A. N. S

A. N. S
Pacar Yang Terpendam



Dua bulan telah berlalu, sebenarnya aku ingin banget bertemu dengan Kak Ahmad Nur Said cuma ingin minta penjelasan saja. Namun yang ku mau tak munculkan wajahnya di kampus hijau pertanian ini.


Mungkin sibuk dengan persiapan wisuda bulan September bulan depan. Ya sudahlah, seiring berjalannya waktu semoga aku bisa melupakan dia Kak Ahmad atau Ahmad Nur Said.


Atau mungkin dia menghilang karena aktif melanjutkan bertani tanamannya yang ia tinggal selama skripsi atau mungkin dia sudah masuk aktif kembali di kantor pertanian daerahnya.


wehhh....ngapain juga aku banyak mikirin dia. Dia aja belum tentu mikirin perasaanku.


"Hei tomboy berjilbab mlongo aja looo kayak sapi ompong ?"gertakan Koko Gendut mengalihkan pandangan jauhku hingga mendekati pandangan matanya.


"Kamu sejak kapan mengamati gerak gerikku ?" tanya sadisku ke Gendut.


"Sejak kamu melihat arah ruang sidang pendadaran diatas sana. Masih menyimpan rasa untuk Kak Ahmad Nur Said." sambil cekikin dia dan menggelengkan kepalanya. Badannya yang gendut gede kulit hitam bergigi taring, itu sahabatku.


Entah aku Ndak tau kata teman-teman kampus dia suka sama aku. Dia peduli sama aku. Namanya mahasiswa kemana-mana kalau jalan ya akunya sama Gendut itu. Dikiranya pacaran. Aku tomboy berjilbab no comment aja lah.....


"Emang kamu cemburu ? Gendut gendut aku boleh ketawa terpingkal-pingkal sekebon gak nih ?"


"Tertawa aja emang aku lucu itu maksudmu. Ayo kamu ikut ke Gramedia gak nih. Tak tinggal lo nanti." ya beginilah aku sama temenku Gendut yang berbadan gemuk.


Kalau jalan makan sampai ketemu di kampus ya berdua. Dikiranya pacaran karena saking akrabnya kadang-kadang pun tugas kuliah yang ngerjain aku. Giliran aku lagi badmood dia yang ngerjain tugasku.


"Kayaknya aku sudah mulai lupa dengan Ahmad." sambil membonceng sepeda Shogunnya dia, aku mulai meracau di boncengannya.


"Baguslah...kamu sudah sadar."


"Apanya yang bagus ? Siapa yang sadar ? Emang aku ngapain, bicara yang jelas dong. Gak maksud kamu tuh !"


"Bagus Ndak usah ngarep-ngarepin Ahmad. Tuh cowok di kampus mau nyamperin kamu aja Ndak berani. Entah kamu itu cewek istimewa kali ya. Banyak yang ngantre pingin jadi pacar kamu."


" Teman sekelas tuh, ada Ivan yang anak Cilacap itu, kakak kelas yang rumahnya Klaten itu. Kakak kelas setingkat kita aja yang pingin Deket sama kamu ada dua. kakak atas kita lagi, ada kak Taufik, kak itu yang pendiem itu, kak Hartana kak itu siapa entahlah lupa namanya. Kamu aja yang nutup diri."


" Eh Ndut, kamu ini. dibilangin sudah Ndak usah ngomongin cowok susah amat sih. Kalau kamu Ndak berhenti ngomong aku turun dari sepedamu. aku naik line aja menuju Gramedia."


"Iya, iya galak bener....." sambil terus ngomel dua anak mahasiswa itu.


Belum sampai tempat yang dituju, temenku yang tak tahan lapar ini membelokkan aku di Mie Gajah Solo. Sambil memesankan mie dan memilihkan bangku untuk mengisi perut.


"Mau tanya, kamu maunya si Ahmad datang nyamperin kamu gitu. Melamar jadian nikah gitu ?"


"Kamu cemburu....bilang saja kamu suka sama aku. iya to...?"


"Hemm...malah ngeles. Kalau iya kenapa. Kalau endak kenapa."


"Sejak kapan....?"


"Sejak lama. Tapi aku jauh lebih bisa menerima kalau kamu bahagia dengan orang yang kamu sayangi. Bukankah orang mencintai tidak harus memiliki."


hah...Gendut kamu.....herrghh....gak habis pikir sahabat sebaik kamu. Bisa juga bilang seperti itu.


"Kenapa dulu Ndak pernah jujur, dan sekarang hatiku sudah tertambat pada sosok Kak Ahmad. Tapi ya sudahlah....mimpi yang harus diakhiri. Tapi aku nganggap kamu sahabat sekarang ini bukan pacar. Karena sahabat lebih terasa baik daripada sekedar pacar."


"Baiklah kalau itu mau kamu. Deal ya kita sahabat an sampai kapanpun. Pacar yang terpendam akhirnya jadi sahabat yang memendam cinta."


"Udah ah makan yuk. Keburu dingin bisa jadi gendut mie nya kayak kamu."


"Wooo ngacooo kamu....!!!"