
Cuaca panas ditengah kota yang selalu disibukan oleh aktifitas masyarkatnya meski suasana perang kerap kali menghantui mereka.
Aku dan Rio mencoba menelusuri Kota Kandahar untuk melihat segala aktifitas masyarakatnya.
Dengan berjalan kaki dibekali dua kamera yang tergantung dileherku dan berada di tanganku, kami menyusuri tiap lorong-lorong yang ada di Kota ini.
Tampak bangunan-bangunan rumah yang telah jadi puing-puing menjadi saksi bisu kedahsyatan perang yang melanda kota ini.
Aku mencoba mengabadikan bangunan-bangunan tersebut dengan kamera-kamera ku. Setiap ada kesempatan kamipun mewawancari beberapa warga untuk mengetahui seberapa hebat pertempuran yang terjadi diwilayah ini.
Selanjutnya setelah kami menyusuri dari setiap lorong-lorong dan jalan-jalan tersebut kami melanjutkan perjalanan di siang itu menuju sebuah warung untuk mengisi perut kami yang mulai keroncongan.
"Aku lapar, kita makan sejenak ya?" kataku pada Rio sambil menunjuk sebuah warung dipinggir jalan.
"Aku juga," kat Rio, kemudian kami berjalan menuju sebuah warung dipinggir jalan dekat jalan raya.
Sambil duduk kami tak banyak bicara, kami hanya sibuk melihat hasil bidikan kamera tadi.
Tak berapa lama, seorang pelayanpun datang menghampiri kami.
"Mau pesanan apa tuan?" tanya pelayan wanita itu.
"Ah saya pesan Challow saja dan segelas kopi hitam," kataku.
"Saya pesan yang sama juga seperti tuan itu," ujar Rio sambil menunjukku.
Pelayan itupun segera berlalu untuk mempersiapkan pesanan kami, tak berapa lama pelayan itu kembali dengan membawa hidangan pesanan kami.
Setelah hidanganpun datang, kami segera menyantapnya dengan lahap, karena aku sendiri memang sudah sangat lapar.
Dalam penelusuranku di kota ini, memang situasi perang disini tak kalah hebatnya seperti di Herat dan Kabul.
Warga yang berhasil kami temui dan diwawancarai juga menyatakan hal-hal yang sama dan telah membuat sejuta cerita dan kesan yang sangat menyedihkan.
Kami menikmati "Challow" sebuah makanan khas timur tengah terkhusus di Afganistan.
"Challow " adalah nasi pada awalnya berupa setengah matang, kemudian ditiriskan dan akhirnya dipanggang dalam oven dengan minyak, mentega dan garam.
Metode ini menghasilkan nasi yang halus dengan setiap butir terpisah, dan kami juga menikmatinya dengan sajian kurma khas arab.
Usai menyantab semua hidangan,kami segera bergegas untuk kembali ke penginapan.
Misi pengumpulan data buat bahan berita telah rampung. Kamipun berjalan menerjang matahari yang hampir pulang ke peraduannya.
...----------------...
Sesampai di penginapan, kami langsung masuk menuju kamar, dan saling bergantian menunggu untuk mandi, sebab memang kamar mandi diruangan ini hanya ada satu dalam setiap kamar.
Selesai mandi akupun segera duduk di kasur yang empuk dan membuka laptopku, dengan segera aku akan menulis berita-berita pada hari ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, sambil ditemani secangkir kopi aku terus asyik menuliskan artikel-artikel berita.
"Aku dan teman-teman akan segera keluar, jika kamu tidak ikut tetap lah disini saja" ucap Rio kepadaku.
"Baiklah" jawabku.
Memang hari ini aku tidak ingin keluar, Rio dan teman-teman jurnalis Belanda itu akan segera keluar, entah apa yang akan mereka kerjakan malam ini, yang pasti aku tidak ingin ikut dengan mereka.
Setelah Rio pergi aku hanya sendiri di kamar dan terus membuat bahan berita sebagai pekerjaan ku.
Sekitar satu jam kemudian. "Hay ... mengapa kau menangis." suara seorang lelaki terdengar dari luar ruangan.
"bukankah tadi kamu yang minta ditiduri?" kata lelaki itu.
"Hayolah ... jangan menangis." kembali suara lelaki dan suara tangisan wanita terdengar.
Sejurus kemudian aku mendengar ada beberapa suara langkah kaki diluar, sepertinya suara langkah kaki laki-laki, "ada apa ini...?" tanya laki-laki yang baru datang itu.
"Kau apakan wanitia ini!" tanya lelaki itu.
"Aku tidak berbuat apa-apa," sahut laki-laki tadi.
Suara gaduh terus terdengar.
"Hai ... diapakan kamu oleh sibajingan ini?" kata lelaki kain.
Wanita itu terus menangis dan tidak mau bicara.
"Apa kamu tidak dibayarnya?" tanya pria lain.
"Sudah, kita lapor aja ke MP!" ucap pria yang lain.
Sepertinya ada dua pria yang datang tadi.
Pria yang satu terus merepet menanyakan si pria tersebut.
"Jangan ikut campur kamu!" ucap seorang pria yang tadi.
"Ayo bicaralah sayang, kamu mau apa?" kata si lelaki itu.
"Aku sudah kasih kamu uang double kan?" tanya lelaki itu lagi kembali.
Suara gaduh semangkin berat dan dengan nada tinggi.
Aku merasa terganggu dengan keributan ini, setelah aku mendengarnya aku segera mengambil sebuah jaket yang tersampir didinding kamar berwarna hijau, kemudian aku segera turun dari tempat tidur dan menuju pintu kamar.
Segera aku membuka pintu itu.
Aku berdiri didepan pintu, dan tidak bicara, menandakan aku telah terganggu dengan suasana itu.
Diluar kulihat ada seorang wanita arab berhidung mancung dengan paras yang cukup cantik menggunakan baju putih dengan satu tali dibahunya, terbusung dua gunung kembarnya yang begitu besar, dengan sebuah rok mini sebatas lutut, ia menangis disudut lorong, didekatnya ada pria bule, sepertinya seorang tentara, dari postur tubuh yang tinggi dan bertubuh putih tidak menggunakan baju, didadanya ditumbuhi rambut-rambut yang tebal berwarna coklat, pria itu hanya menggunakan celana panjang loreng tentara.
Kemudian ada tiga orang pemuda arab yang juga berdiri disana, sesaat mereka terdiam dan sumua mata menuju ke arahku, wanita itupun terus menangis.
"Bicaralah, kenapa kau terus menangis" pujuk pria bule itu.
"Kamu menipunyakan?" kata pria yang satu itu.
"Sudah kita lapor MP saja!" kata pria yang lain.
"Hey! jangan sembarangan kamu!" ucap pria bule itu.
"Ayolah sayang, kenapa kamu menangis? tadikan kamu yang memaksa aku untuk menidurimu?" ucap si pria bule itu.
"Kamu kenapa? kamu ditipunya?" ucap pria lain.
"Ayo bicaralah?" ucap yang lain lagi.
"Dia tidak memberikan arlojinya padaku!" Jawab wanita itu.
"Aku tidak ada berjanji untuk memberikan arlojiku padamu?" Ucap pria bule itu keheranan.
"Aku sudah membayarmu sesuai kesepakatan harga, dan aku membayarmu juga dengan harga double," kata pria bule tadi.
"Kamu menipunyakan?" ucap salah seorang pria lain.
"Sudahlah kita lapor MP saja!" Jawab pria lain.
"jangan sembarangan kamu!" Ucap si bule lagi dengan nada sedikit kesal.
Aku terus memperhatikan mereka, dan akhirnya salah seorang dari pria itu membawa wanita itu pergi, "sudahlah mari kita pergi" kata pria itu.
Kemudia merekapun pergi dan pria bule itu kembali masuk ke kamarnya.
Setelah semua berlalu akupun masuk ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam, aku melanjutkan pekerjaanku, setelah semua bahan berita selesai ku buat, akupun mengirimnya melalui e-mail.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang semangkin larut dan tubuhkupun sudah sangat letih, aku segera membereskan semua pekerjaanku, kemudian aku habiskan kopi yang tersisa lalu aku menuju kepembaringan untuk beristirahat.
Rio dan temannya belum juga kembali, sementara mataku sudah sangatlah berat, tidak mungkin aku menunggu dia pulang.
"Ah, lebih baik aku segera tidur saja," ungkapku.
Akupun memadamkan semua lampu kamar dan aku bergegas tidur di pembaringan, udara malam yang sedikit panas, membuat udara dingin dari AC terasa sidikit kurang cukup dan membuatku menjadu gerah.
Sudah sampai hari ini perang di Kandahar belum berhenti juga, demikian juga di kota-kota lain di Afganistan.
Sementara para elit-elitnya masih berdiskusi dimeja perundingan yang di bantu oleh organisasi bangsa-bangsa, entah apa yang akan keluar keputusan dari sana yang jelas semua pihak yang bertikai belum mengakhiri pertempuran.
Masyarakatpun sangat berharap agar perang segera berakhir dan hidup damai kembali seperti mana kehidupan normal lainnya.