A. N. S

A. N. S
Hancur Lebur Pinanganmu



"Dik, maaf lihat Falya enggak ya ?" tanya kak Ahmad terbata-bata menanyakan keberadaanku dimana.


"Oh Falya tadi sama mas Hartana di perpustakaan, kak." jawab AW. Si AW yang takut ini nanti perang dunia. Gimana. Secara dua cowok itu suka sama nih anak. Kok beruntung banget sih anak ini. Aku aja satupun gak kena-kena. pikir AW.


Mas Ahmad sengaja mempercepat jalannya, ia benar-benar ingin mengucapkan terima kasih atas seminarnya tadi. Namun pandangan yang ia lihat di perpustakaan tak mengenakkan hatinya.


Hatinya seraya terkoyak melihat aku dan mas Hartana sedang bersenda gurau. Hati mas Ahmad remuk redam. Sedang ia tahu kalau Hartana temannya juga menyukai gadis itu.


Ia juga tau, Hartana juga sudah mengungkapkan isi hatinya dan pinangannya ke gadis pujaannya. Namun Ahmad sangat yakin si gadis tak membalas pinangan temannya itu. Nyalinya untuk menemui gadis itu kembali ciyut dan ia bergegas berbalik arah dari perpustakaan itu.


Entah apa yang ia pikirkan, batinnya berkecamuk dengan apa yang ia resapi. Caranya Hartana licik di belakangnya dan tatapan Hartana ke gadis itu. Huft menjengkelkan katanya.


"Mas Ahmad..."teriakku ketika aku melihat punggung mas Ahmad berbalik arah menjauh dari arahku. Aku berusaha lari mengejarnya dan ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan seminarnya tadi.


"Ada apa ?" mas Ahmad membalikkan badannya hingga mata kami bertemu satu sama lain.


"Kok dingin banget mas. Apa ada yang salah dengan ucapan ku, Mas ? Oiya saya ucapkan selamat ya mas. Atas seminar akhirnya tadi. Semangat selalu semoga ujian pendadaran Minggu depan sukses sampai wisuda nanti. Butway...sudah ada calonnya belum ya nanti wisudanya ?"


"Iya, terima kasih." jawabnya sengau sambil berlalu meninggalkanku.


Nyesek sih sebenarnya bilang basa basi seperti ini. Apalagi Mas Ahmad dingin banget ke aku. Ndak seperti tadi sebelum seminar, murah senyum. Mungkin lagi bete kali ya melihat pemandangan kita barusan.


"Jangan salah sangka Mas. Aku dan Mas Hartana tidak ada apa-apa. Saya menganggapnya teman saja. Kalaupun dia mengutarakan isi hatinya padaku. Aku ndak suka sama dia. Ndak tau kenapa. Buat mas Ahmad semangat selalu ya. Salam manis dari aku." tulisku di diary pink yang berada di meja kamarku.


"Ahmad...kenapa, Fal ?" tanya Mas Hartana yang mengikuti aku dari belakang. Dan O... Mas Ahmad tadi aku diikuti Mas Hartana pantesan sikapnya dingin gitu. Jadi dia cemburu buta. Hahahaha......baru kali ini ada orang yang secara terang-terangan cemburu padaku.


"Mungkin cemburu..." ujar Kak Hartana.


"Maksudnya...?"


"Ke kita."


"Emangnya kita kenapa ?"


"Kita kan pacaran ?"


"Whatttt....pacaran...? "


"Iya." Hartana begitu Yaqin dengan ucapannya.


"Iya bener. Jangan berlagak bodoh deh kamu." Hartana meyakinkan pendengaranku.


"Pacaran dari Hongkong. Kapan jadiannya ?" tanyaku sambil melotot.


"Tempo kemarin seperti yang aku ucapin ke kamu."


"Maksudmu ? Kita itu jadian, Kak?" setengah tak percaya.


"Lhoh iya kita sudah jadian kemarin, sambil aku menanti jawabanmu. Ketika wisuda nanti ku perkenalkan dengan keluarga dan orang tuaku." Aku terbelalak tak percaya dengan pengakuan Kak Hartana.


"Eh ya tidak bisa begitu. Orang aku tidak pernah menerimamu sebagai pacarku ?"


"Iya. Kamu menerimanya buktinya kamu baik Lo sama aku."


"Lhoh kapan kamu nembak aku ?"


"Namanya orang cinta itu tidak harus mengatakan isi hatinya, dik. Tidak perlu itu."


"Hahhhh......enggak enggak enggak .....!!!!! ENGGAK BISA BEGITU...!!!!!"


"Lha terus pinanganku gimana ?"


"Ndak tau, emang aku mau jadi pacar kamu. Emang aku mau pacaran ? Emang aku suka sama kamu, Kak. Yang bener saja....."


"Lha terus...?"


"Terus apanya. Dibilangin aku ndak suka sama kamu. Dibilangin aku ndak mau pacaran. Dibilangin aku ndak suka masih ngotot."


"Lha terus ini namanya apa, dong ? Kamu perhatian sama aku."


"Kak...aku perhatian sama kamu itu hanya sebatas teman. Jangan salah mengartikan kebaikan dan perhatian orang kak. Bisa jadi ia ingin menghargaimu saja. Bukan cinta itu namanya." terangku saat ia sudah stabil tekanan darahnya.


"Kamu itu...apa hanya ada ANS saja dalam benakmu ? Dia lo ndak berani mengatakan isi hatinya. Lebih gentle aku kan...dibanding dia."


"Gini kak. Entah siapa itu A.N.S aku tak mengenalnya aku tak tau dia siapa. Yang jelas aku tidak menerima pinanganmu. Mohon maaf. Bukan karena masih kuliah atau apalah. Yang jelas ketika aku sudah diizinkan keluargaku menerima pinangannya aku bersedia menikah saat itu juga. Meski aku masih kuliah semester enam. Dengan catatan aku masih diperbolehkan kuliah oleh imamku." aku berlalu pergi meninggalkan Kak Hartana yang sedang goyah pikirannya.


Dunianya menjadi gelap sekarang. Tatapan matanya kesampingnya nanar ia buat. Dan seketika ia porak poranda batinnya. Hatinya remuk redam dengan pengakuan polos gadis yang ia cintainya.