A. N. S

A. N. S
Ada Apa Dengan Dirimu



"Alhamdulillah sudah terlewati pendadarannya, sayang. Wisuda sudah didepan mata ?"


"Alhamdulillah terima kasih banyak mas, berkat doa dan bantuanmu semua. Tanpa mas Ahmad pasti Ndak kelar cepet "


"Semua karena Allah, sayang bukan mas. Tinggal diperbanyak enam jilid ya, hasil skripsinya?"


"Iya betul, mas. Besok ke Solo lagi, Ndak papa mas bolos lagi?"


"Ndak papa, mas besok izin lagi. Lebih cepat lebih baik. Biar endingnya tinggal nunggu wisuda saja. Ikut wisuda bulan Maret, bukan ?"


"Iya, mas. In Syaa Allah. "


"Satu bulan lagi. Alhamdulillah. Semoga lancar ya. Mas ikut senang."


"Tapi sepertinya ada yang aneh, dengan diriku mas."


"Aneh kenapa, sayang ? Kamu apa sakit ya ?"


"Ya itu maksud aku, mas."


"Yang sakit yang mana coba bilang mas ?" Mas Ahmad kaget langsung terperanjat takut kenapa-kenapa dengan aku. Kemudian ia duduk mendekati posisi dudukku di bangku dosen penguji tadi.


"Aku sekarang mudah capek dan mudah tersengal-sengal napasku, mas, padahal gak ngapa-ngapain."


"Mungkin butuh istirahat, soalnya kemarin habis di lahan tiga sampai empat bulanan kan !"


"Semoga betul karena capek. Aku sekarang berasa ngantuk sekali mas dan bawaan lapar melulu. Kalau Ndak dituruti makan pingin nangis. Kayak anak kecil saja."


"Ya udah yuk makan, nanti habis dari kampus."


"Eh maksudku enggak ngajakin makan. Jadi serba salah. Tapi aku lapar dan pingin maem buah."


"Bilang aja lapar, sayang. Habis ujian pendadaran tiga jam Masyaa Allah, pasti sarapannya ibuk tadi pagi sudah habis di perutmu."


"Hahaha...bisa aja, mas Ahmad nih..." Mas Ahmad seraya membereskan materi skripsi tadi. Aku disuruh duduk, karena lihat Wajah aku yang pucat. Dan mengeluarkan banyak keringat walau bergerak sedikit, padahal disini AC Lo.


Sebelum pulang aku izin ganti baju dulu, daripada capek naik motor di posisi duduk bonceng ala perempuan soalnya pakai rok. Ndak mungkin kan pakai rok bonceng ala lelaki.


Alhamdulillah tinggal pulang, sudah ganti pakai Hem kotak biru kecil telur bebek, celana jins biru Dongker, kerudung biru laut. Nambahin bedak dan lipstik dikit biar gak pucat. Nih kenapa wajahku gak bisa dikondisikan. Ayolah kamu harus sehat, pintaku. Pakai parfum dikit biar wangi dan disayang suwamik. Hehehe...


"Hemm...segernya istri Ahmad, cantik pisan. Tapi masih lesu kayak gini. Enggak bangetz..."


"Nanti periksa ke dokter."


"Aku Ndak sakit, mas. Ndak usah. Nanti juga akan baikan lagi setelah istirahat."


"Ya udah yuk kita ke tempat fotocopy depan kampus. Menjilid dan memperbanyak skripsi. Besok tinggal ambil dan memintakan tanda tangan ke para dosen pembimbing dan penguji."


"Tapi aku capek bawanya. Berat mas."


" Ya, kan mas yang bawa ranselnya. Apa perlu kamu mas gendong ?"


"Hahhh....masih kuat jalan."


"Lagian sekarang manja banget istri mas ini !"


"Masak iya aku sekarang manja ?" Tuh kan ada yang berubah lagi dari diriku.


"Iya, sayang. Manja dan dikit-dikit marah."


Hah....apa betul aku seperti yang dikatakan mas Ahmad. Sejak kapan aku seperti itu. Aku kan bukan tipe merepotkan orang. Sejak kapan aku jadi malas kayak gini. Huft ada yang tidak beres .....dengan diriku, jiwaku dan kondisi hatiku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam perjalanan menuju Klaten, mas Ahmad mengajakku untuk berhenti sejenak melaksanakan ibadah sholat dhuhur jama'ah di masjid besar Kartosuro itu.


Setelahnya dia mengajak makan di tempat makan seperti biasa, wuihhh ada orang jual rujak buah, bikin ngilerrr ajah nihhh....


"Mas, aku mau rujak buah. Tolong belikan tapi jangan pedas."


"Iya, sayang tapi harus makan nasi dulu."


"Iya,. !!" sedikit sudah mulai cemberut.


Habis makan nasi rawon sambung rujak, suami yang melihat hanya geleng-geleng sambil berkata dalam hatinya.


Nih istriku kenapa, kok seperti orang kelaparan makannya. Habis nasi rawon satu porsi bisa lanjut makan rujak. Apa perutnya Ndak penuh? Tapi aku Ndak boleh menegur dia, takut dia marah.


Saat ini dia lagi sensi banget. Kayak anak kecil. Ditegur tidak mau, di marahin tambah marah balik. Persis seperti orang egois mau menang sendiri. Padahal sifat istriku tidak seperti itu biasanya. Benar ada yang aneh.