A. N. S

A. N. S
Presentasi Makalah



Dari pelataran kamus Pertanian menuju pintu utama. Banyak teman mahasiswa mas Ahmad selevelnya yang belum bisa ikut skripsi kemarin nyamperin dia. Teman-temannya menjabat tangannya satu persatu. Mereka tak mempedulikan aku. Mungkin belum tau ada istrine. Biarlah ....


"Hei, Ahmad. Kebetulan sekali kau datang di kampus. Kamu bantuin aku dah bikin pembahasan skripsiku. Pening sekali aku ! Kata mas Eko gondrong ke mas Ahmad.


" Iya In Syaa Allah, Ko. Aku temenin istriku dulu ya Konsul dosen Lis. Nanti aku balik sini." sambil menggandeng lengan kiriku. Aku lempar senyum ke mereka.


"Aku Ndak suka lihat senyum kamu ke mereka. Terlalu mengharap"


" Haish....apaan sih. Cemburu melulu. Emangnya aku cantik kayak Mona Ratuliu apa ? Sampai-sampai dicemburui gitu. Cemburu boleh mas, tapi jangan berlebihan. Itu kan temenmu masak iya aku enggak nyapa."


"Iya emang cantik. Setiap kamu Deket sama cowok. Pasti mereka suka sama kamu. Kayak Koma itu dulu masih ingat. Pacarnya uring-uringan. Untung aku nyelamatin kamu." mas Ahmad kembali mengingatkan aku tentang kenangan aku dibully temannya Kina dan Koma.


"Oh iya ding. Banyak yang suka sama Falya anak Ngawi. Hahhh..." sambil tertawa kecil menggoda Mas Ahmad yang pencemburu.


"Kalau ini Ndak di kampus sudah ku titik titik kamu..."


" Selamat deh aku dari terkamanmu mas." godaku mesra sambil tersenyum di depan wajahnya.


"Awas Lo ya, kalau di kampus duduk dekat cowok. Aku nggak suka." warning mas Ahmad dengan palu gadanya.


"Iya, biasanya aku lupa."


"Woo gitu. Ya udah nanti pulang sendiri tak tinggal kamu."


"Iya sudah. Aku bisa pulang sendiri. Naik bis Sumber Kencono arah Timur. Hhehehe...."


"Lo kok gitu. Ndak boleh pulang tanpa suami. Harus ada mahrom !"


"Bodo amat, mas. Males dicemburuin terus."


"Iya, iya maaf. Aku tungguin. Manja banget istri aku nih.."


"O gitu ya ngatain aku manja. Siapa suruh nikahin aku cepet-cepet. Aku kos lagi aja deh daripada berantem melulu. Capek mas. Dikit-dikit dicemburui. Dikit-dikit gak mau nganter. Maaf kalau ngrepotin Mas terus." sambil aku menunduk pegel aku tuh. Aku manusia ya punya perasaan lah digituin.


"Eh mulai lagi deh."


"Falyaaaaa... Hoe kita di atas !" langsung ku tengok arah suara yang memanggil aku. Seketika aku gembira setengah mati, ketemu teman-teman gank aku. Ternyata teriakan ketua gankster Sartini di atas sama teman-teman gank.


Seketika aku menoleh sumber suara Alhamdulillah terasa plonggg ada yang mengalihkan pembicaraan.


"Temui pak Lis dulu baru teman-teman kamu. JANGAN DUDUK BERSEBELAHAN SAMA COWOK !!! Manfaatkan waktu. Pingin cepet pulang. Udah gak sabar pingin nerkam kamu !"


"Enggak. Aku nggak mau pulang. Mas pulang aja ke Klaten. Ndak usah ditungguin." mas Ahmad melongo dengan jawabanku yang sambil mencak-mencak.


"Erlina kamu persiapkan ruangan presentasinya ya, Bapak masih ada perlu sama Ahmad."


" Lohhh ini makalahnya bagaimana pak ?"


"Sudah Bapak percaya, Makalahnya sudah bener. Ahmad kan yang mengerjakan." sambil si pembuat hanya tersenyum ke arahku.


Hah.... Sampai detil gini. Sampai tau yang ngerjain makalah asistennya sendiri. Aku dikacangin. Ya udah deh aku keluar. Menuju ruang atas ruang presentasi dan ngobrol sama teman-teman ganks.


Yang ku tinggal segera bingung. Dan pasang muka bete. Untunglah Pak Lis segera mengajaknya bercerita.


Ada juga Gendut disitu. Mereka rata-rata pertanyaannya sama. Yang itu aja. Monoton.


"Oiii....gimana rasanya nikah ???"


Belum pernah nikah makanya pertanyaannya banyak banget. Ada Ivan disitu anak Cilacap.


Hei ada Andri anak Klaten juga. Yang dulu nembak aku, terus belum kasih jawaban. Aku sudah dilamar kakak kelas pendiem yang menjengkelkan itu. Duhhh....kok masih bergetar ya nih hati. Buang...buang aku takut dosa. Bagaimana dengan doi. Apakah masih punya rasa itu.


Wehhh itu pasti ngikutin si Menthek pacarnya Tintin ikut nimbrung disini. Tuh kan dia sambil tersenyum tipis dan melemparnya ke arah Dewik. Hahhh....marah betulan dia. Spontanitas iyalah orang dia lihat nih cincin di jari manisku.


Pak Lis menaiki tangga bersama Mas Ahmad. Wah kayaknya nih suami diajak mendengarkan presentasiku nih. Waduhhhh.....bisa panas dingin ini. Pak Lis memasuki ruangan pertama kali disusul teman-teman sekelasku. Dan ada juga kakak kelas yang kebetulan ikut kelas kultur jaringan II.


" O....ada Ivan sama Andri. Pantesan..."


"Iya...kenapa ?"


"Duduk dekat Andri gak tadi ? Mau tanya jawaban kamu paling. Dulu kan nembak kamu kan ? Belum kasih jawaban pula. Mau aku jawabin tembakannya dia ke kamu ?" sambil cengengesan tuh suami. Gila bener....halahhh yungg...


"Enggak, dijawab pun udah tau dia." wekkk....sambil ku julurkan lidahku.


"Ohhh...apa mau itu. Ayukkk"


"Hahhh otak mesum...."


"Lhoh mas cuma Ndak suka aja."


"Okey lah find. Besok Ndak usah nganter. Terima kasih buat tumpangannya sama cemburunya." Aku segera ninggalin mas Ahmad.


Nih jangan-jangan marah beneran istriku pikirnya dalam hati. Ia berjalan pelan menuju Perpustakaan.