A. N. S

A. N. S
Sapu Tangan Merah Maroon



Dosen Lis, dosen Yeti dan pasrah dosen lainnya menjadi saksi Kak Ahmad nembak aku. Masyaa Allah begitu banyak doa terkumpul, seraya merestui hubungan kita. Banyak yang mendoakan segera dilamar dan naik ke pelaminan.


Menjelang acara hendak berakhir. Kak Ahmad mengkode aku jangan pulang dulu. Ia menyampaikan ke Gendut panitia yang bertugas membawakan koor lagi himne guru saat acara hendak usai.


Gendut menyampaikan pesan itu dan kemudian bergabung dengan grup koor pemandu suara. Dan akupun mengangguk mengiyakan dengan membalas senyuman kak Ahmad dari jauh sana.


Akhir wisuda, para wisudawan wisudawati diminta untuk saling berfoto bersama keluarga, pacar atau mungkin dengan teman mereka. Aku tak enak duduk saja bersama adiknya yang bercadar.


Sambil menunggu cukup lama. Akhirnya kak Ahmad segera menghampiri aku. Dan mengajak meninggalkan ruangan wisuda itu.


Seraya ia menggandeng tangan kananku, memegang erat kerasa sekali ia takut kehilangan aku lagi. Hehehe... Keluarganya masih duduk termangu disana. Hanya aku dan kak Ahmad yang meninggalkan ruangan itu.


Di depan ruangan itu agak menjauh lebih tepatnya di bagian tengah jarak antara lift dan ruangan itu. Kak Ahmad, meminta jawabanku.


" Maaf aku baru memberanikan mendekatimu. Pedekate sama kamu. Aku baru mengungkapkan jati diri aku. Kalau ANS itu aku. Biasa disingkat. Dan dosen-dosen lebih suka memanggil aku ANS." sambil menatap lekat netra kami saling beradu pandang.


"Iya kak. Ndak papa."


"Maaf kalau aku menghilang. Aku dengar dari adikku kamu Deket sama anak gemuk itu. Ternyata cuma temenan. Terus aku denger kamu jadian sama anak teknik. Aku berusaha diam menyembunyikan perasaan sukaku. Tapi kali ini aku tidak mau diam. Aku akan mengutarakan isi hatiku yang paling dalam. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi untuk kesekian kali." sambil mengubah posisi berdirinya hingga seperti laki-laki melamar pacarnya dalam adegan, Do you merrit me...ciyeeeee cieee....


"Apakah kamu bersedia menjadi istriku?" sontak membuat aku terkesima dengan pernyataannya yang tiba-tiba.


Bagaikan disambar mercon di siang bolong dan aku sempat jadi Bagong (bingung) dan membagongkan (membingungkan).


Belum aku berani menjawab dia Sudah meneruskan pembicaraannya.


"Kamu akan memilih apa antara bunga, Cincin dan sapu tangan? Aku akan berusaha ikhlas, karena mungkin aku jauh dari yang kamu harapkan."


" Maaf mas, aku tidak bisa memilih...." belum sempat aku meneruskan jawabanku ia sudah memotongnya.


" Mas Ahmad...", aku memanggilnya kembali. Dan dia membalikkan badan seketika dan mendekat lagi ke arahku.


"Iya, dik. Ada apa... Untuk apa memanggilku ? Aku jauh dari harapanmu, kan. Badanku tidak seperti cowok yang lain."


" Hehehe... Cinta tidak memandang postur tubuh, mas. Aku pingin mengatakan,,, Aku tidak bisa untuk memilih sapu tangan dan bunga, mas."


" Hah...maksudnya ... ?" wajahnya kembali bersinar. Dan menatapku serta merta kedua tangannya dia meraih kedua tanganku.


" Saya ulangi lagi ya. Aku tidak bisa memilih bunga dan sapu tangan. Aku maunya cincin." sambil aku tersenyum dan ia membalas dengan sujud syukur nya. Hingga tak terasa toga di kepalanya jatuh begitu saja. Aku segera mengambil toga itu dan menunggunya bangkit dari sujud syukur.


Ia berdiri dan menunggu aku memasangkan toga itu. Ia tersenyum paling manis di hadapku. Dan segera memakaikan cincin emas itu di jari manis tanganku di sebelah kanan.


"Aku menyayangimu, dik. Ingin segera ku melamarmu. Sudah gak sabar aku menjadikanmu halal."


Seketika ia menggenggam erat tangan kananku dan mengajakku untuk menemui Bapak Ibuknya. Lantas ia memperkenalkan aku kepada orangtuanya. Dan bilang segera melamarku di hadapan orang tuaku.


"Secepat itu kah...., mas." Mas Ahmad mengangguk dan tersenyum.


"Alhamdulillah ikut senang, Fal. Sukses ya Fal. Segera niqah saja daripada menunggu lama. Kasihan Mas Ahmad. Kamu yang enak. Makalah kamu selesai tanpa cari literatur. Tinggal baca dan presentasi."


Candaan teman-teman sekelasku. Alhamdulillah kelihatan bahagia sekali mas Ahmad.


" Alhamdulillah Ahmad, pak Lis dan Bu Yeti ikut senang. Akhirnya kamu bisa memperjuangkan cinta kamu. Falya anak baik. Falya..jangan lupa ya makalahnya..." Ucapan Semangat untuk ANS dan tuntutan makalah yang harus segera diselesaikan.


Yaa Allah kok masih ingat saja dosen kebanggaanku ini dengan tugas makalahku. Sambil mengangguk dan menyeringai..... Rasanya ditagih itu gimana gitu.....ditagih tugas....