW. Kelihatannya kamu lebih suka aku tersiksa tekanan hati seperti ini).