
Pukul sembilan tepat. Sambil menunggu waktu bergulir menuju pukul 09.15. Aku tengah duduk di tangga depan kelas Pemuliaan Tanaman tadi. Berjauhan dengan teman gank ku yang duduk di tangga utama. Sedang ingin menyendiri. Memikirkan nasibku nanti siang bagaimana... hmmm...jadi sebal sendiri.
"Fal, boleh duduk ?"
"Boleh silahkan, kak Andri." sambil ku tengok Andri sudah duduk disampingku. Aku baru tersadar hemnya samaan dengan aku. Andri memakai Hem berwarna biru telur bebek, sedangkan aku memakai baju Hem cewek warna biru telur bebek juga.
"Samaan nih ya,,,bajunya...!!!! Suwittt....suwittt...." teman gank ku melihat gelagatku yang malu diteriakin. Kok mereka bisa seide sama penglihatanku ya.
"Dah biarin teman-temanku memang sering grecokin kok. butway, tadi malam kamu mengirimkan sinyal batin ya ke tidurku ?"
"Emangnya kenapa?" tanya Andri.
"Bajumu kenapa sama denganku warnanya ?"
"Lhoh kok iya ya sama."sambil dia melirik bajuku dan bajunya.
"Mungkin jodoh, Ndri." Jawab temannya, si Anis sambil berlalu pergi.
"Emang kamu mau kita beneran berjodoh ? "tanya Andri.
" Duhhh terlalu dalam kamu omongin ini, Kak Andri."
"Apa itu karena kak Ans." tanyanya seraya memberanikan diri mengutarakan keingintahuannya padaku.
"Siapa itu kak, ANS. Aku belum pernah dengar. Ahh sudahlah. Aku ndak mengenal siapa itu ANS dan aku ndak mau mengenal pacaran dulu. sudah ya aku pergi dulu. Mau ke Mushola buat sholat Dhuha." Belum sempat ku menjawab pertanyaan Andri aku sudah ngeloyor pergi dari hadapannya.
...****************...
"Falya,...?"Aku memberanikan diri mendongak ke depan setelah memakai kaos kaki dan sepatu.
"Kak Ahmad, ada apa kak."
"Fal, boleh aku tanya ?"
"Iya, ada apa, kak. Kayak serius banget. Apa aku buat kesalahan ke kak Ahmad ?"
"Mmm....iya." Jawab Kak Ahmad sambil menatapku seolah-olah ia sedang marah padaku. Namun tak ia lanjutkan pertanyaannya.
"Saya tak pernah sekalipun membuat kesalahan ke kak Ahmad."
"Bedanya....????"
" Kamu berani dicium cowok di tempat umum ?"
"Hah....!!!" waduh tamat riwayatku. Kak Ahmad menjadi sinis padaku. Bagai disambar petir saat sedang nungging,,, kena deh ujung pantatku...
"Ku yakinkan pada diriku, itu bukan kamu. Ternyata benar itu kamu. Aku jadi merasa ndak simpati lagi ke kamu. Maaf ya..."
"Lo hehehhe....Ndak simpati juga ndak papa, kak. Orang yang saya juga ndak punya perasaan sama kakak. Kalau mau putus emang kita pernah ngomong jadian ya kak. Belum kan ?"
"Malah ketawa lagi..."
"Saya ngomong benar kak."
"Benar apanya ? Benar dicium cowok di jalan dan kamu ndak malu ?"
"Ohhh kemarin itu ?!!"
"iya, kemarin. Tadinya aku mau nyamperin kamu. Berhubung kamu lagi dideketin sama cowok ya akhirnya ku urungkan niatku untuk menemui kamu, Fal."
"Trus, kak Ahmad ini marah atau gimana ya. Saya gagal paham. Apa cemburu....haiyyooo....?"
"Kelihatannya aku urungkan jadi naksir kamu, Fal. Saya ndak sanggup melihat kamu dicium sama cowok."
"Apa naksir ? Ya, itu terserah kak Ahmad. Mau naksir atau berteman dengan aku ya silahkan ndak mau ya ndak papa."
"Begitu ya...????"
"Iya, kak. Asal tau aja deh kak, tiap hari Jum'at sore aku dijemput cowok kemarin, terus ciuman cowok itu selalu mendarat di pipiku. Itupun nanti terulang pas Senin pagi pukul 06.30 sampai kos aku."
"Kok,,,,kamu mau sih ?" sambil kak Ahmad menautkan kedua alisnya.
"Lha wong dia kakak kandungku......" Aku berbalik arah dari arah kak Ahmad. Dan kak Ahmad tak berusaha mengejarku. Ia hanya tergugu di tempatnya ia berdiri. Kelihatannya ia malu untuk meralat ucapannya, karena ucapannya sudah terlanjur menyakiti perasaanku.
Akhirnya ya begitulah.... Aku jarang bertemu dengan Kak Ahmad, kalaupun kita ketemu ya seperti angin lalu.