A. N. S

A. N. S
Undangan Wisuda bag. 2



Belum juga undangan dikeluarkan dari tas mahasiswa Ekonomi itu. Jantungku berdetak sudah tak karuan. Rithmenya bisa terdengar hingga stetoskop dokter. Hahhh..... Muka pucat pasi. Bumi serasa hendak menimbunku mentah-mentah. Aku panik hingga tak sadar menelan ludah seketika. Seperti aku membayangkan kehilangan sosok itu untuk kedua kalinya.


Padahal aku bisa menyangkal aku Ndak punya hubungan istimewa sama kak Ahmad. Kenapa hati ini mulai merasa kehilangan saat ia sudah tak ada di kampus hijau ini. Yaa Allah apa ini namanya aku sedang jatuh cinta. Aku takut jatuh cinta untuk kesekian kali. Ujung-ujungnya nanti pasti ditinggalin makanya aku gak mau punya pacar dulu. Alahh entahlah.


Nih orang lama betul ngobrak ngabrik seisi tasnya. Apa kebanyakan buku materi kuliah yang dibawanya. Rajin bener nih anak. Aku aja kalau kuliah cukup hemat bawa bukunya. Hihihi....buka aib sendiri. Cukup loose leaf sama pulpen. Dan nanti gampanglah tinggal fotocopy-fotocopy sampai di kos endak tau entar kebaca lagi atau endak. Hihihi....


"Oh ini dia...undangannya. Maaf ya membuat kamu menunggu. Habis keselip di buku catatan Managemen Ekonomi." Aku hanya tersenyum membalas ucapan mahasiswa ekonomi itu. Lidahku kelu untuk mengatakan tidak apa-apa. Sudah Ndak bisa ngomong ini. Lidahku tersekat.


********


Dag...Dig...dug....jederrrr..... Undangan bersampul merah maroon bergambar toga dan buku skripsi itu membuat aku ternganga dan terpingkal-pingkal dalam hati.


Huffttt....kirain undangan pernikahan. E tak taunya undangan wisuda. Ada perasaan bersyukur dan ada perasaan kaget. Wahh...ini kalau betul-betul undangan pernikahan kak Ahmad. Bahaya betul ini. Pasti ada insiden kekecewaan yang menggemparkan dunia hatiku. Hihihi.... Alhamdulillah beruntungnya aku. Tidak jadi pingsan. Hemm...sedikit lemas lunglai ini terobati.


Tapi ada pertanyaan mendesir. Ini kenapa saya diundang ke wisuda kak Ahmad. Kan dia enggak nembak duluan. Nih ngapain aku suruh datang. Apa nggak salah ya.


"Kamu disuruh menjadi pendamping kak Ahmad di acara wisuda hari kamis besok."


"Maksudnya....????" sembari melotot nih netraku. Tak percaya atau berlagak bodoh. Entahlah. Antara bingung dan harus ngomong apa.


"Lhoh...lhoh....bentar. Ini saya nggak ngerti Lo. Maksudnya saya disuruh apa...ya ?" aku tuh terlalu polos mungkin atau mungkin sudah banyak beban di otakku yang berjubal hingga penuh sesak yang harus mesti dikeluarkan.


"Apanya yang gampang. Sulit tau. Orang aku Ndak punya hubungan apa-apa sama Kak Ahmad. Kalau aku pacarnya mungkin iya aku bisa. Mungkin Kak Ahmad salah orang ya ini. "


"Enggak tuh. Kak Ahmad tadi pesannya seperti itu."


"Kok...katanya tadi. Emangnya kamu tadi ketemu Kak Ahmad dimana ?"


"Di rumah. Dia kan kakakku..."


"Hah...kakak kamu. Astaghfirullah.... maaf-maaf ya." hahhhh....terbelalak nih mata sampai hatiku....punya adik di ekonomi dan aku tak pernah tau. Aduh malu deh.... Malunya lagi kalau iya bener aku mau jadian ma tuh kakaknya. Bisa-bisa nih anak ekonomi jadi adikku dong adik ipar.... Yaahhh entahlah.....


"Datang aja ya besok, jangan buat kakakku kecewa."


"Emang aku pernah ngecewain kak Ahmad ?"


"Datang aja pokoknya ya. Itu tempatnya di Hotel Asia."


"Kok maksa banget ya, kayaknya. Kalau aku Ndak mau apa aku harus terima ini undangan. Trus apa kata teman-temannya nanti."


"Yang belum terjadi Ndak usah dibuat takut. Datang ya...!"