A. N. S

A. N. S
Tukang Nyinyir



"Eh, ada fans kamu tuh." Kina tersenyum nyengir dan sinis seraya menggandeng erat Koma. Yang digandeng pun juga ikut merasakan kehadiranku, ia pun membalas gandengan tangan pacarnya itu dengan membelai halus tangan perempuannya.


Wheh...emang aku tergoda pada kalian. Aku kan ndak punya perasaan suka sama kak Koma dalam benakku. Aku manyunkan sunggingan bibirku dengan tersenyum.


Ratunya Koma membalas dengan tatapan tajam seraya mengernyitkan netranya tanda ia tak suka padaku.


Aku yang masih berdiri di depan pintu perpustakaan tetiba teriakan teman-temanku melambaikan tangan mereka ke arahku.


"Fal....sini !!!"suara mereka berempat hampir bersamaan dengan melambaikan tangan mereka, yang akhirnya ditelan petugas perpustakaan menunjuk peraturan yang menempel di dinding perpus, serta memberikan isyarat jari telunjuk beliau di mulut dengan berkata "Ssstttt.....!!!" mereka langsung menutup mulut mereka dengan perasaan malu dan tertunduk, karena dilihatin seluruh penghuni perpustakaan siang itu. Yang dikatakan jumlah pengunjung itu ada tiga puluh orang termasuk dua sejoli yang sedang bucin itu.


Aku tersenyum lebar, aku hendak menyusul mereka. Sebelumnya aku akan menyapa dua bucin itu pikirku. Tapi sudah keduluan bucin perempuan itu. hhhm... akhirnya ku urungkan niatku, karena aku sudah disekat oleh pertanyaan si Ratunya Koma. Nih cowok juga ikutan ngomong lagi. Males banget dehhhh...


" Hei dik, ngikutin dan ngintai kita dimana-mana, ya ? Heran deh sama dunia ini, di kampus ketemu kamu, di perpus ketemu kamu, dimana-mana ketemu kamu. Coba deh gak usah ngekorin kita, ya sayang..." sambil merangkul bucin cowoknya itu. Dan menimpali pembicaraannya kembali sebelum aku balas menimpali.


"Kamu tuh, ya. Menyukai kakak kelas yang salah. Kak Koma itu pacarku, dik. Pacarnya kak Rina. Jelas kan." Jawabnya sambil nyengir.


"Eh, apaan sih, yang. Orang aku ndak punya perasaan apapun ke cewek ini. Masih cantikan kamu, sayang. Udah ndak usah diladenin." Koma sambil mengelus pundak pacarnya itu.


Suara yang aku kenal, seperti suara merdu di Masjid ketika dhuhur tadi. Seolah mengerti dimana aku membutuhkan pembelaannya. Sebelum aku kena putusan dua bucin ini.


"Eh kamu, Ahmad. Kenapa ya kamu selalu membela mahasiswi baru ini. Apa jangan-jangan kamu jatuh cinta sama nih adik kelas. Perasaan ketika aku ngomong apapun sama nih anak, kamu selalu ada buat dia !"seketika Kina menunjuk dengan telunjuknya ke arahku.


Aku hanya menatap telunjuknya mengarah padaku. Dan ku balas dengan senyuman termanis ke arah mereka. Hingga membuat bucin perempuan itu marah sama laki-lakinya.


"Yang, kok malah nglihatin gadis centil sih." sambil membalikkan pandangan pacarnya itu ke arahnya.


"Sayang, aku ndak punya perasaan sama dia. Tau sendiri kan aku sayang dan cintanya sama kamu." terang Koma.


"Dik, catat ya, aku tuh Ndak punya perasaan sayang sama kamu apalagi cinta !!!" tegas Koma ke arahku. Meyakinkan bidadarinya yang kalang kabut karena aku mengulas senyumku ke arah mereka.


"Whehhh....siapa juga yang suka sama kakak kelas yang bengis. Emang iya saya suka sama kamu ? Naksir aja enggak....!!!" ku beranikan diri menjawab pertanyaan bucin sombong itu dengan melenggok pergi dari arahnya. Teman-temanku malah berlagak pilon. "Berani juga tuh anak ngelawan.."pikir mereka.