A. N. S

A. N. S
Pengakuan Teman Dekatnya



Jam Matkul kosong lagi. Dosennya ada rapat komite khusus di kampus pusat. Pikiranku berkelana memasang mata untuk menemukan sosok kakak kelas bernama Ahmad. Tak ada di sekitar kelas ini. Ahh mungkin dia tidak ke kampus hari ini. Mungkin dia mengurusi crop di lahan sawahnya yang sedang bertanam bawang merah.


Tak ku kunjung ku temukan juga bayangnya. Kampus ini terasa hampa tanpa bayangmu sekalipun kak. Terasa sepi padahal suasana kampus ini ramai karena para mahasiswa banyak berkumpul di depan kantor dosen pintu masuk kampus.


Mereka bergerombol dari berbagai semester. Berkumpul dengan ganknya sendiri-sendiri. Ada dari semester atas Kak Koma, Kina dan teman seletingnya. Ada kak Himawan dan seletingnya. Ada Andri yang tersenyum dingin ke arahku dengan teman-temannya juga.


Alah males...mendingan aku ke perpus aja deh. Pagi-pagi jam sembilan seperti ini masih sepi mungkin. Bergegas aku meninggalkan kawanan temanku yang sedang membicarakan Field Trip Geologi yang akan dilakukan Minggu depan ke daerah Malang, Jawa Timur.


Aku mah terima laporan beres aja. Lagi bosan dengan pikiranku sendiri. Kayaknya memang pingin piknik. Ya itu nanti Minggu depan Penelitian Geologi.


"Pagi, Pak Surono. Lagi sendirian, Pak." sapaku sopan ke bapak penjaga perpustakaan yang sedang melangut sendiri.


"La kamu yang nemenin sekarang."


"Hah,,,Bapak. Ada-ada saja."


"Iya bener, kok. Eh kamu, kamu ditaksir sama Hartana kok kamu tidak membalasnya sih ?" Pak Surono tiba-tiba membawa berita hangat di telinga. Hal itu juga di dengar Bu Menik juga.


"Iya, Falya. Kamu Ndak kasihan sama Hartana. Dia ngejar-ngejar kamu. Kamunya kurang peka." tambah Bu Menik.


"Hah...." aku ternganga...dibuat tak percaya a oleh dua petugas perpustakaan yang sudah familiar itu.


"Dia sekarang sudah skripsi. Habis lulus dia kemungkinan besar membawa kamu ke Kalimantan. Kalau kamu sudah jadi istrinya, lo. Dia sudah punya jabatan mentereng di Perusahaan Kelapa Sawit swasta disana."


"La, kamu gimana sih, Fal. Kok ndak diterima Eman banget lo." pinta Bu Menik.


"Sebentar-sebentar Pak dan Bu. Kak Hartana itu apanya Kak Ahmad. Soalnya sy belum begitu paham."


"Temannya. Yang sering sama Ahmad itu."


"Lhohhhhh...kapan dia menembakku ??? Ngomong aja belum." selorohku pada Petugas perpustakaan itu.


"Lohhh....belum to.... Wehhh.... pantesan kamu kayak orang linglung. Tak kirain kamu sudah tau, Fal" keduanya lantas terbahak-bahak hingga suara mereka memenuhi ruangan perpus itu. Serasa seperti digelitik katanya.


Aku yang sedari tadi dibuat sewoten sama nih orang. Hmmmmm.... ini sebenarnya seperti mimpi. Masyaa Allah dua orang sahabat bisa jatuh cinta sama aku. Hehehehe....


Buru-buru, Pak Surono keluar dari perpus mencari kak Hartana di kantin Bu Sukir.


"Har, tuh gadis yang kamu taksir ada di perpus. Kamu ini gimana jadi laki-laki belum mengutarakan isi hatimu sudah bilang suka. Aduuuhhh....seumur-umur Bapak. Bapak belum pernah kayak kamu. Ayo, mumpung dia lagi sendiri di perpustakaan samperin dia. Tiwas tak gojloki ternyata kamu belum nembak !!!!"


"Hah...Pak Rono dan Bu Menik sudah bilang ke cewek itu. Aduhhhh saya aja malu belum nembak pak. La gimana saya ndak enak sama Ahmad. Ahmad juga suka sama cewek ini, Pak."