
Hampir pukul sepuluh pagi aku baru terbangun dari tidurku. "Ah, betapa letihnya aku hari ini," ungkapku dalam hati. Usai kebersamaanku dengan Hellen malam tadi, aku benar-benar letih, apalagi saat-saat aku dengannya bertempur asmara yang entah berapa kali kami melakukannya membuat seluruh tubuhku pun menjadi sangat letih.
Setelah beristirahat untuk tidur terasa seluruh badanku tak lagi bertulang! Sepertinya lemas dan sangat lemas, otot dan urat-uratku pun demikian berasa tak berdaya. Namun aku mencoba bangkit dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi.
Usai membersihkan seluruh tubuhku,akupun mulai terasa sangat segar meski udara telah sangat panas disini. "Ahh....,aku ingin baringkan tubuhku lagi," fikirku. Kemudian akupun kembali berjalan ketempat tidurku untuk beristirahat. Sambil merebahkan tubuhku dan terbayang adegan tadi malam saat-saat aku bersama Hellen. "Sungguh aku mendapat sebuah fantasi cinta dari gadis bule ini," khayalku, namun baru sesaat aku melamun tiba-tiba.
Duaaaaaaarrrrrr...Emmmmmmm....Duaaaaaarrrrr.............!! Aku dikejutkan sebuah ledakan yang suaranya tak jauh dari camp tempat aku tinggal. Bumi seakan bergetar bagaikan gempa. Suara pesawat tempur terus melayang diatas udara camp. Bummmm!! Buuummmm!! Suara ledakan saat pesawat itu menjatuhkan puluhan kilo mortir dari udara. Aku segera tiarap dibawah tempat tidurku.
"hei ada apa ini" kataku, suara gaduh terdengar diluar tenda, ada instruksi agar tiarap. Tiaarraaaaaapppp.........!!!
Tiaaarraaaaaapppp.......!!! Pekik seseorang dari luar tenda, tampaknya perang terjadi kembali, tetapi hari ini sepertinya dimulai melalui serangan udara.
Beberapa kali pesawat jet-jet tempur itu melintas diatas udara lalu tak lama kemudian disusul suara ledakan.
Duaaaaaaaarrrrr..!! Buuummmm!!
Oh, suasana sangat mencekam, gumamku
ditambah lagi getaran bumi tatkala bom-bom itu dijatuhkan dari atas udara.
Mungkin karena serangan itu sangat dekat dengan camp membuat daya getarnya berasa bagaikan gempa bumi, mana kala bom-bom itu dijatuhkan dari udara oleh pesawat-pesawat tempur itu, fikirku kembali.
Persis seperti burung-burung yang melayang-layang di udara pesawat-pesawat itu mencari mangsa sasaran untuk di hujani dengan bom-bom udaranya.
Suara tembakan pun tak kala hebatnya, terdengar begitu ramai dari senjata-senjata mereka.
"Mungkin mereka membalasnya dengan tembakan-tembakan," fikirku.
aku merasa bagaikan berada di tengah-tengah pusat pertempuran.
sangat mencekam, jantungku pun berdebar tak beraturan.
Takut jika tiba-tiba pesawat itu salah menjatuhkan bomnya dan menghantam camp tempat aku saat ini.
"ahhh....., seram sekali," ucapku
Aku terus melantunkan doa-doa dalam hati
tak lupa pula lafaz dzikir tak putus-putus keluar dari bibirku.
Duaaaaaarrrrrrr........!! Buuummmm!!
Dar....dar.....dor......
Darrr....darrr...
Bunyi ledakan dan tembakan-tembakan terdengar nyaring dan sangat dekat.
suaranyapun bagaikan ban-ban mobil yang pecah.
Suara-suara peluru dan ledakan-ledakan terus terjadi.
begitu sangat menyeramkan, belum lagi bumi yang bergoncang bagaikan gempa membuat hidup seakan-akan sudah diujung tanduk.
"Allahu Akbar...! Allahu Akbar!!" Kusebut asmah Allah diujung bibirku.
dari pagi hingga menjelang tengah hari, pertempuran dimulai kembali.
Setelah beberapa hari sepi dari peperangan.
Sekilas terdengar suara-suara prajurit-prajurit itu saling memberi komando.
Sepertinya arena pertempuran ini memang benar-benar dekat dari tempatku saat ini.
"Ya Tuhan....., selamatkanlah kami," ucapku.
"sampai kapan aku harus tetap tiarap terus seperti ini?" Tanyaku dalam hati.
sementara suara ledakan dan senjata masih terdengar bagaikan sebuah melody yang tak beraturan.
emmmmmmmhhhhhggg........Buuummm!!
Suara pesawat tempur itu kembali melintas tepat diatas camp.
Dan tak lama kemudian disusul suara ledakan-ledakan.
Duaaaaaarrrr.......!!
Duaaaaarrrrr.......!!!
begitulah seterusnya.
Seumur-umur belum pernah aku merasakan suasana begitu mencekam seperti ini.
Entah sudah berapa lama pertempuran ini terjadi, tapi tanda-tanda perang akan berhenti juga belum ada.
"Ahhhhh, aku semangkin mengkhawatirkan diriku sendiri," bisikku m sambil memejamkan mata.
Suasana semangkin gelap, debu-debupun beterbangan.
Terlintas dimataku anak dan istriku, membuat suasana hatikupun tak karuan,
"bagaimana ini...! Ya Allah tolonglah hamba......!"
Pekikku dalam hati.
Namun perlahan tapi pasti, suara tembakan mulai berhenti.
Pesawat-pesawat tempurpun sudah tak terdengar lagi.
Sesaat kemudian suasana hening dan tenang.
Terdengar sayup-sayup diluar suara-suara penghuni camp
Ya mungkin pertempuran sudah berhenti," fikirku.
"pak Rudi, anda tidak apa-apa" tanya pria itu di depan tenda.
Suara itu datang dari Burhan.
Pak Burhan adalah kepala rombongan relawan disini.
"ia aku baik-baik saja pak," sahutku.
Sambil aku bangkit dari lantai.
Aku mencoba keluar dari tenda untuk melihat suasana diluar.
Ternyata diluar seluruh anggota tim saling sibuk entah apa yang akan mereka kerjakan.
Aku mencoba mendekati pak Burhan untuk bertanya soal peristiwa yang baru saja terjadi
"bagaimana kondisi saat ini pak?" tanyaku.
"kondisi sudah aman".
"tadi pertempuran sangat dekat dari camp kita, kurang lebih satu kilometer dari sini" jawab pak Burhan.
"baiklah, terima kasih atas infonya pak," jawabku sambil berlalu.
Asap-asap hitam masih mengepul keudara yang disertai debu-debupun masih beterbangan menjadikan suasana sedikit gelap.
Tidak lama aku memperhatikan suasana tiba-tiba ponselku berdering.
Kriiiiinggggg....
Kriiiiinggggg.......
Ku lihat Hellen menelpon ku.
Segera aku mengangkatnya.
"Hello...!" katanya dari seberang telepon, "ya halo," jawabku, "aku mendengar baru saja ada terjadi pertempuran didekat kamu?" Tanya Hellen kepadaku.
"Benar, sungguh menegangkan," kataku, "lalu bagaimana kondisimu?" Tanyanya kembali, "Aku baik-baik saja, Tuhan masih menjagaku," ucapku.
"Baiklah, aku senang mendengarnya," kata Hellen kembali, "aku mengkhawatirkanmu, tetapi saat ini aku sudah tenag," katanya kembali, "ok nanti kita sambung lagi, aku banyak pekerjaan hari ini," ucapnya.
"terima kasih sayang, selesaikanlah pekerjaanmu dan akupun akan menyelesaikan pekerjaanku," kataku sambil mengakhiri pembicaraan dan menutup telponnya.
Ternyata gadis itu menanyakan keadaanku, dia mendengar kabar bahwa didekat tenda campku saat ini telah terjadi pertempuran.
Dia sungguh mengkhawatirkan diriku.
Setelah akupun memberikan kabar kepadanya bahwa aku baik-baik saja, diapun sedikit lega dan mengakhiri teleponnya.
Aku bergegas kedalam tenda, untuk mengenakan pakaian dan mempersiapkan alat-alat jurnalisku.
Aku akan berangkat menuju pusat pertemuran tadi untuk mengetahui suasana terkini disana sekaligus mewawancarai orang-orang yang berpengaruh disana.
...****************...
Sesampai dipusat pertempuran, sayangnya aku tidak diperkenankan meliput hingga kedalam oleh petugas berseragam loreng coklat muda dengan topi baret biru yang bertuliskan UN itu.
Mereka adalah tentara-tentara keamanan dunia yang bertugas menjaga perdamaian disini.
Aku hanya dapat mengambil gambar dan foto-foto lokasi kejadian dari kejauhan.
Sayangnya aku tidak mendapatkan informasi apapun dari serangan udara kali ini.
Sejam kemudian aku melihat ada kumpulan wartawan-wartawan di sebuah tenda khusus di dekat posko penjagaan.
"Mungkin ada informasi penting disana!" ucapku.
Aku pun berlari turut bergabung dengan para awak media internasional tersebut.
Ternyata akan ada siaran pers oleh pejabat pemerintahan melalui tv Al Zajerah.
kamipun menunggu di depan pos penjagaan itu untuk menyaksikan dari layar kaca tentang laporan dari pejabat pemerintah.
Tak lama berselang muncul pejabat negri ini di depan layar kaca tv Al Zajerah tersebut.
Dengan seksama kamipun mendengarkan pidato orang tersebut hingga selesai.
Akupun segera mencatat segala ucapannya melalui layar kaca itu.
Ternyata angkatan udara dan angkatan darat Afganistan menyerang markas dari musuhnya.
Mereka mengklaim telah menghancurkan pusat senjata musuh melalui serangan-serangan udara yang di perkuat dengan pasukan arteleri dan para pasukan angkatan darat lainnya.
Setelah mendapatkan informasi tersebut akupun bergegas kembali ke camp untuk menyusun berita.
Aku segera mengirimkan e-mail ke pak Ferry selaku Pimred mediaku beserta gambar-gambar lokasi kejadian sebagai bukti jurnalistik.
Sebagai kabar terupdate pada hari ini dengan situasi dan kondisi penyerangan lewat udara oleh pasukan pemerintahan.
Tak lupa akupun mengirimkan kabar kondisiku saat pertempuran itu terjadi, sebab pada peristiwa ini berlangsung tak jauh dari pusat camp kedutaan besar Indonesia.
Akupun menuliskan gambaran suasana yang mencekam saat pertempuran itu terjadi.
Setelah aku mengirimkan berita-berita itu melalui e-mail, akupun berusaha untuk beristirahat kembali.
Selain tubuhku yang masih lemas dan letih,bayangan mencekam suasana yang baru terjadi tadi sulit untuk aku lupakan.
Selama aku berada di Afganistan, baru pertama kali ini terjadi pertempuran lewat serangan udara.
Pertempuran di Kota Herat sampai saat ini masih terjadi dan intensitasnyapun masih yang paling tertinggi di Afganistan.