
Sebuaha pesawat tempur menjatuhkan bom di dekat Rudi.
Buuuummm...buummmm....
Asap dan api pun membumbung tinggi ke atas udara teriakan-teriakan manusia yang terkena bom tersebut sangat memilukan.
Potongan-potongan tubuh pun bertebaran ke udara.
Situasa sangat mengerikan, suara rentetan senjata mesin pun silih berganti.
Suasana sangat mencekam, semua itu terjadi didepan mata Rudi, sehingga dengan rasa takut yang teramat sangat dia pun menjerit sekeras-kerasnya untuk dapat pertolongan.
Tolllloooonnggg...toloooongggg....
Rudi berteriak-teriak sekeras-kerasnya.
Dia pun tersadar tatkala seseorang membangunkannya dari tidur.
Setelah dia membuka mata nya ternyata semua itu hanya mimpi.
Dia pun menoleh ke kiri dan melihat seorang wanita berada di samping nya.
"Kondisi demammu sangat tinggi" kata wanita itu yang ternyata Hellen.
Dengan penuh keheranan Rudi pun bertanya kepada Hellen.
"Dari mana kamu bisa masuk kemari?" tanya Rudi.
"Aku meminta izin kepada komandan satuan untuk menjengukmu" kata Hellen, "dan mereka menghantarkan ku kemari" sambung gadis itu.
Rudi masih diam dan melamun, dia masih memikirkan mimpi yang dia alami barusan.
"Sudahlah kamu istirahat saja" ucap Hellen, "aku akan menjagamu" sambungnya kembali.
Sambil mengambil sebuah air didalam baskom yang berisi handuk kecil dan air dingin untuk mengompres Rudi.
Kemudian handuk kecil tersebut yang telah basah diletakkan diatas dahi Rudi.
Kelihatan Rudi sudah sedikit tenang.
"Jam berapa kamu sampai kesini?" tanya Rudi.
"Hmmm, sekitar pukul tiga sore" ujar gadis itu.
"Sekarang sudah jam berapa?" tanya Rudi kembali.
"Pukul sembilan malam" jawab Hellen.
"Pasti kamu belum makan dan minum obat" tanya gadis bule itu.
Sambil membuatkan bubur Hellen kembali duduk disamping Rudi yang sedang berbaring.
"Ini, kamu harus makan dulu sayang" kata Hellen sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Rudi.
Rudi pun segera membuka mulutnya dan memakan bubur itu yang disuapkanvke mulutnya oleh Hellen.
"Panas tubuhmu sangat tinggi" kata Hellen, "itu penyebab infeksi yang kau terima" sambungnya.
"Tapi semua udah di obati dengan baik dan benar" sambung Hellen yang sambil menyuapi makan Rudi.
"Itu tinggal pemulihan, jika kamu terus meminum obatnya" kata Hellen kembali.
Rudi menggelengkan kepala nya menandakan dia sudah tidak mau makan lagi.
Hellen segera meletak kan piring bubur diatas meja dan menyiapkan air putih serta obat-obatan untuk di minum dengan Rudi.
Dia segera memberikan obat-obat itu kepada Rudi dengan menuntunnya untuk dapat meminum obat-obatan itu.
"Setelah ini kamu istirahat ya sayang" kata gadis ini, "agar kau cepet sembuh, dan aku akan menjagamu disini" ucap Hellen kembali.
Rudi pun terlihat tersenyum mendengar perkataan Hellen.
"Jika kamu disini, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Rudi
"Kamu tenang aja, demi kamu semua akan aku lakukan" ujar gadis itu sambil tersenyum.
"Aku akan selalu ada untukmu" ucap Hellen kembali, "baik dalam suka atau pun duka mu" lanjut Hellen.
Setelah meminum obat itu, terlihat mata Rudi mulai mengantuk, obat yang diberikan memang terdapat beberapa dosis rendah obat tidur sebagai penenang rasa sakit.
Mata Rudi mulai sedikit terpejam, sedang Hellen memijat-mijat tangan Rudi sambil tersenyum.
Hellan telah jatuh cinta begitu dalam pada Rudi, sehingga dia tidak lagi memperdulikan status Rudi sebagai seorang suami bagi seorang wanita dan sebagai seorang ayah dari beberapa anaknya.
Dia tau jika ini salah, tapi rasa dan hati tidak dapat dibohongi.
Malam semangkin larut, Hellen masih berada di samping Rudi dengan setia menunggu nya.
Sesekali dia mengusap-usap wajah lelaki itu dengan penuh kasih sayang.
Dia memeriksa kondisi tubuh Rudi, dan mengganti kain untuk kompres yang ada di dahir Rudi.
Terlihat mata gadis itu sudah mulai letih, dia mulai merebahkan kepalanya di samping tangan Rudi dan memegang tangan itu.
Dengan kondisi duduk gadis itu mulai tertidur.
...****************...
...****************...
...****************...
Cuma beberapa jam dia terlelap, waktu pun telah pagi, dia kemudian bangun sebelum Rudi terbangun.
Dia memeriksa kondisi tubuh lelaki itu, semua dalam keadaan normal dan panas tubuh nya pun sudah mulai menurun.
Infus yang tergantung sudah hampir habis, dan gadis iti segera mengganti botol infus tersebut dengan yang baru.
Sebagai seorang perawat, Hellen memang sudah termasuk perawat yang profesional, ditambah lagi dengan latar pendidikannya dari sebuah perguruan tinggi ternama di negaranya.
Tidak berapa lama Rudi terbangun dari tidurnya, dia melihat Hellen yang sedang mempersiapkan makan untuk Rudi.
"Hei, selamat pagi sayang" kata Hellen sambil tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Rudi kemuadian dia mencium bibir lelaki itu.
"Pagi sayang" jawab Rudi setelah menerima kecupan dibibirnya.
"Bagai mana dengan tidurmu?" tanya gadis itu sambil membelai-belai rambut Rudi yang sudah tampak beberapa diantaranya di tumbuhi uban.
"Aku merasa baik" jawab Rudi sambil tersenyum menatap wajah Hellen, "lalu, bagaimana dengan tidurmu?" tanya Rudi.
Hellen tersenyum.
"Aku hanya sedikit tidur" jawab gadis itu, "aku selalu menjagamu" ucapnya kemudian.
"Setelah makan makan dan meminum obat, aku akan mengganti verbanmu" kata Hellen.
Rudi pun hanya tersenyum.
"Dokter sudah tidak akan datang lagi" kata Hellen sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan untuk mengambil sarapan Rudi.
"Dokter telah menyerahkanmu padaku, untuk aku rawat" kata Hellen kembali.
"Aku telah bertemu dengan dokter yang menanganimu, dan dia sudah cerita tentang kondisimu padaku" sambung Hellen sambil berjalan mendekat membawakan sepiring bubur.
"Ini, kamu harus makan dulu sayang" kata Hellen sambil menyuapi bubur itu kepada Rudi.
Rudi pun segera memakan bubur itu.
Perempuan Prancis itu sungguh romantis dan sangat sayang kepada Rudi, dia belum pernah mendapatkan pelayanan se istimewa itu dari istri nya sendiri.
Meski dalam keadaan yang masih sakit, dia merasa sungguh bahagia diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita.
Apalagi dengan seorang wanita asing, wanita bule yang sangat cantik itu.
Terkadang dia berfikir, pekerjaan yang jauh seperti ini ternyata membawa hikmah tersendiri baginya meski ditengah-tengah peperangan.
Usai makan, Hellen segera mengambil obat untuk diminum oleh Rudi.
"Kamu minum obat nya dulu ya sayang" kata Hellen sambil memerika obat itu kepada Rudi.
Dengan segera Rudi pun mengambil obat tersebut dan meminum nya.
"Kamu istirahat saja dulu ya" kata Hellen, "aku mau mempeesiapkan air untuk membeesihkan tubuhmu" lanjut Hellen.
Rudi pun menganggukkan kepalanya.
Hellen pun segera berjalan keluar ruangan itu untuk mengambil segala keperluan Rudi.
Rudi tersenyum dan hati nya merasa sangat senang, dia juga sudah sedikit melupakan sakit nya.