A. N. S

A. N. S
Lambaian Semangat untuk Yang Seminar



Endak tau kenapa ya, kok aku bisa kritis seperti yang mereka katakan setiap mengikuti seminar. Apa iya aku menyimpan dendam kesumat dan membara dengan kakak semester atas. Karena telah membully aku dengan perlakuan kak Kina dan Koma.


Sampai suatu ketika ada mahasiswa dan mahasiswi ketakutan kalau pas aku datang ke seminar mereka. Udah deh, mereka nyerah kalau aku sudah mengacungkan telunjukku dengan segudang pertanyaan yang ada di benakku. Benar-benar mematikan...


Mau tak mau mereka harus mencari jawaban yang benar dan berhati-hati dalam menjawab. Sampai-sampai juga di kalangan mahasiswa yang tidak begitu terkenal di kampus ini, sengaja memohon maaf kepadaku jikalau nanti datang ke seminar jangan tanya macam-macam. Atau kalau enggak gini, jadi penolong saat mereka membutuhkan jawaban.


Ahhh apa aku ini sebegitu pinternya sampai-sampai aku harus begitu. Biasanya aku memilih diam dan hanya sebatas menjadi pendengar radio. Kalau aku seperti ini, yang ada dua dosen pembimbing dan dosen pembantu pasti memberikan kesempatan untuk aku bertanya. Wah kalau sudah gitu yang punya acara, memohon dengan berisyarat menyatukan kedua tangan mereka di depan mulut mereka.


"Demikian penjelasan yang bisa saya sampaikan mengenai hasil akhir dari pengamatan skripsi saya." saat terakhir mas Ahmad berbicara di podium tempat ia menggelar seminarnya.


'Ku tebarkan senyum termanis untuk Kak Ahmad agar semangat. Meskipun dalam hatinya ia was-was jangan-jangan dia akan ku beri pertanyaan yang mematikan. Tapi dia juga senang dan bersemangat saat aku hadirnya belakangan bersama Gendut temenku.


"Wah....bakalan seru nih. Si adik kelas hadir. Dia bisa memberikan semangat untuk Ahmad." bisik teman-temannya yang cewek.


"Sekaligus pertanyaan yang mematikan." teriak Koma.


"Iya, pasti Ahmad mati dengan pertanyaan yang dibuat gadis itu. Mati kutu deh, Mad. Kamu. Dengan gadis pujaanmu sendiri." teriak Kina sambil tertawa menyeringai kepada Ahmad.


"Mungkin ada pertanyaan dari teman-teman semua !" Pertanyaan Mas Ahmad ke seluruh peserta seminar dan tak lupa ia menyematkan senyum simpulnya ke arahku. Peserta seminar yang begitu antusias dengan jumlah ledakan peserta hingga tujuh puluh orang.


"Kamu datang telat, kemana aja sih kamu, Fal. "tanya AW.


"Ngobrol sama Gendut. hihihi..." Gendut pun juga tertawa terkekeh-kekeh. Biasanya kalau aku sedang gundah lariku bercerita pada Gendut untuk mencairkan suasana. Alhasil seketika aku bisa senyum sumringah, ceriaku kembali fresh.


"Heh, Fal. Kamu tau Mas Ahmad skripsinya apa ?" tanya Gendut.


"Tau lah. Dia crop nya bawang merah. Skripsinya juga aku lihat dan aku pelajari tadi ketika aku duduk sama dia."


"Oh, bagus deh. Kamu menguasai betul skripsi Mas Ahmad." imbuh Gendut.


"Fal, sini duduk disamping aku. Biar Deket sama mas Ahmad. Ini ada fotocopy pembahasan dari skripsinya." AW, menyuruh aku pindah di kursi depan di sebelahnya yang kosong. Okey deh aku nurut aja.


Lagi-lagi Mas Ahmad menangkap gerak-gerikku untuk duduk di depan podiumnya. Seutas senyum terlambai dari mulutnya. Aku juga membalas senyumnya itu. Sekejab kak Hartana dibuat cemburu oleh kita. Ia menelan ludah tanda ia tak suka dengan semangat yang hanya 'ku berikan meskipun hanya lewat senyuman.