
Tiba di ruang yang dituju, tampak yang dicari sudah menunggu di depan Lobby bersama kedua orang tuanya dan dua adiknya. Satu dari adiknya yang ngasih undangan di perpustakaan dan yang satu adiknya bercadar hitam besar aku belum mengenalnya.
Kak Ahmad segera mendekat setelah Gendut menyerahkanku disampingnya. Duhhh kayak apa saja menyerahkan. Ada perasaan gimana ya tak karuan. Berbunga-bunga dan kebahagiaan itu muncul tiba-tiba dari balik senyum kami. Aku tak mampu menahan keringat dingin ini. Yaa Allah apa ini ya yang namanya cinta.
Jatuh dari hati dan turun sampai ke hatinya. Ataupun sebaliknya dari Hatinya turun ke hatiku. Cie...cie....sok puitis banget.... Ini sih copy paste jatuh cinta pertama dengan dia.
"Falya, sebelum acara dimulai. Kenalin namaku, ANS. Ahmad Nur Said, kepanjangannya." Duh Masyaa Allah ini ya rasanya pedekate ditembak dan begitu deh.....
Keinget jaman SMA. Ditembak dua kali dua orang cowok. Dua-duanya kasih aku bunga dan sapu tangan. Bodohnya aku dengan Bintara polisi itu aku pilih sapu tangan, akhirnya cinta kandas di persimpangan Empang.
Yang kedua aku juga bodoh, aku pilih sapu tangan akhirnya putus di seberang jalan. Kali ini kalau dia suruh milih antara bunga, cincin dan sapu tangan. Aku tak akan memilih kamu wahai Sapu Tangan. Bikin hidupku jatuh berantakan.
"Falya, kok melamun." Sambil ia memegang erat tangan kananku.
"Ehm...enggak kok Kak ANS."
" Hari ini aku beranikan diri, menembak kamu, pedekate sama kamu dan aku utarakan niat aku melamarmu...!!!!"
"Aduh. Sialan kamu, Fal. Sakit tau." pelan suaranya tapi buatku aku tertawa terbahak-bahak di dalam hati nyatanya aku hanya tersenyum kecil. Alhamdulillah ini bukan mimpi.
"Kamu Ndak harus menjawabnya sekarang. Aku beri kamu cincin emas, bunga dan sapu tangan. Kamu berikan jawaban setelah usai wisuda nanti. Kamu boleh memilih salah satu dari pilihan itu." Kak Ahmad sambil menyerahkan tiga benda itu ke tanganku. Dan dia juga mempersilahkan aku duduk di meja tamu yang telah dipersiapkan panitia.
Sedang kak Ahmad kembali ke panggung podium berkumpul bersama teman-temannya yang lain dengan perasaan lepas. Sangat kelihatan sekali wajahnya yang murah senyum dan terbayar sudah penantiannya.
Dari depan ia sering menatap dan melirik ke arahku. Teman-temannya dan panitia yang mengikuti gelagatnya sambil memberikan applause menarik untuk kami. Masyaa Allah aku bergumam.
Aku bilang pada jemariku, aku akan buang sapu tangan itu aku tak mau hidupku sia-sia. Mencintai seseorang yang sudah memendam lama perasaannya kepadaku hingga akhirnya dia pergi meninggalkanmu, karena ketidak jujuranmu mengatakan aku suka kamu. Di keesokan harinya kamu baru menyadari kalau kamu juga suka sama dia. Itu yang membuat hidup jadi pahit.
Ingin mengulanginya kembali ke masa lalu namun sudah terlambat. Cintanya sudah jadi puing-puing yang membatu. Rasa sayangnya sudah milik orang lain.
Dari meja itulah, tersaji masakan-masakan yang best seller dari hotel Asia saat itu. Aku menikmatinya sambil sesekali bertegur sapa dengan keluarganya. Bapak, ibuknya dan dua adiknya.
Mereka baik sekali sama aku. Tidak memandang aku adik semester kak Ahmad. Itu berarti usiaku hampir sama dengan adik laki-lakinya.