
"Skripsi kamu bagus sempurna, Fal. Pengamatan hasil yang membentuk kurva, panen berkali-kali, pembahasan hasil, literatur yang dipakai dan hasil rancangan percobaannya juga sudah sesuai. Kalau saya cek, ini revisinya hanya sedikit. Pasti ini juga tak lepas dari dukungan dari Ahmad kan ?" Bu Yeti membuka diskusi konsultasi skripsi pembahasanku. Terkadang memojokkan ku, terkadang ngasih semangat, terkadang merevisi ini itu, seolah kelihatan banget itu bukan hasil skripsiku. Mendengus pelan akunya. Walau semuanya tidak keseluruhan mas Ahmad yang ngerjainnya. Aku juga mengerjakan loo....batinku berdecak kesal.
"Hanya beberapa yang dibantu, Bu. Yang penghitungan data saja. Selebihnya saya yang membuat skripsi ini."
"O begitu. Ya sudah. Semangat ya. Skripsi kamu sudah hampir selesai. Tinggal revisi sedikit beberapa kata pada bagian bab empat dan lima tadi. Ini hari Rabu ya, besok kembali kesini. Dengan skripsi yang sudah sempurna. Sekalian konsultasi dosen Sulistyo, hari Senin sudah lanjut seminar hasil. Alhamdulillah dalam waktu dekat kamu sudah pendadaran."
"Alhamdulillah iya, Bu. Terima kasih banyak atas konsultasi revisi hari ini." Ternyata ya dosen pembimbing tidak melulu menjatuhkan. Menjatuhkan tapi juga ngasih saran, wejangan, semangat dan membantu proses yang lebih baik.
Aku segera keluar dari ruangan dosen, hendak memberitahu ke suami penulis skripsi tercinta. Hahaha..... Tapi yang dicari tak kunjung ketemu. Mungkin dia di perpustakaan sedang bersenda gurau reuni dengan Bapak-bapak dan Ibu Menik disana. Biar sajalah. Aku samperi teman-teman dulu.
"Falya, kamu habis konsultasi dosen Yeti ya ? Wah mesti killer banget ya. Kakak kelas sampai friustasi, nangis-nangis Ndak selesai skripsinya." Cerita panjang lebar si Tintin yang pandangannya info kampus lebih luas ketimbang yang lain. Karena pacarnya si Menthek semester atas beda satu tingkat dengan kita.
"Ahhh Ndak juga. Alhamdulillah sudah selesai aku konsultasinya. Jangan su'udzon sama dosen dulu, belum tentu yang kelihatannya killer jadi killer beneran. Belum tentu yang killer tidak membantu. Alhamdulillah Dosen Yeti tipe dosen yang banyak ngasih semangat dan memberikan motivasi yang sangat berarti."
"Pembahasan bab lima kamu sudah selesai, Fal ?" Tanya Aw.
"Alhamdulillah sudah. Tinggal revisi dikit."
"Kesimpulan juga sudah, Fal ???" Sambung Kris.
"Alhamdulillah sudah. "
"Wah berarti kamu Minggu depan bisa seminar hasil dan pendadaran juga sudah di depan mata. Masyaa Allah cepat sekali skripsimu." Dew menimpali.
"Tanaman cabaimu gimana hasilnya, Fal ?" Gendut juga ikut-ikutan bertanya.
"Alhamdulillah, Ndut. Baik bagus dan memberikan hasil sample yang baik juga. Hasilnya Alhamdulillah melimpah. "
"Tapi diminta perusahaan kan ?" Tambah Gendut.
"Iya, dibeli perusahaan."
"Wah kamu enak ya, Fal. Skripsi ada yang mbantu, di lahan ada yang mbantu pengamatan, perawatan dan pemetikan hasil juga. Saat pembahasan pasti mas Ahmad nggak tinggal diam kan ?" Ujar Mulyani anak Jambi.
"Hehehe, enggak juga. Dia cuma bantu skripsiku di rancob saja sama aktivitas lahan." Ketahuan bisa berabe nih.....
"Dah gitu hasil benih dikasih, hasil panen dibeli perusahaan tempat kamu kerja, Masyaa Allah aku juga mau, Fal. Gimana caranya?" Tanya Adam.
"Coba tanya Bapak atau Ibu dosen, minta proyek perusahaan pertanian untuk kami ambil dijadikan skripsimu. Pasti banyak perusahaan seperti itu !" Tegasku.
"Sudah selesai konsultasinya ?" Dari balik arah tempatku bicara muncul sesosok yang aura tubuh dan parfumnya aku kenal banget. Itu mas Ahmad. Hidung pelacakku menangkap target.
"Eh Mas Ahmad, gimana kabarnya mas ?" Sapa Aw ke suami. Yang ditanya tersenyum simpul sambil berdiri dekat membelakangiku hingga tubuh kami bersentuhan. Itu sering dilakukan kalau di kampus, aku sedang bercakap dengan para cowok-cowok apalagi kalau ada Andri kakak setingkat atasku pas. Masih ada cemburu ternyata dihatimu, mas.
"Alhamdulillah baik." Tangan kanannya menggenggam tangan kananku. Ku balas dengan merapatkannya juga.
"Wah, mas, pendadaran skripsi sudah di depan mata. Nih hasil kalian kok belum kelihatan ya...??" Tanya Tuqul spontanitas.
"Hei apaan sih.....tanyamu begituan ?" Selorohku.
"Hehehehe.... " Tuqul tertawa ngakak.
"Apaan sih...."
"Kalau sudah selesai kita pulang."
"Iya, mas. " Aku segera pamit ke teman-temanku semua.
"Tadi konsultasinya gimana, sayang ?" Ia terus menggenggam tangan kiriku.
"Alhamdulillah mas, konsultasinya cuma beberapa yang masih ada revisi. Besok konsultasi lagi. Dan Alhamdulillahnya juga besok sekalian konsul dosen Sulistyo dan meminta persetujuan untuk seminar hasil hari Senin."
"Alhamdulillah, selamat ya sayang ...!!!"
"Terima kasih mas, berkat bantuanmu !" Tanpa ku sadar dan secara refleks aku memeluknya. Dia membalas menciumku. Wehhh ...untung di lorong jadi Ndak ada yang lihat. Jadi malu.
Mas Ahmad kaget, akhirnya ia juga merapatkan tangannya ke tubuhku, memeluk erat. Masyaa Allah begitu tulusnya dia padaku. Terkadang mengerjakan skripsi hingga malam tanpa meminta apapun. Aku merasa iba. Aku bukan istri yang baik. La aku Lo ya capek di lahan. Tapi Alhamdulillah ini sudah mulai selesai aktivitas lahanku.
Karena hasil buah masih bagus dan banyak, Bapak mertua terus memberikan pupuk seminggu sekali. Hasilnya benar-benar menakjubkan. Terima kasih keluarga keduaku yang banyak membantuku.
"Ya sudah, yuk pulang. Tidak enak di kampus berpelukan kayak Teletubbies. Nanti sampai rumah saja, kamu peluk mas sampai sore Ndak masalah. Hehehe..." UPS...jadi salah tingkah. Segera ku lepaskan pelukanku. Muka merah padam seperti kepiting rebus yang matang sempurna....silahkan dinikmati kak....
"Hehmmmm......"
"Masih ingat perkataan Adam barusan, menanyakan hasil kita."
"Nhah....jadi arahnya kesana kan."
"Masak iya mas bilang belum berhasil ?"
Sambil menuju parkir sepeda depan kampus dan ia kembali memakaikan helm untukku.
"Nanti di rumah."
"Benarkah,,,sudah boleh ?"
"He ehm...." Sambil ku mengulum senyum.
"Alhamdulillah....yuk kita ngebut pulangnya. Biar cepat sampai rumah."
"Tapi aku mau beli jajan dulu, mas."
"Mau beli apa, dihemat dulu sayang. Buat biaya skripsi dan wisuda kamu Lo entar..."
"Hemmm....!" Bisa-bisanya aku cemberut kayak anak kecil yang gak dijajain orang tuanya saja. Padahal jajan aku tinggal gesek ATM gaji bukan jatah nafkahmu, mas. Pikirku.
"Iya...iya deh. Mas izinin. Nanti moodmu berubah aku Ndak dikasih yang itu lagi."
"Ndak jadi ayo pulang."
"Istriku kalau marah tambah cantik bikin aku segera ehem...ehem...." Mas Ahmad sambil melanjutkan kendaraannya menuju Alfamart dekat kampus. Dia tahu istrinya suka beli Snack-snack disitu. Segera aku turun dan mengambil keranjang belanja segera ku pilih Snack makanan ringan kesukaanku. Kayak orang kulak an saja.... Ben sekarepku tooo....