"Love Story" BELLE FILLE

"Love Story" BELLE FILLE
BAB - LXIV . Pertemuan dengan sang Istri ke 2



  Setelah Kantor Perwakilan media itu resmi dibuka oleh Pemimpin Redaksi, maka hari ini kantor itupun resmi beroprasi.


Acara pembukaan kantor berita perwakilan di Timur tengah itu diresmikan langsung oleh Pemimpinan Redaksi Ferry Irawan yang datang langsung ke Afganistan dengan didampingi oleh perwakilan dari Kedutaan besar Indonesia yang ada di Afganistan serta beberapa perwakilan dari pemerintah Afganistan.


Kantor itu terletak di Ibu Kota Afganistan yaitu di Kota Kabul.


Acara peresmian itu cukup ramai dan hadir pula beberapa perwkilan media asing maupun media lokal yang turut serta.


    Hari pertama sebagai Kepala Perwakilan Rudi begitu bersemangat menjalankan tugasnya.


Dia banyak berkomunikasi dengan para wartawannya yang ada dilapangan serta para pegawai kantornya.


"Saya akan mengirim beberapa wartawan untuk ditempatkan di berbagai daerah" kata Rudi kepada Koordinator Liputan.


"Saya ingin semua berita disini dapat ter-update dengan baik" Lanjut Rudi.


"Baik pak" jawab Koordinator Liputan tersebut yang bernama Hadi Ismail.


"Jika begitu, laksanakan tugas dengan baik, dan kamu boleh kembali ketempatmu" kata Rudi kepada Hadi.


Kordinator Liputan itupun segera pergi meninggalkan ruangan Rudi untuk kembali bekerja.


Rudi yang kini tinggal sendiri didalam ruangannya membuka komputer untuk mencari sumber-sumber berita.


Namun tiba-tiba dia teringat akan Hellen Istri keduanya yang saat ini tinggal di Afganistan tersebut.


Setelah tiga hari di Afganistan barulah dia dapat menghubungi Istrinya itu.


Dia segera mengambil ponselnya dan kemudian menelpon Hellen yang ada di Kandahar.


Tuuut...tuut....tuuutt.....


Nada suara telpon.


Tak lama kemudian terdengar suara wanita diujung ponsel.


"Assalammu'alikum sayang..." seketika Hellen menyapa suaminya dengan memberi salam.


Sejak memeluk agama Islam wanita bule asal Prancis itu sangat taat akan agama, dia terus belajar agama Islam meskipun Rudi tak selalu disampingnya untuk mengajarkan agama kepadanya dikeranakan kesibukan pekerjaan.


Ditambah lagi keberadaannya di tengah-tengah orang Muslim yang menjadi penduduk Mayoritas Negri itu membuatnya semangkin mudah memahami agama Islam.


Hellen saat ini juga telah menggunakan busana Muslim dengan berhijab sebagaimana mestinya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Rudi.


"Bagaimana kabar mama?" tanya Rudi kepada Hellen.


"Alhamdulillah, saya baik saja" jawab Hellen kembali.


"Oh ya, katanya Papa sudah ada di Afganistan?" tanya istrinya tersebut.


"Hmmmm, iya..., sudah tiga hari sama hari ini" jawab Rudi.


"Sekarang Papa masih di Kabul, karena baru saja meresmikan kantor perwakilan sepertimana yang papa pernah sampaikan" ujar Rudi kembali.


"Oh ya, bagaimana dengan Arzetta?" tanya Rudi kepada Hellen tentang anak perempuannya.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, walau perang masih terjadi disini" jawab Hellen lagi.


"Dimana dia sekarang? Papa rindu dengar suaranya" tanya Rudi.


"Dia ada dirumah bersama Zuridah, saya saat ini sedang dikantor" ucap Hellen.


"Oh, ya sudah, jika begitu lanjutkanlah pekerjaanmu dulu dan nanti kita akan sambung lagi" sebut Rudi.


"Ok, lalu kapan papa akan kembali ke Kandahar?" tanya Hellen.


"Hmmm..., mungkin dalam satu atau dua hari ini" jawab Rudi.


"Baiklah kalau begitu, Assalammu'alaikum" kata Hellen.


"Wa'alaikumsalam" jawab Rudi sambil menutup telponnya.


Rudi segera melanjutkan pekerjaannya dihari itu dengan tetap semangat dan loyalitas yang tinggi.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


   Keesokan harinya, seperti biasa Rudi tengah melakukan pekerjaannya di kantor tersebut.


Tetapi hari ini dia bersiap-siap untuk berangkat ke Kandahar.


"Hmm, Rita..., saya akan keluar kota hari ini, tolong kau urus dulu semua kegiatan kantor, mungkin dalam dua atau tiga hari kedepan saya baru kembali" kata Rudi kepada Sekretarisnya Rita Wahyuni.


Kemudian Rudi pun segera berkemas dan berangkat meninggalkan kantornya.


Sebuah taksi telah menunggunya di depan pintu pagar kantor tersebut.


Diapun segera memasuki taksi tersebut dan segera menuju ke Kota Kandahar.


Mobil Taksi itupun berjalan tenang menuju ke kota Kandahar.


Perlu memakan waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai ke Kandahar.


   Setelah tiba didepan apartemen miliknya diapun segera membayar ongkos taksi tersebut dan turun menuju Apartemen.


Satu persatu anak tangga dilaluinya hingga dia mendapati anak tangga terakhir yang berada dilantai tiga dari sembilan lantai yang ada.


Didepan sebuah kamar dia segera mengetuk pintu tersebut.


Tok...tok...tok..


Pintu kamar Apartemen itupun diketuk.


Sesaat kemudian pintupun terbuka dan dia melihat seorang wanita keturunan arab membukakan pintu itu.


"Hai Zuridah, apa kabarmu?" tanya Rudi yang sudah didepan pintu.


Zuridah sedikit terkejut melihat kehadiran Rudi disiang itu.


"Eh Tuan Rudi..." jawab Zuridah dengan nada sedikit gugup.


"Kapan tuan sampai kemari lagi?" tanya Zuridah.


"Sudah empat hari yang lalu" jawab Rudi.


"Apa Hellen tidak memberitaukanmu?" tanya Rudi.


"Tidak tuan..." jawab Zuridah.


"Baiklah, Asaalammu'alaikum" kata Rudi sambil menerobos masuk kedalam Apartemen tersebut.


"Wa'alaikumsalam" jawab Zuridah sambil menutup pintu dan mengikuti Rudi dari arah belakang.


"Kemana Hellen? Apa hari ini dia bekerja?" tanya Rudi.


"Benar tuan, nona Hellen hari ini sedang bekerja seperti biasa" jawab Zuridah sambil pergi kedapur untuk menyiapkan minuman buat Rudi.


Rudi langsung berjalan masuk ke kamar tidurnya dan melihat putri kecilnya Arzetta trisandi sedang tertidur sangat pulas.


Dia tersenyum melihat putri kecilnya itu dengan rasa rindu dia mencium dahi putrinya yang sedang tertidur dengan pulas sekali.


Arzetta saat ini sudah berusia hampir sembilan bulan, gadis kecil keturunan Indonesia-Prancis itu telah tumbuh dangan sangat cantik.


Setelah melihat anaknya Rudi segera keluar kamar dan duduk diruangan tamu.


Zuridah telah menyediakan segelas air putih untuk Rudi.


"Minumlah tuan" kata Zuridah.


Kemudian Rudi segera meminum air tersebut.


"Apa tuan tidak memberitaukan bahwa tuan hari ini akan datang kepada nona Hellen?" tanya Zuridah yang sedang duduk didepan Rudi.


"Tidak, aku tidak memberitahukannya" jawab Rudi.


"Aku tidak ingin dia terganggu pekerjaannya" sambung Rudi kembali.


"Oh ya, itu di tas rangsel saya ada banyak barang bawaan, ambillah bebera oleh-oleh dari Indonesia untukmu" kata Rudi kepada Zuridah.


Dengan tersenyum Zuridah pun segera membuka tas rangsel milik Rudi serta mengeluarkan seluruh isinya dan segera menyusunnya diatas meja.


"Itu ada baju dan sebuah tas buat kamu" kata Rudi sambil menunjuk sebuah tas.


Zuridah pun tersenyum menerima pemberian Rudi itu.


"Terimakasih tuan" kata Zuridah sambil tersenyum sumringah.


"Itu yang lain buat istri dan anakku, dan itu juga ada makanan khas Indonesia, kamu bisa menyimpannya dulu untuk nanti kita makan bersama" sambung Rudi.


"Iya tuan, saya akan membereskan ini semua" jawab Zuridah.


Dengan bergegas Zuridah membereskan seluruh barang bawaan Rudi dan menyusunnya pada tempatnya.


Rudi merasa tubuhnya sangat letih hari itu, dia segera berjalan menuju kamar tidurnya untuk beristirahat.


Disamping putrinya yang sedang tidur dengan sangat pulasnya diapun merebahkan tubuhnya.


Dia tidur dengan memeluk tubuh kecil putrinya itu yang sangat imut.