"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LXVIII. Suasana usai perang



Suara-suara gencatan senjata telah sedikit mereda, namun raungan suara mobil ambulance yang berlalu lalang masih terdengar.


Rudi segera keluar dari kamarnya sambil tetap menggendong putri kecilnya itu.


"Sudah selesai masak kamu?" tanya Rudi kepada Zuridah yang sedang duduk di ruang tv.


"Sudah" jawab Zuridah tanpa melihat ke arah Rudi.


"Kasih makan dulu Arzetta, saya mau keluar sebentar" sambil memberikan Arzetta kepada Zuridah.


Rudi segera menuju kamarnya setelah memberikan Arzetta kepada Zuridah, setelah itu Rudi segera keluar dengan membawa perlengkapan untuk peliputan.


Meski dia telah menjadi seorang Kepala Perwakilan, tapi naluri Pers nya masih tetap ada, dia selalu membawa sebuah kamera kecil di tas setiap akan pergi kemana juga.


Selain itu sebuah pena dan notes kecil selalu tersimpan pada rangsel nya.


Suasana kota diluar tampak sedikit lenggang, hanya beberapa mobil-mobil Militer dan Polisi saja yang banyak tampak berlalu kesana-kamari ailih berganti.


Rudi teeua melangkahkan kakinya guna menuju ke lokasi dimana dia bisa mendapatkan informasi berita tentang perustiwa yang baru saja terjadi.


Sebuah Id Card Pers tergantung dilehernya dan tas rangsel dipanggul menemani perjalanan untuk mendapatkan informasi.


Dengan ponselnya dia menghubungi orang-orang penting yang ada di kota itu, Rudi memang sudah dikenal oleh beberapa pejabat baik ekskutif maupun legeslatif bahkan beberapa pengusaha juga mengenalnya.


Itulah yang membuat pekerjaan Rudi sangat mudah untuk mendapatkan informasi dari mereka.


Setelah dia mendapat informasi yang sangat berharga, Rudi lantas menuju ketempat diamana dia bisa mendapatkan info akurat tersebut yang telah diberitau oleh sahabatnya melalui hubungan celuller nya.


Tidak butuh waktu lama, dia telah tiba dikantor kepala perwakilan Militer kota Kandahar


"Selamat siang tuan, General. Al -Fath" sapa Rudi kepada Brigjen Al-Fath seorang Kepala Perwakikan Miiter.


"Oh tuan Rudi, ya silahkan" sambut Brigjed itu dengan ramah.


"Oh ya tuan, maaf telah mengganggu sedikit waktunya" kata Rudi sambil sedikit tersenyum.


"Bagaimana kejadian pertempuran yang baru saja terjadi hari ini" tanya Rudi dengan gaya bicara seorang Media.


Brigjend itupun segera memberikan informasi panjang lebar mengenai peristiwa yang baru terjadi.


Terjadi tanya jawab yang begitu serius diantara mereka sehingga Rudi benar-benar mendapatkan informasi yang baik dari sang Brigjend.


Cara komunikasi Rudi kepada setiap orang sangat bersahabat, sehingga memudahkannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan untuk dibuat menjadi suatu berita.


"Baik tuan General, terimakasih atas informasinya" kata Rudi dengan tersenyum tipis dan menyalami sang Brigjend tersebut.


Semua informasi telah tersimpan rapi di rekaman percakapannya dan juga di buku notea nya.


"Iya, sama-sama tuan Rudi, senang bertemu dengan anda hari ini" kata Brigjend Al - Fath dengan senyum bersahabat.


"Kami juga berterimakasih atas informasi yang telah tuan berikan tentang negara kami kepada Masyarakat dunia" sebut Brigjend Al.


"Kami pemerintah telah banyak membaca semua tulisan-tulisan tuan di media tempat tuan bernaung, tidak ada satupun yang menyudutkan kami bahkan dari pihak pemberontak sekalipun, berita-berita tuan sangat berimbang" ujar Brigjend Al kembali dengan senyum dibibirnya.


"Kalau tuan tidak keberatan, Minggu depan saya mengundang tuan ke kantor saya untuk acara jamuan wartawan yang da di kota ini" sambung sang Brigjend.


"Dengan senang hati tuan, kabarin aja kapan waktu dan tanggalnya" kata Rudi menyambut undangan itu.


"Baik tuan, jika begitu saya mohon izin dulu untuk pergi, karena masih banyak tugas yang harus saya kerjakan" kata Rudi, "Terimakasih sekali lagi atas informasinya" lanjut Rudi sambil segera berlalu meninggalkan Perwira Tinggi Militer tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari telah menjelang sore namun cuaca masih terasa sangat panas, dan Rudi telah tiba kembali ke Apartemennya setelah mendapatkan informasi penting tentang peristiwa yang baru saja terjadi.


"Assalammu'alikum" kata Rudi sembari pintu membuka pintu Apartemennya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Hellen yang sore itu telah berada di rumah.


Rudi tersenyum melihat sang istrinya yang telah menyambut dia datang dari luar, Hellen yang duduk di sofa tamu dengan menggunakan dress panjang berwarna putih dan bermain bersama Arzetta.


"Sudah pulang kamu sayang" tanya Rudi kepada Hellen sambik berjalan untuk meletakkan tas rangsenglnya di meja kecik dekat sofa tersebut.


Satu persatu barang-barang yang menempel ditubuhnya dia lepaskan, mulai dari Id Card yang menggantung di lehernya sampai jaket coklat dia gunakan semua dia letakkan diatas meja kecil itu juga.


"Sudah, hari ini aku pulang lebih awal" jawab Hellen sambil menunjukkan Arzetta kepada Rudi.


"Sebentar, saya ke kamar mandi dulu" kata Rudi sambil melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang penuh debu.


Kemudian dia kembali duduk di sofa teoat disamping Hellen dan Arzetta.


Rudi segera mengambil Arzetta dari gendongan Hellen, "kalau budaya adat orang jawa, ketika kita baru dari kuar, maka kita wajib kedapur dulu dan membersihkan wajah dan tangan dari kotoran kalau memiliki anak bayi yang berusia belum genap setahun" kata Rudi memberikan pengetahuan tentang adat dan budaya orang jawa sesuai suku yang mengalir didarah pada tubuhnya.


"Apa hanya orang tuanya saja atau semua orang?" tanya Hellen kepada Rudi yang saat itu mendengarkan dengan seksama penjelasan dari sang suami.


"Tidak! Itu berlaku buat semua orang, tidak terkecuali orang tuanya, apabila dirumahvtersebut terdapat anak bayi" jawab Rudi sambil bermain dengan Arzetta yang ada di gendongannya itu.


"Mengapa begitu?" tanya Hellen dengan menatap wajah suaminya.


"Agar tidak terkena penyakit-penyakit yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan oleh mata" jawab Rudi kembali.


Hellen sedikit merenung sambil berfikir " Oh, iya bisa jadi juga sih, itu bagus sebetulnya" kata Hellen.


"Apa itu sudah menjadi budaya turun menurun sedari dahulu?" tanya wanita bule itu yang masih mendekatkan wajahnya ke suaminya itu.


"Iya, itulah namanya adat budaya leluhur" sebut Rudi dengan menatap wajah Hellen dan kemudian mencolek hidung wanita buke itu yang sangat mancung dengan ujung jari telunjuknya sambil tersenyum.


Hellen hanya memanggut-manggutkan kepalanya.


Kemudian Rudi segera mengecup bibir tipis wanita bule itu dengan sangat romantis.


Namun tiba-tiba Zuridah masuk dari luar dengan membawa belanjaan untuk persiapan mereka.


Rudi dan Hellen sedikit kaget melihat kehadiran Zuridah yang baru pulang dari pasar.


Zuridah pun sempat melihat adegan yang baru dilakukan oleh sang majikannya itu.


"Pegang dulu, saya mau ganti pakaian dan mandi" kata Rudi sambil memberikan Arzetta kepada Hellen.


Rudi segera berlalu dari sofa itu menuju ke kamarnya.